Di bawah kepungan langit Jakarta Selatan yang gerah pada Minggu (19/7/2026), kuartet shoegaze asal Brooklyn, DIIV, memamerkan bagaimana sihir sonika kelas atas bekerja.
Menempati kasta tertinggi sebagai headliner yang menutup hari kedua Soundrenaline Sana Sini Jakarta 2026, band asal Amerika Serikat ini sukses menyulap panggung terbuka Taman Kota Peruri Stage menjadi ruang katarsis yang magi.
Lanskap musik mereka yang penuh gema berhasil melarutkan ribuan pasang mata ke dalam larutan distorsi yang pekat. Penonton dibuat terpaku, hanyut dalam dimensi lain sejak band ini mengambil alih instrumen di atas panggung.
Tepat pukul 22.15 WIB, Zachary Cole Smith (vokal, gitar), Andrew Bailey (gitar), Colin Caulfield (bass, keyboard, vokal latar), dan Ben Newman (drum) langsung menghentak lewat nomor pembuka "Horsehead". Hantaman trek dari album Deceiver (2019) ini seketika menyemburkan permainan gitar penuh reverb yang berlapis rapat.
Melodi dreamy dan ritme drum bernuansa post-punk yang presisi berkelindan memacu adrenalin malam itu. Gemuruh riuh tepuk tangan langsung pecah dari para pemuja distorsi yang telah mengular memadati area panggung sejak sore hari demi debut perdana DIIV di ibu kota.
Alih-alih mengandalkan obrolan basa-basi, DIIV memilih membiarkan untaian instrumennya yang memegang kendali penuh atas psikologis massa. Sepanjang konser, Cole dan kawan-kawan secara ekstrem meminimalkan interaksi verbal dan membiarkan musik berbicara jujur apa adanya.
Ketegangan yang asik dan dingin ini justru memicu atmosfer intim ketika set berlanjut mulus ke lagu "Like Before You Were Born". Keadaan makin panas saat mereka menyusulnya dengan "Brown Paper Bag", nomor esensial dari album teranyar mereka, Frog in Boiling Water (2024).
"Hello, Jakarta," kata Cole menyapa singkat penonton di paruh konser.
Sikap cuek khas kancah alternatif New York itu sama sekali tidak mereduksi antusiasme gila para penggemar. Ribuan penonton tetap bergeming menikmati setiap jengkal lagu sambil bergoyang tipis mengikuti nuansa musik hipnotik khas DIIV.
Sederet repertoar favorit seperti "Take Your Time", "Taker", hingga lagu wajib "Doused" digelontorkan tanpa ampun malam itu. Rangkaian lagu tersebut sukses mempertegas takhta dan karakter shoegaze modern yang menjadi identitas utama mereka.
Pertunjukan malam itu akhirnya mencapai kulminasi tertinggi ketika trio lagu populer mereka dimainkan secara berurutan. Rangkaian lagu "Follow", "Between Tides", dan ditutup dengan hantaman distorsi masif "Blankenship" meninggalkan gema yang membekas lama di benak publik ibu kota.
