Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Bagaimana DIIV Mengunci Jiwa Soundrenaline Sana Sini Jakarta 2026

Bagaimana DIIV Mengunci Jiwa Soundrenaline Sana Sini Jakarta 2026
Soundrenaline Sana Sini Jakarta 2026 hari kedua. (IDN Times/Ilyas Mujib)
Intinya Sih
  • DIIV menutup hari kedua Soundrenaline Sana Sini Jakarta 2026 dengan penampilan shoegaze magis yang memukau ribuan penonton melalui permainan instrumen intens dan minim interaksi verbal.
  • The SIGIT menghadirkan kontras energik lewat performa hard rock penuh agresi, interaksi hangat, serta aksi moshing massal yang membakar suasana di panggung utama sebelum DIIV tampil.
  • Soundrenaline 2026 sukses menciptakan ekosistem festival urban lintas lokasi dengan kurasi musisi internasional dan lokal yang solid, merayakan keberagaman subkultur musik di jantung kota Jakarta.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Di bawah kepungan langit Jakarta Selatan yang gerah pada Minggu (19/7/2026), kuartet shoegaze asal Brooklyn, DIIV, memamerkan bagaimana sihir sonika kelas atas bekerja.

Menempati kasta tertinggi sebagai headliner yang menutup hari kedua Soundrenaline Sana Sini Jakarta 2026, band asal Amerika Serikat ini sukses menyulap panggung terbuka Taman Kota Peruri Stage menjadi ruang katarsis yang magi.

Lanskap musik mereka yang penuh gema berhasil melarutkan ribuan pasang mata ke dalam larutan distorsi yang pekat. Penonton dibuat terpaku, hanyut dalam dimensi lain sejak band ini mengambil alih instrumen di atas panggung.

Tepat pukul 22.15 WIB, Zachary Cole Smith (vokal, gitar), Andrew Bailey (gitar), Colin Caulfield (bass, keyboard, vokal latar), dan Ben Newman (drum) langsung menghentak lewat nomor pembuka "Horsehead". Hantaman trek dari album Deceiver (2019) ini seketika menyemburkan permainan gitar penuh reverb yang berlapis rapat.

Melodi dreamy dan ritme drum bernuansa post-punk yang presisi berkelindan memacu adrenalin malam itu. Gemuruh riuh tepuk tangan langsung pecah dari para pemuja distorsi yang telah mengular memadati area panggung sejak sore hari demi debut perdana DIIV di ibu kota.

Alih-alih mengandalkan obrolan basa-basi, DIIV memilih membiarkan untaian instrumennya yang memegang kendali penuh atas psikologis massa. Sepanjang konser, Cole dan kawan-kawan secara ekstrem meminimalkan interaksi verbal dan membiarkan musik berbicara jujur apa adanya.

Ketegangan yang asik dan dingin ini justru memicu atmosfer intim ketika set berlanjut mulus ke lagu "Like Before You Were Born". Keadaan makin panas saat mereka menyusulnya dengan "Brown Paper Bag", nomor esensial dari album teranyar mereka, Frog in Boiling Water (2024).

"Hello, Jakarta," kata Cole menyapa singkat penonton di paruh konser.

Sikap cuek khas kancah alternatif New York itu sama sekali tidak mereduksi antusiasme gila para penggemar. Ribuan penonton tetap bergeming menikmati setiap jengkal lagu sambil bergoyang tipis mengikuti nuansa musik hipnotik khas DIIV.

Sederet repertoar favorit seperti "Take Your Time", "Taker", hingga lagu wajib "Doused" digelontorkan tanpa ampun malam itu. Rangkaian lagu tersebut sukses mempertegas takhta dan karakter shoegaze modern yang menjadi identitas utama mereka.

Pertunjukan malam itu akhirnya mencapai kulminasi tertinggi ketika trio lagu populer mereka dimainkan secara berurutan. Rangkaian lagu "Follow", "Between Tides", dan ditutup dengan hantaman distorsi masif "Blankenship" meninggalkan gema yang membekas lama di benak publik ibu kota.

