Comscore Tracker

Kesaksian Memilukan Korban Selamat di Tragedi Kanjuruhan!

Korban tewas di Kanjuruhan lebih dari 130 jiwa

Jakarta, IDN Times - Duel derbi Jawa Timur yang mempertemukan tuan rumah Arema FC melawan Persebaya Surabaya dalam laga lanjutan Liga 1 2022/23 berakhir memilukan. Ratusan orang jadi korban tewas lantaran kerusuhan yang terjadi di Stadion Kanjuruhan pada Sabtu (1/10/2022).

Salah satu korban selamat menceritakan kesaksiannya berada dalam kerusuhan yang terjadi kepada IDN Times. Sumber yang enggan disebutkan nama aslinya ini karena masih trauma, mengungkapkan kronologi detail versinya soal bagaimana kerusuhan bisa pecah melalui akun Instagram @Hudaaboys.

Menurut dia, sepanjang pertandingan, kondisi berjalan baik walau Arema akhirnya menderita kekalahan. Dia memastikan, tak ada gesekan yang terjadi di tribune, baik antar suporter atau pihak keamanan.

1. Ada Aremania yang turun ke lapangan untuk memberi semangat ke pemain

Kesaksian Memilukan Korban Selamat di Tragedi Kanjuruhan!Aremania saat memberi dukungan di stadion. instagram.com/malangfootballfans

Usai pertandingan, dia melihat beberapa suporter Arema turun ke lapangan. Mereka menghampiri pemain Arema dan ofisial dengan menunjukkan gestur mendukung klub kebanggaannya, bukan untuk menyerang.

“Dua orang Aremania turun memasuki lapangan [Ya, itu salah salah, tapi hal biasa dalam sepak bola]. Mereka sempat berpelukan dengan Adilson Maringa [kiper Arema] dan Ali Rifki {Manajer Arema],” kata @Hudaaboys.

Lalu, sejumlah Aremania kembali turun ke lapangan mengikuti yang lainnya untuk menghampiri pemain. Namun, dia mengatakan, mereka terlihat bukan untuk menyerang, tetapi hanya meluapkan emosi saja dan tidak untuk berbuat rusuh.

Kemudian, polisi dan TNI mulai masuk ke lapangan untuk mengamankan Aremania. Salah satunya terlihat tertangkap dan kemudian tentara dengan brutal melakukan tindakan represif kepada salah satu Aremania. 

2. Pihak keamanan menembakkan gas air mata yang memancing emosi Aremania

Kesaksian Memilukan Korban Selamat di Tragedi Kanjuruhan!Evakuasi para korban kerusuhan di Stadion Kanjuruhan, Malang. (IDN Times/Alfi Ramadana)

Hal itu membuat suporter yang melihatnya tersulut emosi. Tak sedikit yang mencoba menolong salah satu bagian dari Aremania yang dipukuli. Namun, tindakan itu memancing suasana semakin tak kondusif.

“Kejadian itu malah memancing emosi Aremania lainnya, lalu salah satu pihak keamanan menembakkan gas air mata untuk membubarkan massa yang turun ke lapangan,” ujar @Hudaaboys.

Dia pun menuturkan jika beberapa suporter perlahan keluar karena takut terjadi kericuhan yang lebih besar. Bersama beberapa rekannya, @Hudaaboys pun ikut meninggalkan stadion secara baik-baik. 

“Kami keluar dengan damai, tiba-tiba polisi kembali melepaskan gas air mata kepada kami. Kami tidak merusak, kami keluar dengan damai, tapi mereka malah melepaskan gas air mata itu ke kerumunan!” kata dia.

Hal itu membuat dia dan massa yang berkumpul tunggang-langgang berlarian. Menurutnya, pada waktu itu hampir seluruh sudut pintu keluar, seperti VIP, Gate 1, Gate 2, Gate 3, dan Gate 4 di Stadion Kanjuruhan, dihujani gas air mata. Sehingga, emosi Aremania semakin tak terkendali.

“Saya pribadi hampir pingsan, karena sesak napas akibat gas air mata,” ujar @Hudaaboys dalam kronologi yang dia jelaskan kepada IDN Times.

