Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Apakah Rashford Jadi Masalah Utama Lini Serang MU pada 2026/2027?

6 min read
Apakah Rashford Jadi Masalah Utama Lini Serang MU pada 2026/2027?
potret Old Trafford, markas Manchester United (unsplash.com/Samuel Regan-Asante)
  • Manchester United memulai Premier League 2026/2027 dengan 5 poin dari lima laga dan berada di peringkat ke-12, setelah lini serang dinilai tidak efisien, termasuk saat melawan Fulham.
  • Kembalinya Marcus Rashford membuat Matheus Cunha dimainkan sebagai false-nine dan Benjamin Sesko lebih sering menjadi cadangan, sehingga ancaman vertikal serta keseimbangan serangan MU berkurang.
  • Rashford mencatat dribel dan kreasi peluang positif, tetapi belum menyumbang gol atau assist; Carrick tetap memainkannya karena kebutuhan lebar permainan, kecepatan, dan pertimbangan ruang ganti.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Lini serang Manchester United lagi-lagi dikritik akibat performa buruk melawan Fulham pada pekan kelima English Premier League (EPL) 2026/2027. Meski menguasai jalannya pertandingan, serangan Setan Merah tidak efisien dan tampak buntu. Marcus Rashford menjadi salah satu pemain yang disorot akibat membuang dua peluang emas dalam laga itu.

Sejak kembali dari masa peminjaman di Aston Villa dan FC Barcelona, penyerang Inggris ini mengubah dinamika serangan yang sebelumnya diharapkan tampil lebih mengancam. Perubahan peran beberapa pemain demi mengakomodasi sang pemain justru memicu ketidakseimbangan taktis di lapangan. Lantas, apakah Rashford masih pantas dipasang sebagai starting line-up MU?

  1. 1. Kedatangan Marcus Rashford membuat Matheus Cunha bermain sebagai false-nine

    Kembalinya Marcus Rashford ke Manchester United pada 2026/2027 setelah menjalani masa peminjaman selama 18 bulan memicu perdebatan. Banyak suporter beranggapan, kehadirannya mengganggu chemistry yang sudah terbangun antara Matheus Cunha, Bryan Mbeumo, dan Benjamin Sesko. Demi memberikan posisi favorit di sayap kiri kepada Rashford, Pelatih Michael Carrick menggeser Cunha sebagai false-nine, sementara Sesko lebih sering masuk sebagai pemain pengganti.

    Keputusan menempatkan Cunha sebagai penyerang semu hingga pekan kelima Premier League terbukti tidak berjalan dengan optimal. Skema ini membatasi kreativitas Cunha yang pada musim lalu berhasil mencetak 9 gol dari 32 penampilan bersama klub. Peran terstruktur sebagai false-nine mengikis keleluasannya saat bergerak dari sisi kiri menuju area tengah.

    Perubahan peran tersebut juga berdampak buruk pada ketiadaan ancaman serangan vertikal menuju jantung pertahanan lawan. Kecenderungan alami Cunha yang selalu bergerak mendekati bola membuat lini depan MU kekurangan sosok penyerang yang disiplin mengokupasi bek lawan. Tanpa adanya pemain yang mengancam ruang kosong di belakang garis pertahanan, benteng belakang musuh tidak terdorong mundur sehingga serangan tim kehilangan daya ledak.

    Kompromi taktikal ini akhirnya memberikan dampak yang terlihat terhadap kemerosotan performa kolektif MU di Premier League. Setan Merah mencatatkan start terburuk mereka sejak 2014/2015 akibat lini serang tidak optimal dalam mengeksploitasi lawan. Perolehan minim berupa 5 poin dari 5 pertandingan awal membuat mereka kini tertahan di peringkat ke-12 klasemen sementara.

  2. 2. Meski punya catatan apik dalam hal menyerang, Marcus Rashford belum cetak gol maupun assist

    Penampilan Marcus Rashford sejak kembali ke Old Trafford memperlihatkan paradoks antara kualitas individu dan kurangnya efektivitas permainan. Penyerang berusia 28 tahun ini masih membuktikan keunggulan kecepatan serta akselerasinya dalam membongkar pertahanan lawan. Dilansir The Athletic, dalam 3 penampilan pertamanya di Premier League, ia mencatatkan 6 dribel sukses dan hanya kalah dari lima pemain seperti Mathys Tel dengan 10 dribel serta Omar Marmoush dengan 7 dribel.

    Tingkat kreativitas Rashford juga tergolong tinggi karena ia berhasil menciptakan 8 peluang dalam kurun waktu pertandingan yang sama. Catatan kreasi peluang ini sejajar dengan Bruno Fernandes serta hanya berada di bawah Rayan Cherki dan Morgan Rogers dengan 10 peluang, dan James McAtee dengan 9 peluang. Selain itu, kerja sama di sisi kiri antara Rashford dan Luke Shaw terbilang hidup bagi Setan Merah.

