Carrick Effect: MU Jadi Kuburan Manajer Top Premier League

- Michael Carrick membuat Manchester United menaklukkan Arsenal 3-2, merusak rekor defensif Mikel Arteta yang tak pernah kebobolan lebih dari dua gol dalam lebih dari 100 pertandingan Premier League.
- Carrick menjadi mimpi buruk bagi Arteta dan satu-satunya manajer yang selalu menang setiap kali berhadapan dengannya, termasuk mengalahkan Pep Guardiola dalam Derby Manchester.
- Sebagai caretaker MU, Carrick memimpin tim dalam lima pertandingan dengan hasil empat kemenangan dan satu hasil imbang, tanpa noda kekalahan, dengan pendekatan sederhana, disiplin, dan efisien.
Jakarta, IDN Times - Nama Michael Carrick kembali bergaung di jagat bal-balan Inggris. Bukan sebagai legenda lapangan tengah Manchester United, melainkan sebagai sosok tak terduga yang gemar menjatuhkan pelatih-pelatih kelas dunia dari pinggir lapangan.
Terbaru, Carrick membuat Emirates Stadium terdiam dalam duel lanjutan Premier League 2025/26. Manchester United asuhannya menaklukkan Arsenal 3-2, Minggu (25/1/2026) WIB, dalam laga yang awalnya tampak bakal menjadi milik tuan rumah.
Sebelum laga ini, pasukan Mikel Arteta punya rekor defensif nyaris sempurna. Mereka tercatat tak pernah kebobolan lebih dari dua gol dalam lebih dari 100 pertandingan Premier League, hingga Carrick datang merusaknya.
1. Carrick acap jadi batu sandungan Arteta
Bagi Arteta, ini bukan cerita baru. Pada 2021, ketika Carrick pertama kali dipercaya sebagai manajer interim MU menggantikan Ole Gunnar Solskjaer, Arsenal juga tumbang dengan sekor serupa di Old Trafford.
Sejak saat itu, Carrick menjadi mimpi buruk bagi pelatih asal Spanyol tersebut. Carrick tercatat sebagai satu-satunya manajer yang selalu menang setiap kali berhadapan dengan Arteta, dengan minimal dua pertemuan. Rekor bersih, tanpa cela.
Tak berhenti di situ, sebelumnya Pep Guardiola juga masuk daftar korban Carrick. Eks pelatih Barcelona itu harus mengakui keunggulan MU dalam Derby Manchester yang berakhir dengan skor 2-0, hasil yang membuat banyak alis terangkat.
2. Guardiola hingga Thomas Tuchel sempat dibuat frustrasi
Mengalahkan Guardiola bukan perkara biasa. ManCity datang dengan status raksasa Premier League, namun Carrick mampu meredam dominasi mereka dengan pendekatan sederhana, disiplin, dan efisien, ciri khas manajer yang paham betul DNA klubnya.
Kilas balik ke periode pertama Carrick sebagai caretaker juga menyimpan cerita menarik. Laga debutnya langsung berujung kemenangan 2-0 atas Villarreal di Liga Champions. Saat itu, tim asal Spanyol tersebut ditangani Unai Emery, pelatih sarat pengalaman Eropa.
Laga kedua mempertemukan Setan Merah dengan Chelsea. Meski hanya berakhir imbang 1-1, Carrick sukses membuat tim asuhan Thomas Tuchel frustrasi dan kehilangan ritme permainan sepanjang laga.
3. Carrick bawa MU tampil impresif setiap jadi pelatih interim
Jika dihitung secara keseluruhan, Carrick telah memimpin MU dalam lima pertandingan sebagai caretaker atau manajer interim. Hasilnya impresif, yakni empat kemenangan dan satu hasil imbang, tanpa noda kekalahan.
Yang membuat kisah ini menarik bukan hanya hasil, melainkan caranya. Carrick tak tampil dengan gaya berlebihan. Ia tenang, hemat kata, namun tajam membaca situasi seperti saat masih menjadi jenderal lapangan tengah MU.
Kini, publik Old Trafford kembali bertanya. Apakah Michael Carrick hanya sekadar solusi darurat yang kebetulan bersinar, atau justru calon pemimpin besar yang selama ini luput dari sorotan Manchester United? Jawabannya mungkin segera datang, seiring laga demi laga yang terus menguji ketajamannya.













