Cody Gakpo, Kambing Hitam Baru dalam Krisis Liverpool pada 2025/2026

- Teknik mudah ditebak dan keputusan spekulatif membuat Cody Gakpo banjir kritik, dengan penurunan performa yang signifikan.
- Penurunan performa Cody Gakpo tak bisa dipisahkan dari masalah kolektif Liverpool, termasuk perubahan besar dalam struktur tim dan sistem permainan Arne Slot.
- Di tengah krisis Liverpool, Cody Gakpo menjadi sasaran narasi tidak adil dari suporter, meskipun kontribusinya masih tercatat dalam statistik.
Performa Liverpool pada 2025/2026 bisa dibilang jauh dari kata konsisten. Usai memenangi laga pada matchday ke-7 Liga Champions Eropa (UCL) melawan Olympique Marseille dengan skor 3-0, mereka harus kalah dramatis 3 hari kemudian pada pekan ke-23 English Premier League (EPL) atas AFC Bournemouth dengan skor 2-3. Dua hasil kontras ini menjadi potret paling jujur tentang Liverpool musim ini yang kerap berpindah dari dominan menjadi rapuh hanya dalam hitungan hari.
Situasi tersebut turut menyeret nama Cody Gakpo ke dalam pusaran kritik yang makin keras dari publik Anfield. Winger asal Belanda itu dianggap gagal sebagai tumpuan baru setelah Liverpool kehilangan beberapa figur penting di lini depan. Sempat menjadi harapan baru usai kepergian Luis Diaz ke Bayern Munich, Gakpo kini malah menjadi kambing hitam baru atas performa kolektif Liverpool yang tak kunjung stabil.
1. Teknik yang mudah ditebak serta keputusan spekulatif membuat Cody Gakpo banjir kritik
Penurunan performa Cody Gakpo pada 2025/2026 tidak bisa dilepaskan dari aspek teknisnya yang mudah dibaca lawan. Sejak Arne Slot mengembalikannya ke posisi sayap kiri, Gakpo kembali mengandalkan pola lama dengan cut inside ke kaki kanan. Masalahnya, pola tersebut kini menjadi kebiasaan yang terlalu repetitif, terutama saat Liverpool menghadapi lawan dengan pertahanan blok rendah.
Pada musim sebelumnya, gerakan serupa justru menjadi senjata utama yang menghasilkan banyak gol krusial. Namun, pada musim ini, bek lawan tampak lebih siap menutup ruang tembak dan memaksa Gakpo berhadapan dengan kepadatan pemain di area kiri kotak penalti. Situasi ini membuat serangan Liverpool sering kali terhenti atau berakhir dengan tembakan yang mudah diblok.
Kualitas pengambilan keputusan Gakpo juga mengalami kemunduran yang cukup signifikan. Ia terlalu sering memaksakan tembakan spekulatif dari sudut sempit atau jarak jauh, alih-alih memanfaatkan opsi overlap dari bek kiri. Dalam banyak momen, peluang progresi serangan justru terbuang karena Gakpo memilih solusi individual alih-alih mengoper bola ke rekan tim.
Data The Athletic memperkuat kesan tersebut. Pada 2025/2026, Gakpo mencatatkan expected goals (xG) per tembakan sebesar 0,1, angka terendah sepanjang kariernya di Liverpool. Tingkat konversi golnya juga menurun drastis dari 17,9 persen pada musim sebelumnya menjadi sekitar 9,6 persen, seiring dengan penurunan keberhasilan duel 1 lawan 1 dari 50 persen menjadi 34 persen.
Ironisnya, keterlibatan Gakpo dalam permainan justru meningkat. Ia mencatatkan rata-rata 31 sentuhan di sepertiga akhir dan 6,7 sentuhan di kotak penalti lawan, angka tertinggi selama berseragam The Reds. Namun, tingginya frekuensi keterlibatan tersebut tidak berbanding lurus dengan dampak nyata, sehingga setiap kegagalan terlihat makin mencolok.
Masalah lain yang tak kalah penting adalah minimnya chemistry dengan bek kiri, khususnya Milos Kerkez. Kerkez kerap melakukan overlap dan underlap, tetapi jarang dimaksimalkan oleh Gakpo. Akibatnya, sisi kiri Liverpool kehilangan dinamika dan variasi serangan. Ini bikin Gakpo tampak aktif, tetapi tidak benar-benar efektif.
