Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
4 Edisi Piala Dunia saat Argentina Hanya Runner-up
ilustrasi jersey Timnas Argentina (unsplash.com/Diego Castañeda)
  • Argentina empat kali menjadi runner-up Piala Dunia, yaitu pada edisi 1930, 1990, 2014, dan terbaru 2026 setelah kalah dari Spanyol di final.

  • Pada setiap kekalahan finalnya, Argentina selalu tumbang dengan skor tipis, termasuk dua kali lewat perpanjangan waktu melawan Jerman (2014) dan Spanyol (2026).

  • Meskipun gagal mempertahankan gelar juara 2022, Argentina tetap konsisten tampil kuat di setiap turnamen dan kini menyamai rekor Jerman dalam jumlah runner-up.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Argentina mesti puas mengakhiri Piala Dunia 2026 sebagai runner-up. Pada laga final kontra Spanyol, Argentina dibuat tak berkutik. Kendati mampu memaksa duel hingga 120 menit, Argentina gagal mempertahankan gelar juara. Argentina kalah 0-1 dari Spanyol. Raihan edisi kali ini membuat Argentina telah empat kali mengakhiri Piala Dunia sebagai runner-up.

1. Argentina kalah dari Uruguay pada edisi perdana Piala Dunia pada 1930

Piala Dunia 1930 menandai edisi perdana turnamen akbar antarnegara ini. Uruguay menjadi inisiator terselenggaranya Piala Dunia dalam rangka memperingati seabad kemerdekaan. Uruguay terpilih sebagai negara tuan rumah mengalahkan kandidat lain seperti Spanyol, Italia, hingga Belanda. Terpilihnya Uruguay ini juga tidak terlepas status mereka sebagai juara Olimpiade cabang olahraga sepak bola dalam dua edisi beruntun pada 1924 dan 1928.

Sebanyak 13 negara berpartisipasi di Piala Dunia 1930. Selain Uruguay, Argentina menjadi calon kuat juara pada edisi perdana tersebut. Ini tidak terlepas dari status Argentina sebagai peraih medali perak Olimpiade Amsterdam 1928. Laju Argentina yang saat itu dilatih oleh Francisco Olazar meyakinkan. Argentina menyapu bersih tiga laga grup dengan kemenangan. Argentina mengalahkan Chile, Prancis, dan Meksiko untuk melenggang ke semifinal. 

Pada semifinal, Argentina mengalahkan Amerika Serikat dengan pesta gol 6-1. Ketika partai perebutan juara, Argentina kembali bertemu Uruguay. Final ulangan Olimpiade 1928 ini menjadi balas dendam Argentina sebab gagal mendulang emas setelah kalah 2-1 pada laga replay. Namun, Uruguay masih terlalu kuat bagi Argentina dengan kembali menelan kekalahan 2-4 saat final. Argentina sejatinya unggul 2-1 pada babak pertama. Namun, Uruguay yang didukung penuh publik Estadio Centenario membalikkan keadaan untuk menjuarai Piala Dunia 1930. 

2. Argentina gagal mempertahankan gelar juara setelah takluk dari Jerman Barat di final Piala Dunia 1990

Argentina kembali menapaki final Piala Dunia 1990. Edisi kali ini merupakan partisipasi Argentina yang keempat dalam perebutan titel juara. Setelah kegagalan pada 1930, Argentina ke final dua kali pada 1970 dan 1986. Dalam due edisi tersebut, Argentina sukses juara.

Di Piala Dunia 1990, Argentina berstatus juara bertahan. Ini membuat mereka menjadi kandidat kuat kembali mengangkat trofi. Terlebih lagi, Diego Maradona masih membersamai La Albiceleste. Namun, jalan Argentina ke partai puncak penuh liku. Di fase grup, Argentina lolos via jalur peringkat tiga terbaik setelah hanya meraih 4 poin di bawah Kamerun dan Belgia.

Ketika fase gugur, langkah Argentina juga mulai goyah. Argentina susah payah menang 1-0 atas Brasil, diikuti kemenangan adu penalti kontra Yugoslavia. Begitu pun dengan semifinal menghadapi Italia. Bermain imbang 1-1, Argentina menang adu penalti dengan skor 4-3. Pada partai final, Argentina harus bertekuk lutut dari Jerman Barat setelah kalah 0-1. Jerman Barat membalas kekalahan 4 tahun sebelumnya ketika Argentina menjuarai Piala Dunia 1986.