IMG_7775.jpeg
Soundrenaline Sana Sini Jakarta 2026 hari kedua. (IDN Times/Ilyas Mujib)

Antitesis Liar dari Panggung M Bloc

Keberhasilan DIIV mengunci emosi penonton di panggung utama menjadi kontras yang menarik ketika bersanding dengan apa yang terjadi di panggung yang sama sebelumnya. Di sana, The SIGIT, monumen hidup unit rock asal Bandung, menyajikan antitesis yang bising dan penuh agresi.

Begitu petikan kasar lagu "Detourn" menyalak, Rektivianto Yoewono (vokal/gitar) dan Farri Icksan Wibisana (gitar), Absar Lebeh (gitar), Aghan Sudrajat (bas), dan Raveliza (drum) langsung membakar arena. Tanpa ampun, mereka menghajar tensi lewat repetoar bertenaga tinggi seperti "Son of Sun", "Black Amp, single anyar "Bread & Circus", "Another Day", hingga "Ring of Fire".

Area depan panggung seketika berubah menjadi lautan manusia yang melakukan aksi moshing massal dengan liar. Para penggemar tampak melompat mengikuti irama, bahkan tak sedikit yang sing-along hampir di semua lagu.

Kontras dengan keheningan magis DIIV, Rekti justru melempar interaksi hangat yang membakar kedekatan di penghujung set. Sapaan akrab tersebut langsung disambut sorakan meriah dari penonton yang kompak bernyanyi bersama.

“Yah kita senang bisa main di Soundrenaline kali ini, kita jadi mengingat penampilan pertama kali diundang tampil saat Soundrenaline di Bali pada 2009 kalo gak salah” kata Rekti, usai mentas.

"Iya itu 2009 pas pertama kali juga berkesan," sahut Farri.

Ledakan pamungkas akhirnya pecah secara masif lewat nomor lagu kebangsaan mereka yang berjudul "All the Time". Setelah itu, ketukan rumit bin megah dari lagu "Conundrum" resmi menyudahi penampilan berwibawa mereka malam itu.

IMG_7773.jpeg
Soundrenaline Sana Sini Jakarta 2026 hari kedua. (IDN Times/Ilyas Mujib)

Manifestasi Sempurna Festival Urban

Performa impresif, terutama magnet utama dari DIIV, menjadi bukti sahih keberhasilan konsep "Sana Sini" yang diusung Soundrenaline 2026. Dengan memecah fokus festival ke dalam lima titik ikonik, pergelaran tahun ini sukses menciptakan ekosistem urban yang hidup.

Pengunjung diajak menjelajahi Taman Kota Peruri, Ina Hall Peruri, M Bloc Livehouse, COMA Bar, hingga Melting Pop. Masing-masing venue menawarkan pengalaman berbeda, mulai dari panggung terbuka berskala besar hingga pertunjukan yang intim.

Kurasi penampil lintas genre untuk pergelaran Soundrenaline tahun ini juga terasa sangat dikurasi dengan sangat solid. Selain menyaksikan magis lanskap suara DIIV dan kebuasan The SIGIT, ekspektasi para penikmat musik dipuaskan kehadiran musisi internasional seperti .

Nama-nama besar seperti Tahiti 80, Last Dinosaurs, dan The Beths tampil memukau di hadapan publik Jakarta. Kekuatan musisi global tersebut berpadu sempurna dengan deretan talenta domestik terbaik yang tampil tidak kalah memikat.

Panggung festival dimeriahkan Efek Rumah Kaca, Seringai, The Adams, Reality Club, The Panturas, Elephant Kind, Sal Priadi, Danilla, Alkateri, Float, Ali, hingga Naykilla. Berbagai kolaborasi eksklusif yang hanya dapat disaksikan selama festival berlangsung turut melengkapi pengalaman luar biasa ini.

Soundrenaline 2026 pada akhirnya tidak sekadar menggelar rentetan konser musik di tengah kota. Mereka berhasil merayakan keberagaman subkultur musik dan mempertemukan berbagai komunitas kreatif dengan sangat terhormat.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More