Kisah Ramadan Hugo Ekitike di Liverpool, Bulan yang Selalu Dinanti

- Hugo Ekitike, penyerang muda Liverpool, menganggap Ramadan sebagai waktu refleksi dan kedekatan spiritual dengan Tuhan serta keluarga, bukan sekadar menjalankan ibadah puasa.
- Ekitike mendapat dukungan penuh dari keluarga Muslimnya dan rekan setim di Liverpool yang juga berpuasa, menciptakan suasana hangat dan saling menghormati selama bulan suci.
- Melalui pengalaman Ramadan, Ekitike merasa lebih tenang dan sabar, menjadikannya momen penting untuk memperbaiki diri serta memperkuat karakter di dalam maupun luar lapangan.
Jakarta, IDN Times - Penyerang muda Liverpool, Hugo Ekitike, berbagi kisah tentang makna Ramadan dalam hidupnya. Bagi pemain berusia 23 tahun itu, bulan suci bukan sekadar menjalankan ibadah puasa, melainkan momentum mendekatkan diri kepada Tuhan dan mempererat hubungan dengan orang tercinta.
Melalui video yang diunggah akun Instagram resmi Liverpool (@liverpoolfc), Ekitike menuturkan Ramadan selalu menghadirkan ruang refleksi dan pembenahan diri.
“Saya pikir ini adalah bulan yang baik untuk menjadi lebih dekat dengan agama dan dengan orang-orang di sekitar kita, melakukan perbuatan baik dan menjadi lebih suci dari biasanya,” kata Ekitike.
1. Momen yang paling dirindukan saat Ramadan
Ekitike mengaku selalu menantikan datangnya Ramadan. Puasa selama satu bulan penuh menjadi pengalaman spiritual yang ia rindukan setiap tahun.
Selain ibadah, kebersamaan dengan keluarga juga menjadi bagian penting. Ia menikmati momen berbuka puasa bersama dan berbagi waktu dengan orang-orang terdekat.
“Saya tentu menantikan untuk berpuasa. Menjalani satu bulan penuh puasa yang baik. Menerima orang-orang di rumah seperti berbagi makan malam bersama dan ya, menjadi lebih dekat lagi dengan Tuhan dibanding sebelumnya. Meskipun bukan Ramadan kami tetap berusaha untuk selalu dekat dengan Tuhan,” kata Ekitike.
2. Dukungan keluarga dan rekan setim
Keluarga menjadi pilar utama bagi Ekitike dalam menjalani Ramadan. Sebagian besar anggota keluarganya beragama Islam, sehingga suasana ibadah terasa lebih hangat dan penuh dukungan.
“Banyak orang di keluarga saya adalah Muslim jadi tentu saja itu cukup mudah. Mereka mendukung saya dengan cara terbaik karena mereka berpuasa bersama saya. Pada masa ini kami semua di rumah, kami berbagi hari dengan belajar tentang agama, menghabiskan waktu bersama satu sama lain, berbagi makanan dan ya, kurang lebih itu yang kami lakukan,” ujar Ekitike.
Di lingkungan klub, ia juga merasa nyaman. Kehadiran sejumlah pemain Muslim di Liverpool membuatnya yakin mendapat dukungan penuh selama Ramadan.
“Kami juga memiliki beberapa Muslim di tim, jadi saya tahu klub akan membantu kami melewati bulan ini. Kami sudah beberapa kali berbicara tentang hal itu dan saya tahu kami mendapat dukungan 100 persen dari klub dan saya sangat menantikannya,” beber Ekitike.
3. Pelajaran Spiritual setelah Ramadan
Ramadan menjadi periode refleksi mendalam bagi Ekitike. Ia menilai puasa membantunya memahami diri sendiri dan memperbaiki sikap terhadap orang lain.
“Saya pikir sejak saya mulai berpuasa, selama periode ini saya lebih banyak bersama diri saya sendiri, jadi saya punya waktu untuk bertanya pada diri saya tentang kehidupan, bagaimana saya bersikap kepada orang lain, bagaimana saya berperilaku. Dan seperti biasanya, setelah Ramadan saya merasa lebih tenang, lebih sabar secara umum tentang apa yang saya harapkan dari orang lain dan apa yang saya harapkan dari diri saya sendiri,” kata Ekitike menjelaskan.
Bagi Ekitike, Ramadan bukan hanya kewajiban spiritual. Bulan suci merupakan proses pembentukan karakter. Ia merasa lebih tenang, lebih sabar, dan lebih siap menghadapi tantangan, baik di dalam maupun di luar lapangan.


