3. Argentina kalah menyakitkan dari Jerman di final Piala Dunia 2014

Setelah final 1990, Argentina kerap kesulitan menembus babak akhir Piala Dunia. Setelah pensiunnya Diego Maradona dari tim nasional pada 1994, Argentina mengalami pasang surut performa tiap gelaran Piala Dunia. La Albiceleste baru kembali ke partai puncak pada 2014. 

Lionel Messi menjadi tumpuan utama Argentina kali ini. Setelah dua kali partisipasi dan selalu gagal, La Pulga berhasil membawa Argentina ke laga final pada 2014. Dalam perjalanannya, Argentina tampil meyakinkan dengan menyapu bersih tiga laga fase grup dengan kemenangan. 

Langkah berat Argentina mulai terasa ketika mesti menekuk Swiss 1-0 lewat duel 120 menit. Argentina juga mengalahkan Belgia dengan skor serupa berkat gol tunggal Gonzalo Higuain. Ketika semi final, Argentina menang adu penalti 4-2 kontra Belanda setelah imbang tanpa gol. 

Sayangnya, Argentina memperpanjang puasa gelar setelah kalah 0-1 dari Jerman. Imbang tanpa gol pada waktu normal, Argentina kalah menyakitkan saat extra time. Mario Goetze menjadi antagonis berkat golnya menit 113. Argentina menjadi runner-up di Piala Dunia 2014. 

4. Argentina belum berhasil back-to-back juara di setelah takluk dari Spanyol di Piala Dunia 2026

Argentina berangkat ke Piala Dunia 2026 dengan status juara bertahan. Di Piala Dunia 2022, Argentina mengakhiri dahaga juara selama 36 tahun dengan keluar sebagai pemenang. Lionel Messi menebus kegagalan pada 2014 dengan membawa Argentina meraih trofi ketiga. 

Dengan status tersebut, Argentina menjadi unggulan teratas untuk mempertahankan gelar juara. Label ini dibuktikan dengan performa meyakinkan dengan sapu bersih tiga laga fase grup dengan kemenangan. Namun, Argentina menghadapi kesulitan ketika fase gugur. Hampir seluruh laga yang dilewati menuju final dimenangkan dengan cara dramatis dan skor tipis. 

Pada babak 32 besar, Argentina susah payah menyingkirkan Tanjung Verde yang berstatus debutan. Argentina membutuhkan 120 menit untuk menang 3-2. Begitu pun saat melawan Mesir pada babak 16 besar. Argentina bahkan tertinggal 0-2 terlebih dahulu dari Mesir. Beruntungnya, pasukan Lionel Scaloni berhasil comeback untuk memastikan kemenangan 3-2.

Ketika perempat final, Argentina mengalahkan Swiss hingga extra time. Imbang 1-1 pada waktu normal, Argentina menang 3-1. Memasuki semifinal, situasi serupa terjadi kontra Inggris. Argentina kecolongan satu gol sebelum akhirnya membalikkan keadaan hingga menang 2-1. Sayangnya, daya juang Argentina tersebut tak terlihat ketika final menghadapi Spanyol.

Pada partai final, Lionel Messi sebagai tumpuan kreativitas permainan Argentina dibuat mati kutu. Kolektivitas permainan Spanyol meredamnya hingga kalah 0-1. Meski mampu menahan Spanyol hingga extra time, Argentina gagal mempertahankan trofi setelah kebobolan oleh Ferran Torres menit 113. Alhasil, Argentina mesti puas sebagai runner-up Piala Dunia 2026.

Dengan catatan empat kali runner-up tersebut, Argentina menyamai Jerman. Bedanya, Jerman punya empat gelar, sedangkan Argentina baru tiga bintang di atas seragamnya. Kendati harus kalah di Piala Dunia 2026, Argentina tetap menjadi salah satu kekuatan sepak bola. Terlepas dari hasil akhir, Argentina merupakan negara yang selalu diperhitungkan di Piala Dunia.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article