Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Kemenangan Piala Dunia 1978 dan Bayangan Rezim Videla
ilustrasi para suporter Timnas Argentina (unsplash.com/Cristian Tarzi)
  • Piala Dunia 1978 dimanfaatkan rezim militer Jorge Videla sebagai alat propaganda untuk menutupi pelanggaran HAM besar-besaran selama masa Guerra Sucia di Argentina.
  • Di balik kemeriahan laga final di Estadio Monumental, ratusan tahanan politik disiksa di pusat penahanan rahasia ESMA yang berjarak kurang dari satu kilometer dari stadion.
  • Kemenangan Argentina atas Peru dan trofi yang diserahkan langsung oleh Videla menjadi simbol manipulasi politik, namun akhirnya rezimnya runtuh pada 1983 setelah krisis ekonomi dan kekalahan perang.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Bagi penduduk Argentina, Piala Dunia 1978 adalah momen bersejarah. La Albiceleste merengkuh trofi juara untuk pertama kalinya. Hujan konfeti di Estadio Monumental, Buenos Aires, saat Mario Kempes mencetak gol kemenangan seolah menjadi pesta rakyat yang sempurna. Namun, di balik kemeriahannya, ada cerita penindasan.

Turnamen edisi ke-11 tersebut disetir sepenuhnya oleh rezim junta militer pimpinan Presiden Jorge Rafael Videla. Mereka menggunakan sepak bola untuk menutupi kejahatan kemanusiaan. Namun, gegap gempita Piala Dunia juga membawa kejatuhan untuk Sang Diktator.

1. Piala Dunia dan sepak bola menjadi alat sportwashing rezim untuk menutupi Dirty War

Hanya 2 tahun sebelum turnamen dimulai, tepatnya pada 1976, junta militer merebut kekuasaan di Argentina lewat kudeta. Dilansir History.com, mereka menumbangkan presiden yang terpilih secara demokratis, yakni Isabel Peron. Rezim Jenderal Videla kemudian melakukan operasi pembersihan lawan politik yang dikenal sebagai Guerra Sucia (Dirty War).

Dalam operasi tersebut, ribuan warga sipil yang vokal, mahasiswa, jurnalis, dan aktivis sayap kiri diculik, disiksa, dan dihilangkan tanpa jejak. Jumlah korbannya diperkirakan 15–30 ribu orang. Sadar bahwa publik internasional sedang menyoroti pelanggaran HAM di negaranya, Videla menggunakan Piala Dunia 1978 sebagai alat sportwashing. Ini adalah sebutan taktik penggunaan olahraga untuk membersihkan reputasi kotor pemerintah dan menampilkan citra yang damai, stabil, serta modern di mata dunia.

2. Pusat penyiksaan musuh rezim Videla berjarak kurang dari 1 kilometer dari venue laga final

Salah satu fakta paling mengerikan dari Piala Dunia 1978 adalah keberadaan Escuela Mecanica de la Armada (ESMA). Ini adalah sekolah mekanik angkatan laut yang diubah menjadi pusat penahanan dan penyiksaan rahasia terbesar rezim militer. Ironisnya, kompleks ESMA ini berjarak kurang dari 1 kilometer dari Estadio Monumental, tempat pertandingan final digelar.

Dilansir ReVista, saat sorak-sorai puluhan ribu suporter bergemuruh selama Piala Dunia, ratusan tahanan politik sedang disiksa di balik tembok beton ESMA. Beberapa penyintas bahkan mengaku bisa mendengar suara riuh stadion dari dalam sel bawah tanah mereka. Ada juga yang bisa menonton siaran langsung laga final di televisi, tetapi dipaksa penjaga untuk bersorak dengan sisa tenaga setelah berhari-hari disiksa. Dari total 5 ribu tahanan politik yang dijebloskan ke ESMA, hanya 150 orang yang bisa keluar dalam keadaan hidup.