3. Berusaha lari menjauh dari kerusuhan, tapi masih ditembak gas air mata

Kesaksian Memilukan Korban Selamat di Tragedi Kanjuruhan!Suasana Stadion Kanjuruhan usia laga Arema FC kontra Persebaya. IDN Times/Alfi Ramadana

Pemuda dengan nama akun @Hudaaboys ini pun kemudian menjauh dari area yang ditembak gas air mata oleh aparat kepolisian. Walau terasa sesak napas  dan pandangan yang mulai kabur, dia coba menenangkan diri hingga bisa masuk ke dalam warung.

Ternyata, setelah di dalam, dia melihat banyak korban yang sudah sesak napas dan tak berdaya. Namun di waktu bersamaan, salah satu polisi menyuruh orang-orang di dalam warung tersebut ke luar.

“Dengan kondisi di luar yang belum kondusif dan gas air mata yang masih menyengat, kami Aremania tak mau keluar dari warung tersebut karena beberapa pertimbangan yang tidak diinginkan,” bebernya.

Setelah suasana membaik, dia pun berusaha mengajak rekannya untuk keluar dan menjauhi area tersebut. Mereka keluar pagar di Parkiran 87 Stadion Kanjuruhan untuk menenangkan diri.

Setelah mengamankan diri, Hudaaboys kemudian bergegas menuju tempat dirinya memarkir motor. Namun, tanpa tedeng aling-aling, dirinya dan sekelompok suporter yang tak terlibat dalam kerusuhan dan mencoba menjauh, malah dihujani pihak keamanan dengan gas air mata. 

“Saya tanya itu untuk apa? saya telah jadi saksi hidup dan mati orang lain dengan mata-kepala saya sendiri. Saya miris dan amat trauma dengan kejadian semalam. Perlu digarisbawahi, saya orang yang selamat saja, sampai hari ini masih merasakan sesak karena terlalu banyak [menghirup] gas air mata,” ujar dia. 

Namun demikian, dia akhirnya bisa keluar dengan selamat, sama seperti ribuan orang yang juga berjuang keluar dari kericuhan di Stadion Kanjuruhan. Namun, berbeda dengannya, ratusan orang lainnya harus tewas dalam tragedi maut tersebut.

4. Berhenti untuk menonton sepak bola

Kesaksian Memilukan Korban Selamat di Tragedi Kanjuruhan!IDN Times/Habil Misbachul

Hudaaboys bersyukur, dirinya termasuk jadi orang-orang yang selamat dari kerusuhan dalam tragedi di Maguwoharjo. Namun demikian, dia merasa sedih lantaran lebih dari 150 orang yang mayoritas merupakan pendukung Arema, harus gugur ketika mendukung klub yang dicintainya.

Dia pun memastikan bakal berhenti dulu dari kesibukannya mendukung Arema. Walau dirasa sulit, hal itu dilakukan untuk menghormati korban.

“Saya mengira cinta sepak bola adalah romantisme nyata yang di dalamnya ada drama dan cinta sebenarnya. Nyatanya sepak bola telah merenggut nyawa saudara saya. Sungguh ini kabar pahit untuk diterima,” kata @Hudaaboys.

Dia tak mengelak, semua pihak sudah melakukan kesalahan, termasuk masuknya suporter ke lapangan selepas laga. Akan tetapi, dia menyayangkan tindakan pihak keamanan  yang menghujani seluruh sudut, baik di dalam hingga luar stadion dengan gas air mata.

“Untuk pelemparan gas air mata ke tribune, sya tak tahu, saya hanya mendengarkan dari luar stadion. Dan, bayangkan di dalam ada pelemparan gas air mata, lalu di luar juga demikian, menurut saya ini seperti pembunuhan massal yang disengaja,” tulis dia dalam pernyataanya.

Dia mengaku, tak sempat merekam kejadian nahas yang menimpa pendukung Arema di Stadion Kanjuruhan. Sebab, prioritasnya adalah lari menyelamatkan diri untuk menjaga nyawanya. 

Tak bisa dipungkiri, Hudaaboys mengaku trauma yang dirasakan usai tragedi Kanjuruhan bakal terus membekas. Namun, harapannya satu, kejadian yang menewaskan ratusan korban di Kanjuruhan, jadi persitiwa terakhir yang terjadi di lapangan hijau.

Baca Juga: Kronologi Kerusuhan Kanjuruhan yang Tewaskan 127 Orang

https://www.youtube.com/embed/lP2wa-jX4mg

Topic:

  • Ilyas Listianto Mujib
  • Stella Azasya

Berita Terkini Lainnya