Suksesnya Piala Dunia 1978 ternyata menjadi topeng yang gagal membendung kehancuran Argentina. Tak lama setelah turnamen, Argentina dihantam krisis ekonomi hebat dengan hiperinflasi mencapai lebih dari 100 persen. Dilansir Papelitos.com.ar, ini terjadi lantaran pemerintah mengucurkan dana hingga 700 juta dolar AS (Rp12 triliun) untuk perbaikan infrastruktur, sistem komunikasi, serta renovasi dan pembangunan stadion baru demi bersolek sebagai tuan rumah. Untuk mengalihkan kemarahan publik, rezim junta militer nekat memicu Perang Falklands melawan Inggris pada 1982. Namun, kekalahan memalukan dalam perang tersebut menjadi paku terakhir bagi peti mati rezim yang akhirnya runtuh pada akhir 1983.
Dilansir Jacobin.com, kembalinya demokrasi menandai dimulainya Juicio a las Juntas (Pengadilan Para Junta) pada 1985. Para petinggi militer, termasuk Jenderal Videla, dijatuhi hukuman penjara seumur hidup atas kejahatan kemanusiaan. Meski hukum ditegakkan, rakyat Argentina tetap memikul trauma mendalam akibat hilangnya 30 ribu orang hingga sekarang.
Piala Dunia 1978 menjadi pengingat abadi bahwa sepak bola tidak selalu steril dari politik. Terkadang, sepak bola dimanfaatkan sebagai topeng untuk menyembunyikan tragedi kemanusiaan. Namun, seperti kata pepatah, tidak ada kejahatan yang benar-benar abadi.