Piala Dunia selalu dianggap sebagai panggung tertinggi persatuan dan sportivitas global. Namun, jika kita memutar kembali jarum jam ke tahun 1934, esensi suci sepak bola pernah ternoda oleh bayang-bayang ideologi fasisme. Edisi kedua turnamen akbar tersebut menjadi contoh nyata dalam sejarah tentang bagaimana olahraga ditepikan demi kepentingan propaganda politik.
Ketika Fasisme dan Mussolini Menunggangi Piala Dunia 1934

1. Dimanfaatkan menjadi alat propaganda Mussolini atas kemajuan Italia di bawah kendalinya
Bagi penguasa Italia saat itu, Benito Mussolini, sepak bola adalah instrumen sempurna untuk menunjukkan supremasi rezim fasisnya kepada dunia. Mussolini sadar betul daya bahkan sepak bola memiliki daya pikat massa yang tinggi. Diktator berjuluk Il Duce itu tak cuma ingin membangun narasi identitas nasional, tetapi juga memamerkan pesatnya pembangunan Italia di bawah kepemimpinannya.
Banyak hal dilakukan oleh Italia setelah terpilih menjadi tuan rumah Piala Dunia 1934. Dilansir The Guardian, program tersebut mulai dari pembangunan stadion megah, pemberian subsidi tiket perjalanan bagi suporter asing maupun domestik, hingga memproduksi pernak-pernik resmi berlogo fasis. Untuk pertama kalinya, seluruh pertandingan disiarkan melalui radio ke seluruh tim peserta asal Eropa dan Mesir. Para wisatawan asing disebut takjub dengan kemegahan infrastruktur Italia saat itu.
2. Menaturalisasi para pemain Timnas Argentina demi muluskan ambisi juara Italia
Demi memuluskan ambisi juara, rezim fasis Italia menghalalkan segala cara, termasuk menabrak batas-batas kewarganegaraan. Dilansir oleh Never Felt Better, mereka memanfaatkan celah hukum untuk menaturalisasi pemain top kelahiran Amerika Selatan keturunan Italia. Mereka dikenal dengan sebagai "Oriundi", yang berarti seseorang yang lahir atau dibesarkan di luar negeri, tetapi memiliki darah atau keturunan dari negara lain.
Barisan pemain "Oriundi" tersebut adalah Luis Monti, Raimundo Orsi, dan Attilio Demaria. Beberapa tahun sebelumnya, mereka membela Argentina. Namun, lantaran berkarier di klub Italia, mereka dipakaikan seragam biru Gli Azzurri. Ideologi fasisme memang menjunjung tinggi kemurnian bangsa, tetapi Mussolini tidak peduli dari mana asal para pemain tersebut. Kemenangan adalah ambisi mutlak sang diktator.
3. Kontroversi wasit yang diduga mendapat tekanan dari Mussolini langsung
Aroma pengaturan hasil akhir pertandingan (match-fixing) berembus kencang sepanjang turnamen, terutama dalam laga-laga krusial yang melibatkan tim tuan rumah. Beberapa wasit Eropa yang memimpin pertandingan Italia disinyalir berada di bawah tekanan psikologis hebat. Beberapa bahkan diyakini mendapat teror langsung dari Mussolini.
Momen paling kontroversial terjadi pada laga perempat final melawan Spanyol yang berlangsung brutal serta laga semifinal melawan Austria. Wasit Ivan Eklind asal Swedia dituduh menutup mata terhadap permainan kasar dan brutal yang diperagakan para pemain Italia demi meloloskan mereka ke final. Dilansir oleh CBC.ca, sebelum memimpin partai melawan Austria, Eklind diketahui sempat bertemu secara privat dengan Mussolini.
4. Laga final melawan Cekoslowakia menjadi ajang fasisme pamer kekuatan secara terang-terangan
Corak fasisme semakin terlihat pada laga final Piala Dunia 1934 melawan Cekoslowakia pada 10 Juni 1934. Berlangsung di Stadio Nazionale, Roma, propaganda fasis Mussolini menyebut seluruh tribun penuh sesak oleh 65 ribu penonton. Namun, foto-foto menunjukkan sebaliknya, sebab banyak tempat duduk yang kosong. Dilansir These Football Times, ini diduga terjadi akibat memudarnya pengaruh Benito Mussolini di wilayah Italia selatan (basis dukungannya mayoritas di wilayah Italia utara yang merupakan wilayah industri), serta faktor cuaca musim panas dengan suhu mencapai 40 derajat Celcius.
Sebelum pertandingan dimulai seluruh pemain Italia melakukan salam fasis ke arah tribun tempat Mussolini dan para pejabat tinggi duduk. Melalui perpanjangan waktu, Italia berhasil menang dengan skor 2-1. Setelah peluit panjang dibunyikan wasit Ivan Eklind, lagu kebangsaan fasis yang berjudul "Giovinezza" berkumandang.
Meskipun Benito Mussolini berhasil menunggangi Piala Dunia 1934, fasisme pada akhirnya runtuh digilas roda sejarah. Rezim totaliter ini resmi hancur pada 1943 akibat kekalahan militer beruntun di Perang Dunia II. Riwayat Il Duce akhirnya tamat secara tragis di tangan rakyatnya sendiri pada 1945.