Alasan Erik ten Hag Tidak Beli Striker Baru saat Krisis Gol

Rasmus Hojlund makin panas

Bursa transfer musim dingin 2024 telah lama ditutup, tepatnya pada Jumat (2/2/2024). Manchester United menjadi salah satu klub yang mengejutkan banyak pihak saat itu. Mereka tidak mendatangkan juru gedor baru untuk mengisi lini serang pada bursa transfer musim dingin.

Hal ini menarik perhatian mengingat masih minimnya kontribusi gol yang dibuat para penyerang asuhan Erik ten Hag pada 2023/2024 ini. The Red Devils hanya mampu mencetak 35 gol dari 25 pertandingan English Premier league. Ini berbanding terbalik dengan rival sekotanya, Manchester City, yang sudah mengemas 58 gol dalam 25 pertandingan.

Kabar buruk ini tambah buruk dengan hengkangnya Jadon Sancho dan Mason Greenwood serta masih menepinya Anthony Martial akibat cedera. Lantas, saat ini, Manchester United hanya bergantung kepada Marcus Rashford dan Rasmus Hojlund sebagai senjata utama di lini serang. Namun, tahukah kamu alasan Erik ten Hag tidak beli striker baru saat krisis gol?

1. Mulai moncernya Rasmus Hojlund di lini depan

Alasan Erik ten Hag Tidak Beli Striker Baru saat Krisis GolRasmus Hojlund (twitter.com/ManUtd)

Salah satu alasan utama Erik ten Hag enggan membeli striker baru adalah moncernya Rasmus Hojlund. Pemain muda asal Denmark yang baru didatangkan dari Atalanta dengan banderol 72 juta pound sterling (sekitar Rp 1,3 triliun) pada musim panas 2023 mulai menunjukan tajinya. Walaupun tampil meragukan pada awal musim, ia berhasil memperlihatkan kualitasnya dan menjadi pilihan utama Ten Hag di skuad Manchaster United di beberapa pertandingan terakhir.

Dalam 6 pertandingan terakhir secara berturut-turut, Hojlund berhasil mencetak 7 gol, termasuk 2 golnya saat mengkandaskan Luton Town di Kenilworth Road pada Minggu (12/2/2024). Itu membuatnya telah mencetak 13 gol dari 30 penampilan bagi The Red Devils di seluruh kompetisi saat ini. Melihat performa Hojlund yang sedang panas, bukan tidak mungkin perolehan gol tersebut bertambah.

Baca Juga: Moncernya Rasmus Hojlund Jadi Asa Kebangkitan Manchester United

2. Masih mencari ujung tombak yang tepat untuk kebutuhan tim

Alasan Erik ten Hag Tidak Beli Striker Baru saat Krisis GolBruno Fernandes selebrasi saat berhasil mencetak gol. (twitter.com/ManUtd)

Erik ten Hag dikenal sebagai pelatih yang detail dan teliti dalam membangun kerangka sebuah tim yang dia latih. Dia hanya akan merekrut pemain yang sesuai kebutuhan tim dan tidak asal-asalan, khususnya dalam merekrut seorang striker. Dia akan melihat terlebih dahulu dan memastikan jika pemain yang akan dibeli cocok dengan gaya permainannya dan kebutuhan tim.

"Seorang striker, hal utamanya adalah mencetak banyak gol dengan cara apa pun. Kami punya kemampuan untuk menempatkan bola ke kotak penalti, jadi kami butuh striker untuk menyelesaikan," ungkap Erik ten Hag seperti dikutip Sky Sports.

Erik ten Hag menginginkan striker yang berbahaya di kotak penalti, mencetak banyak gol, dan bisa mencetak gol dalam kondisi apa pun. Tipe striker seperti itu belum bisa ditemukan pada bursa transfer Januari 2024 lalu. Sempat ada kabar jika nama-nama seperti Timo Werner, Ivan Toney, Mehdi Taremi, sampai Victor Osimhen akan mendekat untuk bisa menjadi striker baru Manchester United. Namun, itu tidak terjadi pada musim dingin.

3. Terhalang aturan FFP

Alasan Erik ten Hag Tidak Beli Striker Baru saat Krisis GolErik ten Hag (twitter.com/ManUtd)

Manchester United telah menghabiskan banyak uang pada bursa transfer musim panas 2023. Nama-nama seperti Andre Onana (Inter Milan), Mason Mount (Chelsea), Rasmus Hojlund (Atalanta), Sofyan Amrabat (Fiorentina), dan Altay Bayındır (Fenerbahce) berhasil mereka datangkan untuk memperkuat kedalaman tim. Sayangnya, melihat krisis gol yang terjadi hingga pekan ke-25 membuat The Red Devils harus membeli penyerang baru untuk bisa menyelesaikan masalah tersebut.

"Bukan rahasia lagi, kami menginginkan striker. Dengan cedera Martial, kami jelas membutuhkan cadangan. Akan tetapi, hal itu tidak mungkin karena ada aturan FFP," ucap Erik ten Hag kepada Sky Sports.

Terlalu borosnya belanja pada musim panas lalu memang membuat Manchester United nyaris terkena hukuman. Itu akibat dari membengkaknya pengeluaran klub yang hampir saja melanggar aturan Financial Fair Play (FFP). Untuk menghindari hukuman, mereka harus membuang pemainnya terlebih dahulu sebelum membeli pemain incaran. Hal itu sangat tidak menguntungkan bagi Erik ten Hag dan Manchester United.

Baca Juga: 5 Pemain yang Menjadi Top Skor Manchester United pada Musim Debut

Muhamad Luthfi Maruf Photo Writer Muhamad Luthfi Maruf

Fans Arsenal karna Jerseynya mirip sama Indonesia

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topik:

  • Gagah N. Putra

Berita Terkini Lainnya