Kiprah Kepelatihan Michel sebelum Menukangi Ajax Amsterdam

- Michel memulai karier kepelatihannya di Rayo Vallecano, sukses membawa klub promosi ke LaLiga 2018/2019 sebelum akhirnya dipecat pada Maret 2019.
- Setelah itu, ia menukangi Huesca dan kembali mengantarkan timnya juara Segunda Division 2019/2020, meski gagal bertahan lama di LaLiga.
- Pada periode bersama Girona, Michel mencetak sejarah dengan lolos ke Liga Champions 2024/2025 dan kini resmi ditunjuk sebagai pelatih baru Ajax Amsterdam mulai musim 2026/2027.
Miguel Angel Sanchez Munoz akan melanjutkan karier kepelatihannya pada 2026/2027 dengan menukangi Ajax Amsterdam. Pria yang akrab dipanggil Michel ini bergabung dari Girona. Selain Girona, ada dua klub lain yang dipimpin sosok yang lahir di Spanyol pada 30 Oktober 1975 itu sebelum berlabuh di Ajax.
1. Michel melatih Rayo Vallecano pada 2017—2019
Michel memulai kiprahnya sebagai pelatih di klub lokalnya, Rayo Vallecano. Ini terjadi pada 2012 setelah ia resmi pensiun sebagai pemain. Michel sendiri merupakan lulusan akademi Rayo. Ketika terjun ke dunia kepelatihan, ia terlebih dahulu bekerja di level junior. Lima tahun kemudian, Michel akhirnya mendapat kesempatan untuk memimpin tim utama. Ia diangkat pada Februari 2017 dan mampu membuat mereka berakhir di posisi ke-12 di Segunda Division Spanyol.
Michel menunjukkan tajinya pada musim penuh pertamanya. Ia membawa Rayo promosi ke LaLiga Spanyol 2018/2019 sebagai juara Segunda Division 2017/2018. Sayangnya, Michel belum tangguh di kasta teratas. Rayo kesulitan untuk bersaing sampai akhirnya manajemen memecat Michel pada Maret 2019. Rayo kemudian terdegradasi sebagai juru kunci. Michel total memimpin Rayo dalam 89 laga dengan hasil 32 kemenangan, 23 keimbangan, dan 32 kekalahan.
2. Michel memimpin Huesca pada 2019—2021
Setelah dipecat Rayo Vallecano pada Maret 2019, Michel akhirnya kembali bekerja dengan memimpin Huesca 4 bulan berselang. Huesca sendiri merupakan tim yang dikalahkan Michel dan Rayo Vallecano dalam perebutan gelar juara Segunda Division 2017/2018 dengan selisih satu poin saja. Namun, seperti Rayo, Huesca juga terdegradasi di LaLiga 2018/2019. Manajemen Huesca jelas memilih Michel dengan harapan bisa langsung promosi lagi.
Michel merealisasikan target tersebut. Ia membuat Huesca menjuarai Segunda Division 2019/2020. Ironisnya, Michel lagi-lagi tidak berdaya ketika bertarung di LaLiga. Dari 18 laga pertama pada 2020/2021, ia cuma mampu mempersembahkan 1 kemenangan. Sembilan sisanya berakhir dengan keimbangan dan delapan lainnya berujung kekalahan. Manajemen Huesca pun mencopot Michel pada 12 Januari 2026. Total, sebagai pelatih Huesca, Michel menang 24 kali, seri 16 kali, dan kalah 24 kali.
3. Michel mengasuh Girona pada 2021—2026
Keberhasilan Michel membawa Rayo Vallecano dan Huesca promosi ke LaLiga menarik minat Girona pada awal 2021/2022. Hebatnya, Michel lagi-lagi mampu mempersembahkan mimpi tersebut meski melakukannya lewat play-off. Namun, ia bisa membuat mereka bertahan di LaLiga 2022/2023 dengan bertengger di peringkat sepuluh. Musim berikutnya, Michel dan Girona mengukir sejarah. Mereka berakhir di peringkat ketiga sehingga lolos ke Liga Champions Eropa (UCL) 2024/2025.
Sayangnya, Michel kehilangan banyak pemain andalannya yang memang begitu laku di pasaran. Dampaknya, Girona hampir saja terdegradasi di LaLiga 2024/2025. Mereka duduk di peringkat 16. Sementara, di UCL musim yang sama, mereka cuma menang 1 kali dan kalah 8 kali. Michel tidak bisa lagi menahan kemunduran Girona pada 2025/2026. Mereka turun kasta dengan menempati posisi ke-19. Secara keseluruhan, Michel mengoleksi 91 kemenangan, 47 keimbangan, dan 83 kekalahan.
4. Ideologi permainan Michel sesuai dengan filosofi Ajax
Ajax masih kesulitan untuk bangkit sejak terakhir kali menjuarai Eredivisie Belanda pada 2021/2022 sekaligus ditinggal Erik ten Hag. Itu terlihat dari fakta Michel merupakan pelatih kesepuluh mereka usai momen tersebut. Ajax mengontraknya sampai 2028. Gaya bermain menjadi faktor utama bagi manajemen dalam memilih Michel. Mereka menilai klub dan Michel berbagi ideologi yang sama dalam permainan.
Saat menukangi Rayo Vallecano, Huesca, maupun Girona, Michel memang terkenal sebagai pelatih yang menekankan penguasaan bola serta umpan-umpan pendek. Salah satu bukti, sejak Michel memimpin Girona di LaLiga pada 2022/2023 hingga terdegradasi pada 2025/2026, Opta mencatat, rata-rata akurasi umpan mereka mencapai 86,3 persen dan mencetak hingga 26 gol lewat open play yang berasal dari minimal 10 operan. Cuma Barcelona dan Real Madrid yang lebih baik untuk statistik.
Tantangan baru menanti Michel pada 2026/2027. Jika sebelumnya hanya menukangi klub medioker, kini ia mendapat kesempatan untuk memimpin tim besar yang sayangnya tengah terpuruk. Namun, Michel bakal memiliki sumber daya yang lebih mumpuni dalam menerapkan filosofi permainannya di Ajax. Lantas, mampukah ia membawa mereka bangkit?
















