Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Debut Korea Selatan di Piala Dunia, Tragis tapi Mengubah Sejarah
ilustrasi sebuah stadion sepak bola (unsplash.com/Frank Eiffert)
  • Korea Selatan lolos ke Piala Dunia 1954 setelah menyingkirkan Jepang di kualifikasi yang sarat tensi politik, menjadi debutan Asia di ajang bergengsi tersebut.
  • Akibat keterbatasan dana, skuad Korea Selatan menempuh perjalanan udara selama 64 jam menuju Swiss dan tiba hanya beberapa jam sebelum laga perdana dimulai.
  • Dalam kondisi fisik lelah, Korea Selatan kalah telak dari Hungaria dan Turki tanpa mencetak gol, namun debut ini membuka jalan bagi kebangkitan sepak bola mereka di masa depan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jauh sebelum dikenal sebagai raksasa sepak bola Asia seperti sekarang, Korea Selatan pernah mencatatkan sejarah sebagai salah satu negara Asia yang lolos ke Piala Dunia era awal. Momen bersejarah itu terjadi pada 1954, saat Swiss menjadi tuan rumah. Namun, perjuangan Korea Selatan saat itu dipenuhi berbagai kesulitan.

Datang sebagai tim dari negara yang baru saja hancur akibat Perang Korea (1950–1953), perjalanan para pemain dan staf Korea Selatan ke Eropa dipenuhi berbagai ujian. Mulai dari fase kualifikasi sarat tensi politis, keterbatasan dana, hingga kelelahan fisik. Rekor berhasil diukir, tetapi bukan sesuatu yang membanggakan.

1. Mendapat tiket ke Piala Dunia 1954 setelah menaklukkan Jepang di kandang mereka sendiri

Langkah Korea Selatan menuju Piala Dunia 1954 sudah diwarnai hal politis. Mereka harus melawan Jepang, negara yang pernah menjajah mereka selama 35 tahun. Dilansir Yonhap, karena sentimen anti-Jepang masih sangat kuat, Presiden Korea Selatan saat itu, Syngman Rhee, dengan tegas menolak izin masuk bagi Timnas Jepang ke Korea Selatan. Alhasil, kedua laga kualifikasi terpaksa digelar seluruhnya di Tokyo pada Maret 1954. Berbekal janji ekstrem kepada presiden bahwa mereka "lebih baik tenggelam di laut daripada kalah", Korea Selatan sukses menang 5-1 di laga pertama dan imbang 2-2 di laga kedua untuk menyegel tiket lolos sebagai debutan.

2. Akibat keterbatasan dana, rombongan harus dibagi dan menempuh perjalanan udara selama 64 jam

Setelah memastikan tiket lolos, penderitaan skuad Korea Selatan belum berakhir karena keterbatasan dana federasi. Mereka harus menempuh perjalanan udara yang sangat melelahkan selama 64 jam menuju Swiss. Rombongan pemain terbagi menjadi dua, menggunakan pesawat militer bantuan Amerika Serikat dan penerbangan komersial dengan banyak pemberhentian. Akibat kelelahan ekstrem selama perjalanan, para pemain baru tiba di Swiss sehari sebelum laga perdana. Rombongan pesawat kedua bahkan mendarat beberapa jam sebelum pertandingan.

3. Akibat rasa lelah luar biasa, Korea Selatan takluk 0-9 oleh tim raksasa, Hungaria, di laga pembuka

Lantaran perjalanan udara yang sangat panjang, para pemain Korea Selatan harus bertanding sembari dibayangi rasa lelah luar biasa. Pada laga pembuka Grup 2, anak asuh Kim Yong Sik langsung dipertemukan dengan tim terkuat di dunia saat itu, Hungaria, pada 17 Juni 1954. Menghadapi Ferenc Puskas dan kawan-kawan yang mengusung taktik ofensif, para pemain Korea Selatan sama sekali tidak berkutik. Sebanyak 13 ribu penonton yang memenuhi Stadion Hardturm, Zurich, menyaksikan mereka dihajar habis-habisan oleh Hungaria dengan skor telak sembilan gol tanpa balas. Sandor Kocsis mengemas 3 gol, sedangkan Ferenc Puskas dan Peter Palotas masing-masing menyumbang 2 gol.

4. Takluk 0-7 saat bertemu Turki di laga kedua, Korea Selatan gugur sebagai juru kunci Grup 2

Berselang 3 hari dari pertandingan pertama, mental dan fisik anak asuh Kim Yong Sik kembali diuji kekuatan Eropa lainnya, Turki. Dilansir TaegukWarriors.com, kondisi fisik yang terlanjur terkuras membuat Korea Selatan tidak mampu memberikan perlawanan berarti. Di akhir laga, gawang mereka kembali diberondong gol oleh lini serang Turki, dan laga berakhir dengan kekalahan telak 0-7. Korea Selatan finis sebagai juru kunci Grup 2.

Sebagai tambahan, FIFA menerapkan sistem grup hibrida dengan status unggulan di Piala Dunia 1954. Dilansir FootballHistory.org, tiap tim hanya bermain 2 kali pada fase grup karena FIFA menerapkan sistem unik dengan 2 tim unggulan dan 2 tim nonunggulan dalam 1 grup tidak diizinkan untuk bertanding. Namun, sistem ini dikritik karena konstestan babak gugur jadi mudah diketahui dan akhirnya cuma digunakan sekali.

5. Meski menjadi tim dengan pertahanan terburuk, Korea Selatan menjadi salah satu langganan turnamen sepak bola internasional

Korea Selatan langsung gugur pada fase grup Piala Dunia 1954 tanpa mencetak gol. Dilansir AA.com, catatan kebobolan 16 gol dari 2 pertandingan menobatkan mereka sebagai tim dengan pertahanan terburuk dalam seedisi putaran final Piala Dunia. Rekor kelam dari 1954 ini bahkan belum terpecahkan oleh negara mana pun hingga hari ini.

Meski babak belur di Swiss, keberhasilan Korea Selatan debut di Piala Dunia 1954 menjadi salah satu pionir sepak bola Asia di kancah internasional. Dihitung dengan edisi 2026, Taeguk Warriors sudah 12 kali berpartisipasi di Piala Dunia. Prestasi terbaik mereka adalah menembus semifinal pada 2002, saat menjadi tuan rumah bersama Jepang.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

Related Article