Haiti dan Kisah Pahit di Piala Dunia 1974 saat Bek Dianiaya Staf

- Haiti kembali tampil di Piala Dunia 2026 setelah terakhir kali lolos pada 1974, meski harus memulai dengan kekalahan tipis 0-1 dari Skotlandia.
- Pada debutnya tahun 1974, Haiti sukses menembus putaran final usai menyingkirkan tim kuat seperti Meksiko di kualifikasi, namun berada di bawah tekanan rezim diktator Jean-Claude Duvalier.
- Kisah tragis mewarnai perjalanan mereka ketika bek Ernst Jean-Joseph menjadi kasus doping pertama di Piala Dunia dan dianiaya staf sendiri hingga mengguncang mental seluruh tim.
Timnas Haiti kembali ke panggung sepak bola dunia setelah menanti lebih dari setengah abad. Sayangnya, capaian tersebut harus diawali dengan hasil minor setelah mereka takluk 0-1 dari Skotlandia. Ini terjadi di laga pertama babak penyisihan Grup C di Piala Dunia 2026, Minggu (14/6/2026).
Kendati mengawali langkah dengan kekalahan, partisipasi tahun ini jadi capaian historis karena menjadi kedua kali Haiti lolos ke putaran final Piala Dunia. Jika menarik ke belakang, debut mereka terjadi pada 1974 di Jerman Barat. Namun, sepak terjang Haiti saat itu justru diwarnai kisah mencekam.
1. Mengejutkan publik sebab meruntuhkan dominasi Meksiko pada fase Kualifikasi Piala Dunia 1974
Lolosnya Haiti ke Piala Dunia 1974 mengejutkan banyak pihak lantaran harus melewati adangan tim-tim mapan di zona Amerika Utara. Bertindak sebagai tuan rumah CONCACAF Championship 1973 sekaligus Kualifikasi Piala Dunia 1974, tim berjuluk Les Grenadiers itu melibas tim-tim kuat, seperti Honduras dan Guatemala. Ajang tersebut diikuti enam tim dan berlangsung dalam format setengah kompetisi. Dilansir RSSSF.com, Haiti sukses mencatatkan empat kemenangan beruntun sebelum dikalahkan Meksiko di laga terakhir. Namun, status juara tetap diraih dan Haiti berhak terbang ke Jerman Barat.
2. Timnas Haiti berada di bawah bayang-bayang diktator saat itu, Jean-Claude Duvalier
Di balik dongeng indah di atas lapangan, skuad Haiti sejatinya berangkat dengan beban psikologis yang amat berat akibat cengkeraman rezim totaliter. Dilansir Beyondthelastman.com, diktator Jean-Claude Duvalier alias Baby Doc memanfaatkan kesuksesan Timnas Haiti untuk memoles citra rezimnya yang korup di mata internasional. Duvalier rutin mendatangi sesi latihan tim, bahkan menghubungi sejumlah pemain lewat sambungan telpon pribadi. Namun, para pemain Haiti mengaku tidak nyaman karena reputasi menakutkan Duvalier.
3. Haiti mengejutkan dunia dengan membobol gawang kiper Italia, Dino Zoff
Haiti diprediksi menjadi bulan-bulanan saat menantang tim kuat, Italia, pada laga perdana mereka. Terlebih lagi, kiper Gli Azzuri waktu itu, Dino Zoff, datang dengan rekor mentereng. Ia tidak kebobolan selama 1.142 menit di laga internasional. Namun, penyerang Haiti, Emmanuel Sanon, secara mengejutkan berhasil mencetak gol pada awal babak kedua lewat sebuah skema serangan balik cepat. The Guardian menyebut rekor Zoff dihentikan seorang pemain berusia 22 tahun yang tidak terkenal, yang hanya digaji 200 dolar AS sebulan (Rp3,5 juta) oleh klubnya.
4. Karena gagal tes doping, Ernst Jean-Joseph dianiaya salah satu staf Timnas Haiti
Euforia gol bersejarah Sanon seketika sirna setelah bek, Ernst Jean-Joseph, dinyatakan positif menggunakan zat terlarang melalui tes yang dilakukan setelah laga melawan Italia. Jean-Joseph sempat berkilah itu adalah obat asma. Ini menjadi kasus doping pertama sepanjang sejarah pelaksanaan putaran final Piala Dunia. Dilansir Irish Times, staf Timnas Haiti yang juga orang terdekat diktator, Jean-Claude Duvalier, menyeret Jean-Joseph keluar dari Sekolah Olahraga Gruenwald di Munich, tempat tim menginap pada malam hari, lalu memukulinya. Setelah disekap semalaman di Hotel Sheraton, ia langsung dipulangkan ke Haiti.
5. Mental bertanding para pemain runtuh akibat insiden penganiayaan yang dialami rekan setim
Insiden penganiayaan Ernst Jean-Joseph dan intimidasi konstan dari rezim Duvalier meruntuhkan mental bertanding skuad Les Grenadiers. Akibatnya, mereka menjadi lumbung gol pada dua laga sisa. Mereka dihantam Polandia 0-7 serta dilibas Argentina dengan skor telak 1-4. Haiti pulang lebih awal dengan status juru kunci Grup C, tetapi para pemain setidaknya merasa lega karena bisa kembali dalam keadaan selamat. Dilansir Vijeste.me, Jean-Joseph juga terhitung beruntung karena tidak "dihilangkan" rezim Jean-Claude Duvalier.
Kini, kekalahan 0-1 dari Skotlandia memang terasa pahit untuk Haiti. Namun, mereka tak perlu mencemaskan ancaman dari luar lapangan seperti yang dialami para senior mereka 52 tahun silam. Haiti bisa melewati fase grup Piala Dunia 2026 untuk menciptakan sesuatu yang lain.

