2. Penurunan performa Cody Gakpo tak bisa dipisahkan dari masalah kolektif Liverpool
Penilaian terhadap Cody Gakpo erat kaitannya dengan perubahan besar dalam struktur tim Liverpool. Kepergian Luis Diaz dan menurunnya performa Mohamed Salah secara signifikan membuat Gakpo naik status dari pencetak gol sekunder menjadi tumpuan utama. Beban ekspektasi ini datang bersamaan dengan kondisi tim yang belum sepenuhnya stabil secara taktis.
Sistem permainan Arne Slot juga berkontribusi besar terhadap persepsi negatif tersebut. Liverpool musim ini kerap kesulitan menciptakan transisi cepat, terutama ketika menghadapi tim yang bertahan dalam blok rendah. Alur serangan yang lambat membuat Gakpo lebih sering menerima bola dalam kondisi statis dan ruang sempit.
Dalam situasi tersebut, Gakpo hampir selalu dipaksa berhadapan dengan 2 hingga 3 pemain lawan. Tanpa dukungan progresi vertikal yang konsisten dari lini tengah, pilihan Gakpo pun menjadi terbatas. Ia harus memilih antara memutar ulang serangan atau mencoba aksi individu untuk menembus kawalan dengan risiko kehilangan bola.
Tidak adanya persaingan sehat di sisi kiri juga memperparah sorotan terhadap performanya. Minimnya alternatif penyerang kiri murni membuat Gakpo hampir selalu menjadi pilihan utama, terlepas dari performa yang sedang menurun. Situasi ini membuat setiap kesalahan tampak lebih besar karena tidak ada rotasi yang meredam eksposur publik.
Distribusi tanggung jawab yang timpang di dalam tim turut membentuk narasi yang tidak sepenuhnya adil. Masalah defensif Liverpool, penurunan kreativitas lini tengah, serta inkonsistensi pemain lain sering kali luput dari sorotan. Sebaliknya, kegagalan mencetak gol atau peluang yang terbuang oleh Gakpo langsung dijadikan titik fokus kemarahan.
Konteks tersebut menunjukkan penurunan performa Gakpo tidak sepenuhnya berdiri sendiri. Kondisi itu berkaitan langsung dengan Liverpool yang masih berada dalam fase adaptasi terhadap perubahan besar di dalam tim. Ketidakseimbangan antara struktur permainan, ritme serangan, dan efektivitas di sepertiga akhir turut membentuk situasi yang memengaruhi performanya.
3. Di tengah krisis Liverpool, Cody Gakpo menjadi sasaran narasi tidak adil dari suporter
Usai kekalahan atas AFC Bournemouth, Cody Gakpo menjadi sasaran empuk kemarahan suporter karena gaya bermainnya yang mudah memicu frustrasi. Kehilangan bola di area berbahaya, tembakan yang melenceng, serta keputusan lambat lebih membekas di ingatan publik dibanding kontribusi kecil yang tidak tercatat di papan skor. Ketika tim menelan kekalahan atau bermain buruk, detail semacam ini cepat membentuk stigma negatif.
Performa kontras dengan 2024/2025 memperparah situasi tersebut. Setelah mencetak 18 gol dan 7 assist, serta mendapatkan kontrak baru berdurasi 5 tahun, ekspektasi terhadap Gakpo melonjak drastis. Ketika performa itu tidak terulang, toleransi publik pun menipis secara signifikan.
Padahal, jika menilik data secara lebih utuh, kontribusi Gakpo tidak sepenuhnya menghilang. Dilansir ESPN, ia masih termasuk pemain dengan kontribusi gol nonpenalti tertinggi pada era Arne Slot dan mencatatkan expected assists (xA) yang cukup tinggi, meski sebagian besar berasal dari peluang berkualitas rendah. Namun, statistik semacam ini jarang menjadi bahan pembelaan di tengah emosi kolektif suporter.
Narasi publik kemudian membingkai Gakpo sebagai simbol kemandekan Liverpool. Ia dijadikan wajah dari masalah yang sebenarnya lebih luas, mulai dari ketidakseimbangan taktik hingga proses adaptasi pemain baru. Dalam situasi seperti ini, sosok yang paling sering terlihat gagal di sepertiga akhir akan selalu menjadi target utama.
Pada akhirnya, penurunan performa Cody Gakpo tidak bisa dinilai secara hitam-putih. Ia memang mengalami regresi teknis, tetapi label kambing hitam yang disematkan kepadanya mencerminkan krisis Liverpool yang jauh lebih kompleks daripada sekadar satu nama di sisi kiri serangan.


















