Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Isi Lengkap Surat Terbuka AFC, CONCACAF, dan UEFA Buat FIFA
Potret Kantor FIFA di Jakarta. (IDN Times/Tino).
  • AFC, CONCACAF, dan UEFA menerbitkan surat terbuka bersama yang menolak rencana FIFA menjual kepentingan dalam Piala Dunia serta mengkritik penanganan prosesnya.
  • Tiga konfederasi menegaskan isu ini bukan soal uang, dukungan anggota, atau keputusan kompetisi, melainkan integritas sepak bola dan tanggung jawab kepemimpinan FIFA.
  • Mereka menilai proposal FIFA diajukan tanpa konsultasi memadai, mendesak peninjauan independen, pelestarian dokumen, serta kepemimpinan yang terbuka dan melayani kepentingan kolektif.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Sebanyak tiga konfederasi, yakni AFC (Asia), CONCACAF (Amerika Tengah dan Utara), serta UEFA (Eropa) menerbitkan surat bersama pada Senin (10/8/2026). Surat ini menyindir otoritas sepak bola dunia, FIFA.

AFC, CONCACAF, dan UEFA, memang menjadi tiga konfederasi yang menolak tegas keinginan FIFA untuk menjual saham Piala Dunia. Tidak cuma itu, mereka juga mengkritik cara FIFA dalam menyelesaikan masalah ini.

Semua unek-unek itu tumpah dalam sebuah surat bersama yang ditandatangani dua petinggi AFC, dua petinggi CONCACAF, dan dua petinggi UEFA. Berikut isi lengkap suratnya.

Sepak bola adalah gairah bersama terbesar di dunia. Sepak bola bukan milik individu maupun institusi tertentu.

Sepak bola adalah milik para pemain, suporter, klub, asosiasi anggota, serta setiap institusi yang dipercaya untuk menjaga masa depannya.

Dalam semangat tersebut, sebagai konfederasi yang mewakili para anggotanya, kami hari ini menyampaikan sikap secara bersama-sama.

Perkembangan sepak bola selama satu dekade terakhir memang nyata. Namun, kemajuan tersebut bukanlah hasil kerja satu individu. Kemajuan itu merupakan hasil kerja bersama FIFA, konfederasi, asosiasi anggota, serta ribuan orang yang mendedikasikan hidup mereka untuk sepak bola.

Perluasan turnamen, penetapan tuan rumah Piala Dunia FIFA 2030 dan 2034, serta distribusi sumber daya kepada asosiasi merupakan pencapaian bersama. Semua itu disepakati bersama dan diwujudkan bersama.

Ini bukan tentang uang. Para konfederasi telah menyerukan agar cadangan dana FIFA yang sangat besar dan sudah tersedia dapat didistribusikan secara bertanggung jawab untuk semakin memperkuat investasi dalam pengembangan asosiasi anggota.

Ini juga bukan tentang hilangnya dukungan yang telah diperoleh suatu asosiasi anggota. Tidak ada asosiasi yang akan kehilangan dukungan tersebut, meskipun terdapat upaya menebar ketakutan kepada para anggota kami untuk menyatakan sebaliknya.

Ini juga bukan tentang meninjau kembali perluasan kompetisi, alokasi tempat di Piala Dunia, atau keputusan-keputusan lain yang telah diambil secara kolektif. Keputusan-keputusan tersebut dibuat bersama dan harus tetap berlaku.

Persoalan ini menyangkut sesuatu yang jauh lebih mendasar: integritas permainan dan integritas mereka yang dipilih untuk memimpinnya.

Kepemimpinan dalam sepak bola bukanlah sebuah kepemilikan. Kepemimpinan bukan tentang memegang atau menuntut kekuasaan untuk dipertahankan. Kepemimpinan merupakan tanggung jawab untuk melayani keluarga sepak bola yang telah memberikan kepercayaan tersebut.

Ketika kepercayaan dilanggar melalui penipuan, dan ketika seorang individu menempatkan dirinya di atas kepentingan kolektif yang telah memberinya kewenangan, maka tanggung jawab tersebut telah ditinggalkan.

