Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Mengapa Sepatu Pink Mendadak Jadi Tren Piala Dunia 2026?

Mengapa Sepatu Pink Mendadak Jadi Tren Piala Dunia 2026?
ilustrasi pesepak bola sedang memakai sepatu berwarna pink (unsplash.com/Davide Aracri)
Intinya Sih
  • Warna pink mendominasi Piala Dunia 2026 karena prediksi tren global WGSN tentang warna 'Electric Fuchsia' yang diadopsi produsen besar seperti Nike, Adidas, dan Puma sejak tahap desain produk.
  • Fenomena ini menegaskan hubungan erat antara sepak bola dan dunia fashion, di mana pemain serta merek menjadikan sepatu pink sebagai simbol gaya, identitas, dan strategi promosi yang relevan dengan tren masa kini.
  • Selain alasan mode, warna pink dipilih karena kontras tinggi dengan rumput hijau sehingga mudah terlihat di layar digital, sekaligus mencerminkan perubahan budaya terhadap penerimaan warna cerah dalam sepak bola modern.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Piala Dunia 2026 menghadirkan pemandangan yang cukup unik. Satu warna mendominasi penampilan para pemain di berbagai pertandingan, yaitu pink. Dominasi pink sudah terlihat sejak hari-hari pertama Piala Dunia 2026. Pada laga pembuka antara Meksiko dan Afrika Selatan di Estadio Azteca, Mexico City, Jumat (12/6/2026) dini hari WIB, hampir seluruh pemain di lapangan tampil memakai sepatu pink.

Table of Content

1. Sepatu pink tampak di pertandingan lain

1. Sepatu pink tampak di pertandingan lain

Pemandangan serupa kembali muncul pada pertandingan Grup A antara Korea Selatan dan Republik Ceko di Guadalajara Stadium. Bahkan, tren itu berlanjut dalam laga Kanada melawan Bosnia-Herzegovina (Grup B). Begitu pun dalam laga Amerika Serikat menghadapi Paraguay (Grup D).

Fenomena ini tidak hanya terlihat pada sepatu para pemain. Kiper Kroasia, Dominik Livakovic, tampil menggunakan seragam pink cerah, sementara sejumlah perangkat pertandingan turut mengenakan warna serupa. Tak heran majalah GQ menyebut, begitu seseorang menyadari dominasi pink di Piala Dunia 2026, fenomena tersebut menjadi sesuatu yang sulit untuk diabaikan.

2. Prediksi tren yang ternyata tepat sasaran

Salah satu alasan utama munculnya dominasi pink berasal dari dunia mode dan riset tren konsumen. Pada 2024, lembaga peramal tren global WGSN memprediksi, warna yang disebut electric fuchsia akan menjadi salah satu warna paling populer pada musim panas 2026.

Warna tersebut digambarkan sebagai perpaduan antara pink dan ungu dengan karakter neon yang mencolok serta nuansa digital yang kuat. Produsen besar seperti Nike, Adidas, dan Puma diketahui sering memantau laporan tren semacam ini saat merancang produk baru. Mengingat proses pengembangan sepatu sepak bola bisa memakan waktu hingga 2 tahun, prediksi tren menjadi salah satu acuan penting sebelum produk diluncurkan ke pasar.

Mengutip The Guardian (20/6/2026), Sara Maggioni, Head of Womenswear WGSN mengatakan, pink merupakan salah satu warna yang memiliki pengaruh paling besar dalam dunia mode. Setidaknya selama 1 dekade terakhir. Karena itu, kemunculannya di panggung sebesar Piala Dunia bukanlah sesuatu yang mengejutkan.

2. Bukti kuat hubungan sepak bola dan dunia fashion

Sepak bola modern kini tidak hanya soal performa di lapangan. Industri ini juga makin dekat dengan dunia mode dan gaya hidup. Para pemain masa kini jauh lebih terbuka untuk mengenakan perlengkapan berwarna cerah dan desain yang mencolok dibanding generasi sebelumnya yang identik dengan sepatu hitam.

Produsen perlengkapan olahraga pun berlomba menghadirkan desain yang menarik perhatian. Sepatu sepak bola kini tidak hanya berfungsi sebagai alat bermain, tetapi juga menjadi bagian dari identitas pemain sekaligus sarana promosi merek. Karena itu, pemilihan warna sering kali mengikuti tren yang berkembang di luar dunia olahraga.

