Jasa Orang Terkaya Dunia Bambang Hartono dalam Kebangkitan Como 1907

- Michael Bambang Hartono, pengusaha besar Indonesia dan pemilik Grup Djarum, meninggal dunia di Singapura pada 19 Maret 2026 tanpa keterangan resmi penyebab kematian.
- Di bawah arahan Hartono bersaudara, Como 1907 dibeli dari kondisi bangkrut pada 2019 dan direformasi secara finansial serta infrastruktur hingga kembali stabil.
- Como 1907 kini sukses menembus Serie A dan bersaing di papan atas, bahkan berpeluang tampil di kompetisi Eropa berkat manajemen solid serta dukungan kuat dari Grup Djarum.
Jakarta, IDN Times - Pemilik Grup Djarum, Michael Bambang Hartono, tutup usia pada Kamis (19/3/2026). Bambang Hartono meninggal di Singapura pada pukul 13.15 waktu setempat dan penyebabnya sampai sekarang belum dirilis ke publik.
Bambang Hartono dikenal sebagai salah satu pengusaha terkaya di Indonesia versi Forbes selama bertahun-tahun, bersama adiknya, Robert Budi Hartono. Sebagai pengusaha rokok lewat PT Djarum dan pemilik mayoritas saham Bank Sentral Asia (BCA), Bambang bersama Robert ternyata juga punya jasa besar di salah satu klub Serie A saat ini, Como 1907.
1. Beli dalam kondisi bangkrut dan punya utang
Grup Djarum di bawah arahannya, membeli Como 1907 pada April 2019 dengan harga sekitar 850 ribu euro atau setara Rp14 miliar dalam kurs saat itu. Nilai ini belum termasuk utang yang dimiliki oleh Como 1907.
Ketika dibeli, Como 1907 memang di ambang kebangkrutan. Mereka juga berada di Serie D saat itu dan misi dari Hartono bersaudara adalah memulihkan keuangan Como 1907 terlebih dulu.
Mirwan Suwarso, salah satu orang kepercayaan Hartono bersaudara, akhirnya didaulat jadi perwakilan di Como dan kini menjabat sebagai Presiden Klub. Ketika diwawancarai IDN Times pada 2024 lalu, Mirwan mengakui jika reformasi keuangan jadi fokus Como 1907 saat itu. Baru setelahnya, menurut Mirwan, aspek prestasi didorong agar bisa kembali bermain di Serie A.
"Saya ingat sih, dari 2019 pas kami beli itu, satu bayar utang. Kedua, kami memastikan gaji lancar, ketiga memberikan tempat latihan yang tetap. Jadi di Serie C itu kami benar-benar mulai merapikan infrastruktur," kata Mirwan kala itu.
2. Awalnya diharapkan jadi hub pemain Indonesia di Eropa

Pembelian Como 1907 juga mengusung misi mulia karena Djarum ingin menjadikannya sebagai kolam dari pemain Indonesia yang mau bermain di luar negeri. Lewat program Garuda Select, Mirwan menilai Como 1907 bisa menjadi rumah yang nyaman dan aman buat pemain Indonesia.
"Kebetulan waktu itu kan kita sebenarnya mencari tempat buat menempatkan pemain Garuda Select supaya punya pengalaman bertanding kompetisi yang benar. Sehingga kita mencari kota yang dekat dengan kota besar. Kenapa? Ya, saya tidak mau jalan-jalan ke desa lah, capek. Kan sudah mengalami di Birmingham tuh di Garuda Select. Kapok saya. Kota besar saja lah begitu. Makanya kita lihat-lihat yang dekat sama Milan, dekat Roma begitu, dan kita tidak mau keluar duit banyak, kita cari yang bangkrut," ujar Mirwan.
3. Kini mulai mengancam dan bersaing di papan atas Serie A
Dimulai dari administratif, perlahan Como 1907 mulai melakukan reformasi ke sektor teknis. Hasilnya langsung terlihat. Como 1907 merangkak, dari Serie C, ke B, hingga menembus level tertinggi.
Bahkan, di musim ini Como 1907 berpeluang main di kompetisi Eropa. Mereka saat ini duduk di peringkat empat, zona Liga Champions.
Mirwan di kesempatan yang sama, sebenarnya kala itu hanya menargetkan Como 1907 bisa main dalam kompetisi Eropa, tak peduli kastanya apa. Proyeksinya pun masih panjang, yakni lima tahun. Namun, hal tersebut bisa terealisasi musim ini.
"Dalam lima tahun, kalau bisa Como masuk kompetisi Eropa. Jadi, itu target yang kita tetapkan bagi tim pelatih," ujar Mirwan.
Como 1907 bahkan dianggap sebagai tim kecil yang palsu oleh eks pelatih Juventus, Igor Tudor. Ketika Juventus jumpa Como 1907, Tudor merasa sebenarnya menghadapi tim yang kaya karena pemiliknya merupakan salah satu dari 200 orang terkaya di dunia versi Forbes.
"Pelatihnya (Cesc Fabregas) bisa pilih pemain sesukanya karena pemiliknya kaya. Mereka tim kecil yang palsu," ujar Tudor saat itu.

















