Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

5 Kontroversi Piala Dunia 2026, Harga Tiket Selangit Jadi Sorotan

5 Kontroversi Piala Dunia 2026, Harga Tiket Selangit Jadi Sorotan
ilustrasi piala (pixabay.com/Fauzan Sari)
Intinya Sih
  • Piala Dunia 2026 menuai kritik karena perubahan format menjadi 48 tim dan 104 laga dinilai menurunkan intensitas persaingan serta meningkatkan risiko kelelahan pemain.
  • FIFA disorot akibat jadwal pertandingan di wilayah panas ekstrem Amerika Serikat dan Meksiko, sementara efektivitas langkah pencegahan kesehatan pemain masih dipertanyakan.
  • Harga tiket selangit dan sistem penjualan tidak transparan memicu penyelidikan hukum di AS, memperkuat kesan bahwa aspek bisnis lebih dominan dibanding nilai sportivitas turnamen.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?
Share Article

Pergelaran World Cup 2026 atau biasa dikenal sebagai Piala Dunia 2026 kini sudah bisa dihitung dengan jari. Turnamen sepak bola paling bergengsi di dunia yang digelar setiap empat tahun sekali ini akan berlangsung di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko, mulai Kamis (11/6/2026). Seperti edisi-edisi sebelumnya, Piala Dunia 2026 akan membawa antusiasme jutaan pencinta sepak bola di seluruh dunia untuk mendukung timnas dari negara masing-masing.

Menjelang penyelenggaraan Piala Dunia 2026, euforia para pencinta sepak bola semakin memuncak. Namun, di balik euforia tersebut, sejumlah kebijakan dan keputusan yang berkaitan dengan penyelenggaraannya memicu kritik di berbagai kalangan. Bahkan, tidak sedikit dari mereka yang menilai kalau Piala Dunia 2026 akan menjadi salah satu edisi paling kontroversial dalam sejarah ajang empat tahunan tersebut.

Lalu, faktor apa saja yang membuat Piala Dunia 2026 menuai begitu banyak kritik dan kontroversi?

1. Keseruan Piala Dunia 2026 menurun akibat perubahan format pertandingan

Salah satu perombakan terbesar pada Piala Dunia 2026 datang dari keputusan FIFA untuk menambah jumlah peserta dari 32 menjadi 48 tim. Alhasil, jumlah pertandingan yang awalnya 64 laga kini bertambah menjadi 104 laga sehingga durasi turnamen juga ikut bertambah dari 30 menjadi 39 hari. Format baru ini disebut-sebut memiliki kemiripan dengan sistem yang digunakan pada ajang UEFA Euro 2016 dan 2020 yang memungkinkan tim peringkat ketiga fase grup untuk melaju ke babak gugur.

Sekilas, format Piala Dunia 2026 membuka gerbang lebih besar bagi negara-negara underdog untuk bersaing secara kompetitif, tetapi perombakan tersebut menuai kritik dari berbagai pengamat dan analis sepak bola. Mereka menilai kalau penambahan slot ke babak gugur berpotensi menurunkan intensitas persaingan di fase grup karena tim tidak lagi sepenuhnya bergantung pada posisi dua besar untuk lolos ke babak selanjutnya. Tak hanya mengurangi sensasi pertandingan, format baru ini juga dikhawatirkan meningkatkan beban fisik pemain yang berpotensi memperbesar risiko kelelahan dan cedera.

2. FIFA dinilai memaksakan bertanding saat cuaca ekstrem pada Piala Dunia 2026

Piala Dunia 2026 tampaknya menjadi salah satu ujian terberat yang mesti dihadapi para pemain sepak bola. Selain menjalani jadwal pertandingan yang padat, mereka juga harus berhadapan dengan cuaca panas ekstrem yang terjadi di wilayah Meksiko bagian utara dan Amerika Serikat bagian selatan. Sebagaimana dilaporkan oleh BBC, suhu rata-rata siang hari di wilayah tersebut dapat mencapai sekitar 30 derajat Celsius dan bisa melonjak hingga 40 derajat Celsius saat gelombang panas melanda.

Untuk mengantisipasinya, FIFA telah menyiapkan langkah-langkah pencegahan, mulai dari memberikan jeda hidrasi (cooling break) selama pertandingan, memantau kondisi cuaca secara berkala, hingga menyesuaikan jadwal kick-off di stadion yang berisiko mengalami cuaca ekstrem. Di sisi lain, FIFPRO, organisasi yang memperjuangkan hak-hak pemain sepak bola profesional di seluruh dunia, masih mempertanyakan apakah kebijakan tersebut sudah efektif untuk meminimalisir risiko kesehatan akibat paparan cuaca ekstrem. Kritik serupa juga disampaikan oleh Andrew Simms selaku direktur New Weather Institute, lembaga riset cuaca independen asal Inggris, yang menilai FIFA belum sepenuhnya serius dalam menanggapi kekhawatiran terkait keselamatan pemain Piala Dunia 2026.