Tren pink di sepak bola juga tidak bisa dilepaskan dari fenomena Barbiecore. Ia sempat mendominasi dunia fashion pada 2023. Popularitas pink yang bertahan hingga beberapa tahun kemudian membuat berbagai merek melihat warna tersebut sebagai pilihan yang relevan untuk koleksi terbaru mereka.

3. Pink sudah lama masuk ke dunia sepak bola

Meski terlihat mendominasi di Piala Dunia 2026, pink sebenarnya bukan pendatang baru dalam sepak bola. Kehadirannya terus meningkat dalam lebih dari 1 dekade terakhir, baik pada sepatu maupun seragam tim. Misalnya, pada 2019/2020, ratusan gol English Premier League dicetak oleh pemain yang mengenakan sepatu pink, jauh melampaui pemain yang menggunakan sepatu hitam tradisional. Hal ini menunjukkan, warna tersebut sudah lama diterima para pesepak bola profesional.

Tidak hanya itu, sejumlah klub mulai mengadopsi pink sebagai bagian dari identitas mereka. Arsenal pernah meluncurkan jersey ketiga berwarna pink pada 2022/2023, sementara Inter Miami menjadikan warna tersebut sebagai ciri khas klub. Popularitasnya makin meningkat setelah Lionel Messi bergabung ke Inter Miami pada 2023, yang membuat jersey pink tersebut laris di pasaran.

4. Pink menonjol di tengah hamparan rumput hijau

Selain mengikuti tren mode, ada alasan praktis mengapa pink dipilih. Warna tersebut memiliki kontras yang sangat kuat dengan warna hijau lapangan sepak bola. Akibatnya, sepatu pink jauh lebih mudah terlihat dibanding warna lain.

Efek ini terasa, baik saat pertandingan disaksikan langsung di stadion maupun melalui layar televisi dan HP. Dalam tayangan ulang gerak lambat, sorotan kamera, hingga pertandingan malam hari di bawah lampu stadion, pink tetap mencuri perhatian. Sara Maggioni menjelaskan, faktor ini makin penting karena banyak penggemar muda kini menikmati pertandingan melalui layar HP. Warna yang mencolok membantu pemain dan merek lebih mudah dikenali dalam tayangan pertandingan maupun konten media sosial. Dari sudut pandang pemasaran, makin mudah sebuah produk terlihat, maka makin besar pula peluang merek tersebut diingat penonton.

5. Ironi di balik dominasi pink

Menariknya, dominasi pink juga menghadirkan sebuah ironi. Tiap merek berusaha menciptakan produk yang berbeda dan lebih mencolok dibanding pesaingnya. Namun, karena banyak perusahaan mengambil inspirasi dari tren yang sama, hasil akhirnya justru membuat banyak pemain mengenakan warna yang hampir serupa.

Nike, Adidas, Puma, hingga New Balance sama-sama menghadirkan koleksi bernuansa pink untuk turnamen ini. Akibatnya, warna yang awalnya untuk membuat produk tampil berbeda justru menjadi salah satu warna paling sering terlihat di lapangan. Mengutip The Athletic (20/6/2026), Director of Product Management Nike Football Footwear, Odinga Nimako, mengatakan, sepak bola saat ini telah mencapai titik saat warna-warna cerah seperti pink makin diterima pemain dan penggemar. Menurutnya, warna tersebut tetap terasa berani dan mencolok, tetapi tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang cocok untuk kalangan tertentu.

Pandangan tersebut sekaligus mencerminkan perubahan budaya dalam sepak bola modern. Jika dahulu pink kerap dikaitkan dengan stereotip dan dianggap kurang identik dengan olahraga pria, kini anggapan tersebut makin memudar. Pesepak bola modern tidak lagi hanya dinilai dari performanya di lapangan, tetapi juga dari identitas dan citra yang mereka bangun di luar pertandingan.

Pada akhirnya, dominasi pink di Piala Dunia 2026 bukanlah kebetulan. Warna tersebut lahir dari perpaduan tren mode global, strategi pemasaran, perubahan budaya sepak bola, dan kebutuhan akan visibilitas era digital. Namun, ketika hampir semua pemain dan merek memilih warna yang sama, muncul pertanyaan menarik soal apakah pink masih menjadi simbol tampil beda atau justru telah berubah menjadi warna standar baru dalam sepak bola modern?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Gagah N. Putra
Eddy Rusmanto
Gagah N. Putra
EditorGagah N. Putra

Related Articles

See More