Perjalanan Karier Vozinha, Pahlawan Tanjung Verde di Piala Dunia 2026

- Vozinha, kiper 40 tahun Tanjung Verde, menahan Spanyol 0-0 pada debut Piala Dunia 2026 lewat tujuh penyelamatan dari tujuh tembakan tepat sasaran.
- Josimar José Évora Dias sempat berulang kali gagal seleksi karena postur mungil, tetapi pertumbuhan fisik dan pengalaman hampir 15 tahun di lima negara mematangkan kariernya.
- Usai laga Spanyol, pengikut Instagramnya naik dari sekitar 45 ribu menjadi 15 juta; setelah Tanjung Verde gugur, ia bergabung dengan Colo-Colo pada 24 Juli 2026.
Spanyol, juara Piala Dunia 2026, sempat ditahan imbang Tanjung Verde 0-0. Hasil itu tidak lepas dari penampilan luar biasa Vozinha. Ia kunci performa Tanjung Verde selama Piala Dunia. Kiper berusia 40 tahun itu tampil bak tembok kokoh dengan mencatat tujuh penyelamatan krusial melawan La Roja.
Di balik penampilan gemilangnya, terdapat perjalanan panjang yang penuh rintangan. Sebelum menjadi pahlawan tim berjuluk Blue Shark di Piala Dunia 2026, Vozinha pernah gagal lolos seleksi karena postur tubuhnya dianggap terlalu mungil. Namun, ia membuktikan, kegagalan pada masa muda tidak menghentikannya untuk tampil di panggung sepak bola dunia.
1. Lahir di Tanjung Verde dan bermimpi menjadi pesepak bola profesional
Josimar Jose Evora Dias lahir di Mindelo, Tanjung Verde, pada 3 Juni 1986. Sejak kecil, ia dibesarkan kakek dan neneknya. Sebab, saat itu, ayahnya sedang menjalani wajib militer sedangkan ibunya bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
Josimar dipanggil Vozinha sejak kecil. Ini karena ia kerap bermain sepak bola bersama anak-anak yang usianya lebih tua dan menangis pulang ke rumah kepada neneknya. Vozinha diambil dari avo yang dalam bahasa Portugis berarti 'nenek'.
Vozinha sendiri dikenal sebagai kiper berbakat di Tanjung Verde. Namun, saat kecil, ia memiliki postur tubuh yang mungil. Itu sempat menghambat kariernya bahkan sering tidak lolos seleksi meski tampil baik sebagai penjaga gawang. Untungnya, Vozinha tidak putus asa. Ia terus berlatih dan bertekad meniti kariernya sebagai pesepak bola profesional.
2. Meniti karier profesional dan berkelana ke berbagai negara
Karier Vozinha tampak lambat. Tanjung Verde belum memiliki sistem akademi sepak bola yang terstruktur saat itu. Kesempatan pemain muda untuk berkembang pun terbatas.
Pada usia 16–17 tahun, ia mengalami pertumbuhan tinggi badan yang signifikan. Setelah memiliki postur yang ideal sebagai penjaga gawang, peluangnya untuk berkembang makin terbuka. Akhirnya, Vozinha berhasil meniti karier di level yang lebih tinggi.
Selama hampir 15 tahun, Vozinha telah berkelana ke berbagai negara, seperti Angola, Moldova, Portugal, Siprus, hingga Slovakia. Meski tak pernah membela klub elite di Eropa, pengalaman bermain di berbagai liga domestik membuat kemampuannya matang. Salah satu pencapaian terbaiknya di level klub adalah membantu AEL Limassol menjuarai Piala Siprus 2018/2019.
3. Piala Dunia 2026 menjadi titik balik karier sepak bola Vozinha
Setelah tampil impresif di Piala Afrika (AFCON) 2023, Tanjung Verde menjalani debut yang tidak mudah di Piala Dunia 2026. Pada kualifikasi Piala Dunia 2026, tim asuhan Bubista tersebut harus melawan negara-negara tangguh, seperti Libya, Angola, dan Kamerun. Namun, Vozinha percaya dirinya mampu melewati berbagai hambatan tersebut. Itu yang menjadi salah satu modal Tanjung Verde menghadapi kualifikasi Piala Dunia 2026.
Setelah berhasil lolos ke putaran final, negara kepulauan Afrika tersebut tergabung di Grup H bersama Spanyol, Arab Saudi, dan Uruguay. Dalam debutnya di Piala Dunia, tim Blue Shark berhadapan dengan Spanyol. Tanjung Verde secara mengejutkan meredam gempuran La Roja dan memaksakan hasil imbang 0-0. Vozinha melakukan 7 penyelamatan dari 7 tembakan tepat sasaran.
4. Popularitasnya meledak setelah menahan imbang Spanyol
Penyelamatan impresif Vozinha melawan Spanyol mengawali cerita Tanjung Verde yang masyhur selama Piala Dunia 2026. Mereka bahkan menarik hati banyak orang. Vozinha dkk membuat penonton di stadion dan pemirsa di balik layar mendukung Tanjung Verde.
Sebelum Piala Dunia 2026, akun Instagram Vozinha memiliki sekitar 45 ribu pengikut. Setelah melawan Spanyol, streamer, CazeTV, mengajak para pengikutnya mengikuti akun Vozinha. Dalam semalam, jumlahnya melonjak menjadi 5 juta. Seminggu kemudian, angkanya kembali meningkat hingga mencapai 15 juta.
Meski begitu, kerabat dekat Vozinha yakin popularitas tersebut tidak akan mengubah sikapnya. Menurut mereka, masyarakat Tanjung Verde menjunjung filosofi Morabeza. Ia mengajarkan keramahan, kerendahan hati, dan rasa syukur.
5. Mendapat kesempatan baru pada pengujung kariernya
Setelah gugur di Piala Dunia 2026, karier Vozinha tidak berakhir begitu saja. Ia justru dilirik sejumlah klub, termasuk Inter Miami dan Colo-Colo. Namun, pada 24 Juli 2026, ia memilih berlabuh ke Colo-Colo dengan status bebas biaya transfer.
Tidak seperti kebanyakan pemain Eropa yang bersinar pada usia 20–30 tahun, Vozinha baru bersinar pada usia 40-an. Penampilan impresifnya saat menahan gempuran serangan Spanyol membuat namanya tiba-tiba dikenal jutaan penggemar sepak bola dunia. Sebelum Piala Dunia 2026, nama Vozinha hanya dikenal di Tanjung Verde dan klub-klub yang pernah dibelanya.
Usia bukanlah penghalang bagi Vozinha untuk terus bersaing di level tertinggi. Saat banyak pemain seusianya telah meninggalkan lapangan hijau, ia justru menorehkan pencapaian terbesar dalam kariernya dengan membawa Tanjung Verde ke di Piala Dunia 2026. Penampilan tersebut bukan hanya mengangkat namanya, melainkan juga sepak bola negaranya.



















