Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Arsenal Pilih Trofi Premier League atau Liga Champions?

Arsenal Pilih Trofi Premier League atau Liga Champions?
Penyerang Arsenal, Viktor Gyokeres (14) mendapat tekanan dari kiper Sporting Lisbon, Rui Silva (1) dalam laga leg kedua perempat final Liga Champions di Emirates Stadium, London utara, 15 April 2026. (Foto: AFP/Ben STANSALL)
Intinya Sih
  • Arsenal mengalami penurunan performa di akhir musim 2025/26 dan diminta fokus pada satu kompetisi, namun Arteta menegaskan timnya tetap ingin menang di setiap laga.
  • Arteta menyebut inkonsistensi performa Arsenal disebabkan badai cedera pemain utama seperti Kai Havertz dan Martin Odegaard yang sering absen sepanjang musim.
  • Perbandingan laga Atletico vs Arsenal dengan PSG vs Bayern dijelaskan Arteta sebagai akibat perbedaan kondisi fisik dan kebugaran pemain di masing-masing tim.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - Performa Arsenal belakangan sedang jadi sorotan karena menurun secara drastis di masa kritis kompetisi musim 2025/26. Mereka sering membuang poin dan kerap susah menang, yang mengindikasikan pendapat para pengamat tentang "kehabisan bensin" menjadi valid.

Ada yang berpendapat, Arsenal bisa kembali ke level terbaiknya, namun harus berkorban. Sejumlah pihak meminta agar Arsenal fokus ke salah satu kompetisi, tak mengejar Premier League serta Liga Champions secara bersamaan.

Memang, posisi The Gunners di kedua kompetisi itu cukup kritis. Arsenal saat ini ada di puncak klasemen Premier League, namun bisa digusur lagi oleh Manchester City karena masih punya satu laga tabungan. Sementara, di Liga Champions mereka kewalahan menghadapi Atletico Madrid.

"Lapar, lapar untuk menang. Cuma itu. Kami mau berkompetisi, menyiapkan diri, dan meraih target yang sudah dicanangkan sejak awal. Fokus ke Fulham, lalu lapar. Lapar bermain, berkompetisi, menang, dan mendekat ke mimpi kami," ujar Arteta, dilansir Daily Mirror.

1. Arsenal bukan cuma fokus ke satu atau dua trofi

Gelandang Arsenal, Declan Rice (AFP / Ben Stansall)
Gelandang Arsenal, Declan Rice (AFP / Ben Stansall)

Menurut Arteta, Arsenal tidak fokus mengejar satu atau dua trofi tertentu. Tapi mereka ingin menyelesaikan setiap laga dengan kemenangan, sehingga membuka peluang untuk menjadi juara di berbagai kompetisi yang diikutinya.

"Kami sudah melakukannya selama sembilan setengah bulan, jadi paham harus fokus ke satu laga. Setiap pertandingan cukup sulit dan menantang dengan tingkatan yang berbeda. Jadi, yang membantu pemain adalah: sekarang, Fulham, hanya ada Fulham. Fokus saja ke sana, sisanya kami urus belakangan," kata pria Spanyol tersebut.

2. Arsenal goyah karena didera badai cedera

Para pemain Arsenal merayakan gol Kai Havertz ke gawang Sporting Lisbon (AFP / Filipe Amorim)
Para pemain Arsenal merayakan gol Kai Havertz ke gawang Sporting Lisbon (AFP / Filipe Amorim)

Arteta berkilah, Arsenal belakangan melempem karena susunan pemainnya yang tak konsisten. Sejumlah pemain utama, kadang bisa main, tapi juga tidak karena mengalami cedera sepanjang musim ini.

Contohnya adalah Kai Havertz, yang sempat pulih dan bermain, kini kembali mengalami cedera, hingga harus absen di laga melawan Fulham. Kemudian, Martin Odegaard juga mengalami hal serupa sepanjang musim ini, yang membuatnya kesulitan masuk tim utama.

3. Klaim PSG vs Bayern beda situasi

Bomber Arsenal, Kai Havertz, usai mencetak gol ke gawang Sporting Lisbon (AFP / Patricia De Melo Moreira)
Bomber Arsenal, Kai Havertz, usai mencetak gol ke gawang Sporting Lisbon (AFP / Patricia De Melo Moreira)

Situasi tersebut, bagi Arteta, menjadi alasan mengapa laga Atletico versus Arsenal berbanding terbalik dengan Paris Saint-Germain kontra Bayern Munich. Ketika PSG vs Bayern bisa menghasilkan sembilan gol di semifinal leg 1, maka Atletico kontra Arsenal cuma dua dan itu pun dari eksekusi penalti.

"Mungkin, Bayern vs PSG jadi laga terbaik yang pernah saya saksikan, mempertimbangkan kualitas timnya, terutama individu. Saya belum pernah menyaksikan laga dengan tensi seperti itu. Tapi, ketika melihat menit main dan kebugaran pemainnya, saya gak kaget. Bagaikan membandingkan dua dunia yang berbeda," ujar pria Spanyol tersebut.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Satria Permana
EditorSatria Permana
Follow Us

Related Articles

See More