3. Format multi-tuan rumah membawa mimpi buruk bagi sektor logistik

Penunjukan tiga negara sebagai tuan rumah Piala Dunia 2026 sejatinya merupakan hal baru dalam sejarah turnamen ini. FIFA menyatakan bahwa format multi-tuan rumah tersebut dimaksudkan untuk mengatasi keterbatasan infrastruktur, seperti kapasitas stadion dan akomodasi, yang dikhawatirkan belum memadai jika ditanggung oleh satu negara saja. Di balik berbagai keunggulannya, format multi-tuan rumah juga menimbulkan permasalahan. Para pemain, suporter, penyiar, hingga pihak penyelenggara kompetisi terpaksa harus melakukan perjalanan hingga ribuan kilometer yang berisiko menyebabkan kelelahan sekaligus membengkaknya biaya operasional. Hal tersebut turut diperparah oleh perbedaan zona waktu di ketiga negara tuan rumah yang dapat mengganggu kenyamanan bagi pencinta sepak bola saat menantikan siaran pertandingan Piala Dunia 2026.

4. Keperluan keamanan belum terpenuhi akibat kendala finansial

Tak hanya perkara logistik, aspek keamanan juga menjadi sorotan menjelang Piala Dunia 2026. Diselenggarakan di 16 kota besar, turnamen ini membuat pihak penyelenggara mesti bekerja ekstra untuk memaksimalkan pengamanan di area publik yang akan dipadati oleh jutaan suporter, seperti stadion dan kawasan hotel. Bahkan, dilansir New York Post, operasi keamanan Piala Dunia 2026 telah melibatkan lebih dari 400 lembaga penegak hukum yang bekerja sama dengan otoritas federal dan pihak swasta untuk mengamankan lokasi-lokasi vital.

Masalahnya, sejumlah kota tuan rumah di Amerika Serikat dilaporkan mengkhawatirkan adanya penundaan pencairan dana federal yang disebut mencapai hampir 900 juta dolar Amerika Serikat atau sekitar Rp16 triliun untuk mendukung keamanan Piala Dunia 2026. Miami, Boston, dan Kansas City disebut sebagai kota yang paling vokal menyuarakan kekhawatiran tersebut karena harus menanggung beban biaya yang begitu besar secara mandiri jika pendanaan dari pemerintah federal tidak kunjung cair. Bila situasi tersebut tidak segera diatasi, upaya pengamanan selama Piala Dunia 2026 dikhawatirkan tidak dapat berjalan sebagaimana mestinya.

5. Mahalnya harga tiket dan minimnya transparansi merugikan pengunjung

Mendapat kesempatan menonton Piala Dunia secara langsung tentu menjadi sebuah pengalaman berharga bagi pencinta sepak bola, tapi sebagian dari mereka mungkin akan mengurungkan niatnya setelah mengetahui tingginya harga tiket Piala Dunia 2026. Sebagai respons atas keluhan ini, FIFA kemudian memperkenalkan kategori tiket yang dijual sekitar 60 dolar Amerika Serikat atau sekitar Rp1,09 juta berdasarkan kurs saat ini, tetapi tersedia dalam jumlah yang sangat terbatas. Jika tidak berhasil mendapatkannya, penonton harus membeli tiket reguler yang berkisar antara 120 hingga lebih dari 6.730 dolar Amerika Serikat atau sekitar Rp2,18 juta hingga lebih dari Rp122 juta untuk mendapatkan kursi di stadion.

Baru-baru ini, mengutip Euronews, sejumlah penggemar mengeluhkan terkait kursi yang mereka dapatkan tidak sesuai dengan kategori yang dijanjikan saat pembelian. Keluhan ini mendorong otoritas hukum di negara bagian New York dan New Jersey untuk meminta keterangan terkait mekanisme penetapan harga, perubahan kategori kursi, serta kebijakan penjualan tiket. Mereka menilai FIFA telah menimbulkan kebingungan di kalangan pencinta sepak bola, terlebih akibat sistem dynamic pricing yang dianggap kurang transparan karena harga tiket dapat berubah sewaktu-waktu mengikuti permintaan pasar.

"Tidak seorang pun boleh dimanipulasi untuk membayar harga yang sangat tinggi untuk tiket dan penggemar harus dapat mempercayai bahwa tiket yang mereka beli adalah tiket yang akan mereka terima," ucap Jaksa Agung New York.

"FIFA telah mengubah proses membeli tiket Piala Dunia menjadi serangkaian kebingungan, kelangkaan palsu, dan harga yang sangat tinggi," sebut Jaksa Agung New Jersey.

Melihat deretan polemik yang cukup pelik di atas, para pencinta sepak bola mulai mempertanyakan satu hal: apakah Piala Dunia 2026 terlalu mementingkan aspek bisnis dan komersial dibandingkan dengan nilai-nilai yang selama ini melekat dalam dunia sepak bola? Jika berbagai polemik tadi tidak ditangani secara serius, bukan tidak mungkin Piala Dunia 2026 akan dikenang sebagai salah satu edisi kontroversial sepanjang sejarah kompetisi sepak bola.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Kidung Swara Mardika
EditorKidung Swara Mardika

Related Articles

See More
Piala Dunia 2026 dalam Angka

Piala Dunia 2026 dalam Angka

07 Jun 2026, 06:00 WIBSport