Surat terbaru FIFA kepada para Wakil Presiden dan 211 Asosiasi Anggota FIFA mengakui bahwa telah terjadi kesalahan dalam proses tersebut. FIFA menyebutnya sebagai kegagalan komunikasi, padahal apa yang disaksikan oleh dunia sepak bola adalah kegagalan dalam mengambil keputusan yang tepat.

Sebuah proposal yang diajukan dalam jangka waktu yang sangat terbatas, tanpa konsultasi yang berarti, serta didorong menuju batas waktu sebelum asosiasi anggota memiliki kesempatan yang memadai untuk meninjau ketentuannya, bukanlah sekadar hasil dari kelalaian. Hal tersebut merupakan bagian dari sebuah rancangan yang dimaksudkan untuk membatasi pengawasan dan pemeriksaan.

FIFA juga tidak mengakui bahwa proposal tersebut pada dasarnya memang keliru.

Hingga saat ini, tidak ada pengakuan bahwa upaya untuk menjual kepentingan dalam Piala Dunia FIFA merupakan sebuah kegagalan penilaian yang sangat serius. Ini bukan sekadar kesalahan prosedural, melainkan pelanggaran mendasar terhadap kepercayaan dari institusi-institusi yang justru menjadi alasan FIFA ada dan yang seharusnya dilayani oleh FIFA.

FIFA juga telah berkomitmen untuk menyampaikan laporan lengkap mengenai rangkaian peristiwa tersebut kepada Dewan FIFA. Sekali lagi, hal ini gagal mengakui bahwa tata kelola yang baik dalam menghadapi kegagalan penilaian yang begitu serius seharusnya mengharuskan peninjauan dilakukan oleh pihak ketiga yang sepenuhnya independen, bukan oleh FIFA sendiri, stafnya, ataupun pihak mana pun yang memiliki kepentingan di dalam sepak bola.

Administrasi FIFA seharusnya tidak memiliki peran apa pun dalam melakukan peninjauan tersebut.

Sesuai dengan korespondensi sebelumnya, seluruh dokumen dan catatan yang relevan harus dipertahankan dan disimpan sesuai dengan komunikasi UEFA mengenai kewajiban pelestarian dokumen.

Surat FIFA juga mengonfirmasi, hanya satu pejabat terpilih yang hadir dalam pertemuan pimpinan di Maroko. Tidak ada anggota Dewan FIFA maupun asosiasi anggota yang diundang untuk berpartisipasi. Yang hadir hanyalah komite manajemen yang terdiri atas pejabat senior yang merupakan pegawai FIFA.

Pertemuan terbaru ini, ketika sejumlah anggota terpilih dari Komite Manajemen FIFA—bukan seluruh anggota komite—dipanggil ke luar negeri, alih-alih para pemimpin tersebut datang ke Zurich untuk menghadapi persoalan di pusat FIFA dan bertemu dengan stafnya, justru semakin memperkuat kekhawatiran tersebut.

Hal itu juga menunjukkan kelanjutan dari pola perilaku yang sama yang telah membawa kita sampai pada situasi ini.

Ini bukan perilaku seorang penjaga sepak bola, melainkan perilaku seseorang yang merasa bahwa sepak bola harus bertanggung jawab kepadanya.

Ada keheningan ketika seharusnya ada pertanggungjawaban. Ada jarak ketika seharusnya ada keterbukaan.

Itu bukanlah kualitas yang layak dimiliki oleh kepemimpinan sepak bola.

Karena itulah kami mengambil sikap ini: bukan dengan gegabah dan bukan sendirian, melainkan bersama-sama, serta sebagai bentuk tanggung jawab terhadap permainan yang kami layani.

Kekuatan sepak bola selalu terletak pada persatuannya.

Kami menyerukan agar persatuan tersebut dihormati sekarang, demi kepemimpinan yang melayani sepak bola, bukan kepemimpinan yang berusaha menguasainya."

Curated For You

Editorial Team

Related Article