Perkara Sepak Pojok yang Jadi Buah Bibir di Premier League

- Arsenal memicu tren baru di Premier League lewat strategi sepak pojok yang efektif, menghasilkan sekitar sepertiga dari total gol mereka musim ini dan ditiru banyak tim lain.
- Strategi ini menuai pro-kontra; Arne Slot mengkritik monotoninya permainan, sementara Pep Guardiola menilai hal tersebut sebagai bagian dari evolusi taktik sepak bola modern.
- Mantan asisten wasit Darren Cann mengusulkan perubahan aturan untuk membatasi kerumunan pemain di area gawang, namun FIFA dan IFAB belum melihat perlunya revisi regulasi saat ini.
Jakarta, IDN Times - Saat ini, Premier League tengah dilanda sebuah tren menarik. Berawal dari Arsenal, ramai-ramai tim memeragakan dan memaksimalkan skema sepak pojok untuk mencetak gol.
Harus diakui, skema sepak pojok Arsenal, yang menumpuk banyak pemain di kotak kecil penalti, sulit diantisipasi lawan. Sebab, ruang gerak penjaga gawang jadi terbatas, yang membuat sepak pojok susah dihalau.
Efektivitas dari skema Arsenal ini sudah tampak lewat catatan gol mereka dari sepak pojok. Bayangkan, 16 dari 59 gol Arsenal di musim ini berawal dari skema sepak pojok, yang berarti sepertiga dari total gol mereka.
1. Sejumlah tim di Inggris dan luar Inggris meniru

Seiring keberhasilan Arsenal ini, banyak tim meniru skema tersebut, baik di Premier League maupun luar Premier League. Ya, betul sekali, skema Arsenal ini bahkan sempat ditiru Parma dalam salah satu laga Serie A.
Mantan asisten wasit Liga Inggris, Darren Cann, menilai pergumulan pemain di depan gawang saat sepak pojok kerap terjadi sebelum bola ditendang.
Dalam situasi tersebut, wasit tak bisa memberikan pelanggaran karena bola belum dimainkan. Selain itu, Liga Inggris juga banyak tak memberikan pelanggaran untuk tindakan menahan lawan.
"Perebutan bola sering dimulai sebelum tendangan sudut dilakukan. Tidak mungkin memberikan pelanggaran ketika bola tidak sedang dimainkan," ujar Cann, dilansir BBC.
2. Suara-suara mulai bermunculan, sepakat dan tak sepakat

Bukan cuma yang meniru, suara-suara soal maraknya skema sepak pojok di Premier League pun mulai bermunculan. Salah satunya dari pelatih Liverpool, Arnee Slot. Secara terang-terangan, dia muak dengan hal ini.
"Sekarang, sebagian besar pertandingan yang saya lihat di Premier League tidak bisa saya nikmati. ika saya menonton pertandingan liga lain, saya rasa tidak ada penekanan yang begitu besar pada situasi bola mati," kata Slot, dilansir ESPN FC.
Lain Slot, lain juga manajer Manchester City, Pep Guardiola. Dia menyebut, skema sepak pojok Arsenal ini adalah bagian dari evolusi taktik yang terjadi di sepak bola. Dia membuat perbandingan dengan NBA.
Pernah ada masa, tim-tim di NBA membenci Stephen Curry karena terlalu mengandalkan teembakan tiga angka. Namun, ketika hasilnya nyata, dalam wujud gelar juara Golden State Warriors.
"Itu bagian dari evolusi dan bagian dari dinamika. Anda bisa duduk dan mengeluh, tetapi Anda harus beradaptasi. Itu bagian dari permainan, dan itulah sekarang yang sedang terjadi di Premier League," kata Guardiola.
3. Usulan akan adanya perubahan aturan

Cann mengungkapkan, ragam pendapat yang hadir soal sepak pojok ini harus ditanggapi Premier League. Dia menyarankan, liga membuat aturan baru agar taktik menumpuk banyak pemain tak lagi terjadi.
Dia bahkan sempat berdiskusi dengan mantan penyerang Timnas Inggris, Alan Shearer, soal aturan baru tersebut. Shearer punya ide agar wasit berhak memberi pelanggaran saat sepak pojok belum ditendang, dan ada saling dorong di kotak kecil.
"Ide Alan, yang menurut saya memiliki beberapa kelebihan, adalah mengubah Peraturan sehingga begitu wasit meniup peluitnya untuk memulai kembali permainan, wasit kemudian dapat memberikan pelanggaran pada tindakan selanjutnya," ujar Cann.
Cann juga punya gagasan sendiri soal aturan baru yang harus dibuat Premier League saat sepak pojok. Dia menyarankan agar pemain lawan tak boleh di kotak kecil kiper sebelum bola tendangan sudut ditendang.
"Penyerang harus memulai dari luar area gawang (kotak enam yard) sebelum tendangan sudut diambil. Ini akan menyelesaikan masalah area gawang yang ramai dan penjaga gawang yang dikelilingi, dihalangi, dan dihambat," beber Cann.
4. Bagaimana respons IFAB dan FIFA soal ini?

Dewan Asosiasi Sepak Bola Internasional (IFAB) beserta FIFA mafhum akan ramai-ramai soal sepak pojok di Premier League ini. Suara-suara penolakan maupun penerimaan soal ini sudah mereka dengar.
Akan tetapi, FIFA dan IFAB belum melihat fenomena ini sebagai sebuah masalah. Salah satu anggota IFAB, Ian Maxwell bahkan menyebut hal itu bukanlah bahasan utama dalam rapat IFAB yang digelar di Cardiff, Wales, akhir pekan lalu.
Rapat IFAB tersebut lebih membahas amandemen aturan sepakbola secara general. Pada pekan lalu, mereka berfokus pada upaya mengurangi waktu yang terbuang saat lemparan ke dalam atau tendangan gawang.
"Itu (gulat massal di kotak penalti saat sepak pojok) bukan sesuatu yang secara khusus kami bicarakan. Apakah ada perubahan terkait perilaku tersebut selama pertandingan, hal-hal semacam itu terjadi seiring berjalannya sebuah musim," ujar Maxwell, dilansir ESPN FC.
Dalam Laws of The Game (LoTG), ditegaskan bahwa sebelum bola mati ditendang, wasit tidak dapat memberikan pelanggaran. Namun apabila dalam pergulatan itu muncul pelanggaran setelah bola ditendang, wasit berhak meniup peluit.
"Itu jelas ada dalam protokol (LoTG), karena itu secara efektif berpotensi menjadi penalti jika terjadi perebutan bola di tendangan sudut. Jadi dalam protokol saat ini, itu (gulat di kotak kecil penalti) dapat dinilai," kata Maxwell.
Terlepas dari semua suara positif dan negatif yang ada, jempol layak diacungkan bagi Arsenal untuk musim ini. Berkat skema sepak pojok yang mereka canangkan, mereka mengguncang Premier League, bahkan Eropa sekalipun.

