3. Kemenangan 6-0 Argentina atas Peru ternyata sudah diatur para pemimpin kedua negara

Langkah Argentina menuju final diwarnai salah satu pertandingan paling kontroversial dalam sejarah Piala Dunia. Pada fase grup kedua, Argentina wajib menang dengan selisih minimal empat gol melawan Peru untuk bisa melaju ke final. Secara mengejutkan, anak asuh Cesar Luis Menotti itu berhasil menang telak 6-0 atas Peru saat bertemu di Estadio Gigante de Arroyito, Rosario, pada 21 Juni 1978. Brasil, yang menjadi saingan mereka, mengalahkan Polandia dengan skor 3-1 pada sore harinya.

Aroma konspirasi menyeruak kuat, terlebih saat itu Peru adalah tim dengan pertahanan kuat. Dugaan tersebut akhirnya terbukti pada 2012. Dilansir Yahoo Sports, mantan senator Peru, Genaro Ledesma, mengungkap bahwa kemenangan tersebut adalah hasil kesepakatan rahasia antara Jorge Videla dan Presiden Peru, Francisco Morales Bermudez. Lobi tingkat tinggi selama beberapa jam dilakukan sebelum pertandingan dimulai pada pukul 19:15. Hasilnya, Videla setuju memenjarakan serta menyiksa 13 aktivis oposisi asal Peru dengan imbalan Peru sengaja mengalah di lapangan.

4. Trofi Piala Dunia diserahkan langsung Sang Diktator kepada kapten tim, Daniel Passarella

Puncak dari campur tangan politik rezim junta militer terjadi pada laga final yang berlangsung pada 25 Juni 1978. Argentina mengalahkan Belanda dengan skor 3-1 melalui babak perpanjangan waktu. Di akhir laga, Jenderal Jorge Videla menyerahkan langsung trofi berlapis emas itu ke tangan kapten Argentina, Daniel Passarella.

Foto Videla yang tersenyum lebar sambil memegang trofi bersama para pemain menjadi propaganda yang sempurna untuk rezim. Padahal faktanya, Sang Diktator menganggap sepak bola sebagai sesuatu yang membosankan. Videla jarang, bahkan hampir tidak pernah, menonton pertandingan. Namun, ia sangat paham betapa populernya sepak bola di mata rakyat dan menggunakannya sebagai kendaraan politik.

5. Piala Dunia 1978 justru memicu keruntuhan rezim militer Jorge Videla pada 1983

Suksesnya Piala Dunia 1978 ternyata menjadi topeng yang gagal membendung kehancuran Argentina. Tak lama setelah turnamen, Argentina dihantam krisis ekonomi hebat dengan hiperinflasi mencapai lebih dari 100 persen. Dilansir Papelitos.com.ar, ini terjadi lantaran pemerintah mengucurkan dana hingga 700 juta dolar AS (Rp12 triliun) untuk perbaikan infrastruktur, sistem komunikasi, serta renovasi dan pembangunan stadion baru demi bersolek sebagai tuan rumah. Untuk mengalihkan kemarahan publik, rezim junta militer nekat memicu Perang Falklands melawan Inggris pada 1982. Namun, kekalahan memalukan dalam perang tersebut menjadi paku terakhir bagi peti mati rezim yang akhirnya runtuh pada akhir 1983.

Dilansir Jacobin.com, kembalinya demokrasi menandai dimulainya Juicio a las Juntas (Pengadilan Para Junta) pada 1985. Para petinggi militer, termasuk Jenderal Videla, dijatuhi hukuman penjara seumur hidup atas kejahatan kemanusiaan. Meski hukum ditegakkan, rakyat Argentina tetap memikul trauma mendalam akibat hilangnya 30 ribu orang hingga sekarang.

Piala Dunia 1978 menjadi pengingat abadi bahwa sepak bola tidak selalu steril dari politik. Terkadang, sepak bola dimanfaatkan sebagai topeng untuk menyembunyikan tragedi kemanusiaan. Namun, seperti kata pepatah, tidak ada kejahatan yang benar-benar abadi.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

Related Article