Gol Salto sebagai Bukti Kepercayaan Diri Ragnar Ache sedang Tinggi

- Ragnar Ache mencetak gol salto spektakuler saat FC Koeln bermain imbang 2-2 melawan Hoffenheim, yang menjadi sorotan utama pekan ke-23 Bundesliga 2025/2026.
- Performa Ache meningkat drastis pada paruh kedua musim, dengan empat dari enam golnya tercipta dalam delapan laga terakhir, menandakan kepercayaan diri yang sedang tinggi.
- Sebelum bersinar di Koeln, Ache sempat diragukan karena hanya sukses di 2. Bundesliga, namun kerja keras dan latihan ekstra kini mulai membuahkan hasil nyata.
Ragnar Ache menjadi salah satu pemain yang paling mencuri perhatian pada pekan 23 Bundesliga Jerman 2025/2026. Striker lokal milik FC Koeln itu mencetak gol spektakuler. Aksinya menjadi bahan pembicaraan meski Koeln hanya imbang 2-2 dengan Hoffenheim.
Namun, gol Ache tersebut bukan sekadar sensasi belaka. Jika ditelisik lebih jauh, ini menggambarkan kepercayaan dirinya yang sedang tinggi. Performa penggawa setinggi 1,83 meter itu memang tengah meningkat usai periode sulit yang sampai membuatnya dicap flop.
1. Gol salto Ragnar Ache membuka papan skor dalam laga Koeln versus Hoffenheim pada 21 Februari 2026
Koeln menjamu Hoffenheim di RheinEnergieSTADION pada Sabtu (21/2/2026) untuk melakoni pekan ke-23 Bundesliga 2025/2026. Meski bermain di kandang, mereka tidak diunggulkan pada laga ini. Sebab, Koeln hanya berada di posisi 12, sedangkan Hoffenheim bertengger di peringkat 3. Namun, Ragnar Ache membuat kejutan pada menit 15. Ia menuntaskan umpan silang yang dilepaskan Said El Mala dari kanan lapangan dengan tendangan salto.
Setelah momen menakjubkan dari Ache, Koeln berbalik tertinggal akibat gol Ozan Kabak (45') dan Andrej Kramaric (60'). Mereka akhirnya selamat dari kekalahan berkat gol El Mala (63'). Ache tidak bermain penuh. Ia digantikan Luca Waldschmidt pada menit 85. Kualitas gol Ache tergambar dari pengakuan kiper Hoffenheim, Oliver Baumann. Menurut pilar Timnas Jerman tersebut, itu adalah gol terbaik yang pernah masuk ke gawangnya.
2. Empat dari enam gol pertama Ragnar Ache pada 2025/2026 tercipta pada paruh kedua
Setelah membuat gol salto yang berpotensi menjadi gol terbaik Bundesliga 2025/2026 atau bahkan memenangkan FIFA Puskas Award, Ragnar Ache mengaku bahwa dirinya juga tidak bisa mempercayai apa yang baru saja dilakukannya. Pemakai nomor punggung 9 itu menyatakan, dirinya benar-benar tidak berpikir saat melancarkan aksinya. Ia hanya membiarkan tubuhnya yang berbicara. Komentar ini mengindikasikan kondisi seorang pemain yang tengah dalam kepercayaan diri tinggi. Ache mengikuti instingnya.
Itu bukanlah sebuah kebetulan. Tujuh hari sebelumnya, Ache juga mencetak gol meski Koeln kalah 1-3 dari Stuttgart. Pada 17 Januari 2026, ia menjadi supersub karena mengemas brace yang membawa Koeln menang comeback 2-1 atas Mainz. Empat gol ini menunjukkan Ache sebagai sosok yang berbeda pada paruh kedua 2025/2026. Ia membuatnya hanya dalam delapan penampilan. Sementara, selama paruh pertama, Ache cuma mencetak 2 gol dari 13 pertandingan di semua kompetisi.
3. Ragnar Ache hanya bisa bersinar di kasta kedua sebelum membela Koeln
Ragnar Ache sebetulnya produktif sebelum 2025/2026. Pria yang lahir pada 28 Juli 1998 ini berhasil mencetak 41 gol dari 88 penampilan dalam 3 musim. Namun, itu semua terjadi di 2. Bundesliga Jerman. Sebelumnya, Ache cuma mengoleksi satu gol di Bundesliga yang tercipta kala membantu Eintracht Frankfurt mengalahkan Freiburg 3-1 pada 22 Mei 2021. Oleh karenanya, Ache pun kerap dianggap sebagai flop. Ia dinilai tidak mampu bersaing di level tertinggi sekaligus gagal memenuhi potensinya. Ache memang terhitung talenta istimewa saat masih remaja. Ia merupakan langganan Timnas Jerman U-21 dan bahkan bagian skuad Der Panser di Olimpiade 2020. Akibatnya, keskeptisan pun meliputi transfer Ache dari Kaiserslautern ke Koeln pada 1 Juli 2025.
Koeln bahkan dianggap membuang-buang uang karena harus menebusnya 4,5 juta euro (Rp78,22 miliar). Ache gagal membantah opini tersebut pada paruh pertama 2025/2026. Ia kesulitan beradaptasi setelah 3 musim beruntun bermain di kasta kedua dan terbebani dengan ekspektasi tinggi. Namun, seperti telah disinggung di awal, kondisi mulai berubah pada paruh kedua. Menurut pelatih Koeln, Lukas Kwasniok, ini tidak terlepas karena kerja keras Ache. Kwasniok mengakui, Ache datang tidak dalam kondisi fisik terbaik. Namun, ia terus berlatih dengan giat di belakang layar. Ache bahkan disebut menjalani sesi tambahan bersama pelatih individu. Jeda kompetisi makin memberinya waktu untuk membaik. Kini, progres pun mulai terlihat dengan gol salto sebagai bukti teranyar.
Ache saat ini berusia 27 tahun. Belum terlambat baginya untuk bisa mencapai level maksimal. Ache bisa berkaca kepada Niclas Fuellkrug. Striker yang kini membela AC Milan tersebut mencetak gol debutnya di Bundesliga pada 2012. Ia baru mengemas gol keduanya 5 tahun berselang. Namun, Fuellkrug moncer setelah gol keduanya itu sampai akhirnya mampu menembus Timnas Jerman pada 2022 saat berumur 29 tahun. Mampukah Ache melakukan hal serupa?















