Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Marie-Louise Eta, Pelatih Perempuan Pertama di Liga Top Eropa
ilustrasi pelatih (pexels.com/cottonbro studio)
  • Marie Louise Eta resmi ditunjuk sebagai pelatih kepala FC Union Berlin, menjadikannya perempuan pertama yang memimpin tim pria di Bundesliga setelah berkarier sejak 2023 di klub tersebut.
  • Penunjukan Eta menuai reaksi beragam; sebagian fans mendukung langkah progresif ini, sementara lainnya meragukan kemampuannya dan menilai keputusan klub dipengaruhi bias gender.
  • Kontrak Eta berlaku hingga Juni 2026, memunculkan pertanyaan apakah langkah Union Berlin murni demi kesetaraan atau sekadar strategi pemasaran untuk menarik perhatian publik.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Selama ini, profesi pelatih dalam cabor sepak bola didominasi laki-laki. Bahkan untuk tim sepak bola perempuan sekalipun, pelatih laki-laki bisa dengan luwesnya meraih posisi strategis tersebut. Beda kasusnya dengan pelatih bergender perempuan. Mereka hampir tak pernah terlihat dipercaya memegang posisi kepala pelatih di sebuah tim sepak bola profesional laki-laki.

Sampai akhirnya, FC Union Berlin membuat sebuah gebrakan. Untuk pertama kalinya, tim yang berlaga di Bundesliga Jerman, salah satu liga sepak bola top Eropa, itu menunjuk Marie-Louise Eta sebagai pengganti Steffen Baumgart per 12 April 2026. Perekrutannya bikin penonton terpolarisasi, mengingat sepak bola laki-laki adalah ranah yang hipermaskulin. Pertanyaannya, pertimbangan apa yang dipakai Union Berlin? Apakah ini strategi pemasaran belaka?

1. Marie-Louise Eta bukan orang baru di Union Berlin

Penunjukkan Marie-Louise Eta sebagai pelatih utama di tim sepak bola laki-laki Union Berlin sebenarnya bukan sebuah keputusan acak dari manajemen. Eta sudah bergabung dengan klub itu sejak 2023, dimulai dengan mengisi posisi asisten pelatih tim kelompok usia. Dalam hitungan bulan sejak bergabung, ia promosi ke tim senior sebagai asisten pelatih tim senior laki-laki. Tak tanggung-tanggung, pada November 2023, Eta memecahkan rekor sebagai pelatih perempuan pertama yang mendampingi tim pada laga lanjutan Bundesliga 2023/2024 antara FC Union Berlin dan FC Augsburg.

Saat itu, pelatih utama Union Berlin Nenad Bjelica diskors dan Eta ditunjuk menggantikannya sementara. Eta sempat ditarik ke tim perempuan pada 2024. Pada Juli 2025, ia dipromosikan jadi pelatih utama untuk tim laki-laki U-19 hingga akhirnya direkrut menggantikan Baumgart kurang dari setahun kemudian. Intinya, Eta bukan nama baru di Union Berlin. Manajemen, pemain, dan staf sudah mengenalnya dengan baik ketika ia ditunjuk menggantikan Baumgart.

2. Perekrutannya dapat beragam sambutan, positif dan negatif sekaligus

Saat FC Union Berlin mengumumkan perekrutan resmi Marie-Louise Eta sebagai kepala pelatih tim senior laki-laki, respons positif dan negatif saling bersautan. Fans loyal Union Berlin tampak menyambut baik. Mereka membanjiri media sosial resmi klub dengan kata-kata positif, memuji manajemen dan mendoakan kelancaran karier Eta. Namun, tak sedikit komentar negatif yang nyempil di antara ribuan komen itu. Ada yang meragukan kemampuan Eta sampai menganggap ini sebagai keputusan konyol.

Komentar julid lain berbunyi, perempuan sepantasnya melatih tim perempuan. Sebaliknya, tim laki-laki selayaknya dilatih laki-laki pula. Namun, tak sedikit yang penasaran bakal sebagus apa performa Eta sebagai pelatih Union Berlin beberapa bulan ke depan. Semuanya respons yang sudah tertebak. Meski masyarakat global diklaim makin progresif dan inklusif, nyatanya gebrakan seperti ini masih menuai pro dan kontra. Apalagi untuk sektor-sektor hipermaskulin, yakni yang mengandalkan fisik, agresi, dan koersi seperti olahraga, keterlibatan perempuan dalam posisi strategis bakal memicu kelompok-kelompok tertentu yang selama ini diuntungkan atau dibikin nyaman sistem yang sudah ada seperti patriarki untuk menyerang.

3. Gebrakan yang tulus atau strategi pemasaran belaka

Pertanyaan menarik lain yang bisa kita lontarkan soal keputusan Union Berlin merekrut Marie-Louise Eta adalah intensi sejatinya. Meski terlihat sebagai gebrakan yang menyegarkan, kita belum bisa memastikan apakah ini dilakukan memang semata-mata karena manajemen buta gender. Bisa juga justru sebaliknya, ini mereka lakukan karena sadar betapa besarnya pengaruh gender terhadap citra publik mereka. Bila kita telaah lebih dalam, perekrutan Eta sejauh ini bersifat sementara.

Kontraknya sebagai pelatih utama hanya berlaku sampai 30 Juni 2026 alias akhir musim Bundesliga 2025/2026. Ini artinya, FC Union Berlin membuka opsi untuk merekrut pelatih baru pada musim depan. Eta berpotensi masuk bursa, tetapi pasti akan bergantung kepada performanya selama 2 bulan ke depan. Meski sudah dikenal baik tim dan bisa saja berprestasi, ia tetap berpotensi digantikan posisinya ketika manajemen menemukan pelatih yang secara reputasi dan pengalaman lebih baik. Mirisnya, sosok pengganti ini kemungkinan besar bergender laki-laki.

Revelasi lain yang wajib masuk konsiderasi adalah fakta dunia tidak benar-benar progresif dan inklusif seperti yang kita kira. Kita boleh bergembira melihat fenomena Eta, tetapi bisa saja hanya penghibur sejenak di tengah gonjang-ganjing global. Seperti yang ditulis Anton Jager dalam Hyperpolitics: Extreme Politicization without Political Consequences (2026), kita sedang di era ketika semua isu dengan mudah dipolitisasi, terutama lewat media sosial dan diinisiasi jadi gerakan di ranah siber, tetapi pada realitasnya tak banyak perubahan institusional yang benar-benar terwujud. Ada ilusi kalau penduduk dunia ini makin melek, tetapi sebenarnya sama saja, masih konservatif, apatis, dan kapitalis.

Melihat fenomena itu, Marie-Louise Eta memang bisa saja dipakai sebagai token pemasaran. Namun, setidaknya ia mencetak sejarah yang bakal dikenang orang selamanya dan harapannya menginspirasi lebih banyak perempuan untuk mengejar karier kepelatihan yang selama ini didominasi laki-laki.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team