    Kombinasi Rashford dan Shaw mencatatkan 57 kali operan dalam 3 laga awal yang menjadi angka terbanyak kedua di skuad. Kedua pemain tersebut masing-masing menyumbangkan 5 progresif umpan satu sama lain untuk mengalirkan bola ke depan secara efektif. Rekan setimnya, Harry Maguire, turut menegaskan jika Rashford tetap menjadi aset berharga bagi klub jika fokusnya terjaga.

    Catatan positif tersebut tidak menutup kenyataan bahwa sang pemain masih memiliki kelemahan. Rashford belum menyumbangkan satu pun gol maupun assist dari lima laga Premier League. Kurangnya ketenangan di depan gawang terlihat jelas ketika menghadapi Fulham saat dua peluang matangnya terbuang sia-sia akibat tembakan lurus ke Bernd Leno dan tendangan yang melambung.

  3. 3. Ada beberapa faktor yang membuat Michael Carrick masih percaya dengan Marcus Rashford

    Michael Carrick memiliki pandangan khusus yang membuatnya terus memercayakan posisi utama kepada Marcus Rashford di sayap kiri. Carrick memandang kehadiran sang pemain layaknya rekrutan baru yang mampu memberikan dampak besar bagi tim. Jajaran kepelatihan meyakini, potensi besar yang pernah membuahkan 30 gol pada 2022/2023 masih tersimpan dalam diri sang pemain.

    Faktor pengelolaan ruang ganti juga menjadi pertimbangan krusial bagi Carrick dalam mengambil keputusan pemilihan pemain utama. Sang pelatih berupaya keras mengomodasi dua pemain bintang, Matheus Cunha dan Rashford, secara bersamaan dalam satu formasi. Langkah diplomatis ini diambil demi menghindari dari risiko timbulnya keretakan atau tensi tinggi di ruang ganti apabila salah satu dari mereka dicadangkan.

    Kebutuhan taktis akan lebar lapangan serta akselerasi 1 lawan 1 menjadi alasan kuat lainnya di balik keputusan Carrick. Lini tengah MU yang diisi Kobbie Mainoo, Youri Tielemans, dan Bruno Fernandes cenderung bergerak lambat serta kurang dinamis dalam membongkar pertahanan lawan. Kehadiran Rashford diyakini memberikan kecepatan dan lebar posisi yang dibutuhkan untuk menembus tembok rapat pertahanan musuh.

  4. 4. Haruskah Michael Carrick mencadangkan Marcus Rashford dan mulai memainkan Benjamin Sesko?

    Jawabannya adalah ya, Michael Carrick harus berani mengambil keputusan taktikal yang tegas demi mengembalikan performa tim. Memaksa struktur permainan hanya demi mengakomodasi Marcus Rashford dan Matheus Cunha secara bersamaan terbukti memicu kompromi yang merusak keseimbangan. Kehadiran Benjamin Sesko sangat dibutuhkan sebagai penyerang tengah untuk menjadi titik acuan di dalam kotak penalti lawan.

    Profil Sesko sebagai penyerang murni terbukti ampuh saat ia masuk sebagai pemain pengganti melawan Everton dan mencetak gol sundulan pada menit ke-88. Ancaman konstan Sesko di belakang garis pertahanan lawan akan memaksa bek musuh mundur sekaligus membuka ruang area paruh lapangan bagi Bruno Fernandes dan pemain sayap. Kondisi ini berbanding terbalik dengan peran false-nine Matheus Cunha yang justru membuat area tengah kian padat karena sang pemain sering turun mendekati bola.

    Mengembalikan Cunha ke peran aslinya sebagai penyerang kiri akan mengembalikan ledakan performanya. Dari posisi asal tersebut, Cunha dapat melakukan akselerasi berbahaya ke dalam kotak penalti serta melepaskan tembakan jarak jauh yang menjadi keunggulannya. Langkah ini akan meningkatkan efektivitas lini serang secara keseluruhan tanpa harus mengorbankan potensi individu sang pemain.

    Formasi lini depan ideal MU secara taktis harus menempatkan Sesko di tengah, Mbeumo di kanan, serta membiarkan posisi kiri diperebutkan secara objektif oleh Cunha dan Rashford. Susunan pemain utama tidak boleh diperlakukan sebagai area khusus bintang yang wajib menampung seluruh nama besar tanpa memperhatikan kebutuhan strategi. Penerapan rotasi yang sehat juga menjadi solusi tepat mengingat Sesko sempat mengalami masalah kebugaran.

    Secara taktikal, Marcus Rashford bukanlah penyebab tunggal masalah, melainkan keberanian Michael Carrick dalam menyusun komposisi tim yang menjadi kunci utama. Mengembalikan Benjamin Sesko sebagai penyerang nomor sembilan murni dan merotasi lini depan secara objektif akan menjadi langkah vital untuk mengembalikan ketajaman Setan Merah.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More