Komite Wasit Desak Hentikan Perilaku Primitif di Sepak Bola Indonesia

- Ketua Komite Wasit PSSI, Yoshimi Ogawa, mengecam tindakan kekerasan terhadap wasit dalam laga Persekat Tegal vs Adhyaksa FC yang berujung pada penyerangan di lapangan.
- Ogawa mengungkapkan insiden lain berupa perusakan mobil wasit usai pertandingan Persijap Jepara kontra Persis Solo oleh orang tak dikenal hingga menyebabkan luka pada perangkat pertandingan.
- Ogawa menegaskan perilaku primitif ini mencoreng citra sepak bola Indonesia dan menimbulkan rasa tidak aman bagi wasit dalam memimpin pertandingan.
Jakarta, IDN Times - Ketua Komite Wasit PSSI, Yoshimi Ogawa, murka setelah melihat masih adanya perilaku primitif di sepak bola Indonesia. Dia menyesalkan wasit perangkat pertandingan di kompetisi domestik masih menjadi sasaran amukan di lapangan.
Insiden yang disorot Ogawa adalah laga lanjutan Championship musim 2025/26, antara Persekat Kabupaten Tegal kontra Adhyaksa FC, pada 1 Maret 2026 lalu. Wasit di laga itu nyaris menjadi samsak hidup.
1. Seperti apa kronologinya?
Dalam laga tersebut, wasit Pipin Indra Pratama menjadi sasaran amukan klub dan suporter tuan rumah. Mereka langsung meluapkan amarahnya setelah kecewa dengan sejumlah keputusan sang pengadil.
Kericuhan pun pecah usai peluit panjang ditiup. Sejumlah pemain dan ofisial Persekat tampak menyerbu Pipin di tengah lapangan, bahkan mengejarnya hingga lorong stadion.
Ogawa mengakui terdapat beberapa keputusan yang keliru dari Pipin. Namun, menurutnya, setiap klub memiliki prosedur resmi untuk menyampaikan protes, bukan dengan menyerang perangkat pertandingan. Dia juga menyoroti tindakan tersebut yang disaksikan oleh anak-anak dan berpotensi menjadi contoh buruk.
"Kami tidak pernah sedikit pun berkeberatan jika ada klub komplain, atau media memberitakan wasit ini berbuat salah, asal semuanya dilakukan dengan cara-cara yang profesional. Tapi cara-cara seperti ini (kekerasan), kita sama-sama tahu tidak bisa diterima," kata Ogawa di GBK Arena.
2. Mobil wasit dirusak orang tak dikenal
Ogawa juga mengungkapkan adanya penyerangan yang dilakukan orang tak dikenal kepada wasit. Insiden itu terjadi usai laga Persijap Jepara kontra Persis Solo, dalam lanjutan Super League 2025/26, pada 5 Maret 2026 lalu.
Mobil yang ditumpangi perangkat pertandingan dalam perjalanannya ke bandara dirusak orang tak dikenal. Imbas serangan itu, beberapa dari mereka mengalami luka-luka.
"Bayangkan ini mobil yang dirusak, di dalamnya mobil wasit, perangkat pertandingan. Mereka dicegat, mobilnya dihancurkan," kata Ogawa.
3. Bikin citra sepak bola Indonesia buruk
Ogawa memperingatkan perilaku primitif ini dapat mencoreng citra sepak bola Indonesia di mata global. Hal tersebut juga dapat memengaruhi wasit dalam memimpin pertandingan, karena dihantui rasa tidak aman.
"Terkadang, wasit membuat masalah atau kesalahan. Namun, itu terjadi tidak hanya di Indonesia, melainkan seluruh dunia. Poin paling penting adalah keamanan. Tidak hanya di sepak bola, sebagai seorang manusia keamanan itu adalah hal yang terpenting. Jika kita tidak bisa memastikan keamanan itu kepada wasit, bagaimana kita bisa menunjuk mereka? Jika para wasit berada di bawah tekanan, bagaimana caranya kita bisa meminta mereka untuk mengambil cara yang benar untuk mengambil keputusan yang diharapkan?" kata Ogawa.


















