Pertanyaan menarik lain yang bisa kita lontarkan soal keputusan Union Berlin merekrut Marie-Louise Eta adalah intensi sejatinya. Meski terlihat sebagai gebrakan yang menyegarkan, kita belum bisa memastikan apakah ini dilakukan memang semata-mata karena manajemen buta gender. Bisa juga justru sebaliknya, ini mereka lakukan karena sadar betapa besarnya pengaruh gender terhadap citra publik mereka. Bila kita telaah lebih dalam, perekrutan Eta sejauh ini bersifat sementara.
Kontraknya sebagai pelatih utama hanya berlaku sampai 30 Juni 2026 alias akhir musim Bundesliga 2025/2026. Ini artinya, FC Union Berlin membuka opsi untuk merekrut pelatih baru pada musim depan. Eta berpotensi masuk bursa, tetapi pasti akan bergantung kepada performanya selama 2 bulan ke depan. Meski sudah dikenal baik tim dan bisa saja berprestasi, ia tetap berpotensi digantikan posisinya ketika manajemen menemukan pelatih yang secara reputasi dan pengalaman lebih baik. Mirisnya, sosok pengganti ini kemungkinan besar bergender laki-laki.
Revelasi lain yang wajib masuk konsiderasi adalah fakta dunia tidak benar-benar progresif dan inklusif seperti yang kita kira. Kita boleh bergembira melihat fenomena Eta, tetapi bisa saja hanya penghibur sejenak di tengah gonjang-ganjing global. Seperti yang ditulis Anton Jager dalam Hyperpolitics: Extreme Politicization without Political Consequences (2026), kita sedang di era ketika semua isu dengan mudah dipolitisasi, terutama lewat media sosial dan diinisiasi jadi gerakan di ranah siber, tetapi pada realitasnya tak banyak perubahan institusional yang benar-benar terwujud. Ada ilusi kalau penduduk dunia ini makin melek, tetapi sebenarnya sama saja, masih konservatif, apatis, dan kapitalis.
Melihat fenomena itu, Marie-Louise Eta memang bisa saja dipakai sebagai token pemasaran. Namun, setidaknya ia mencetak sejarah yang bakal dikenang orang selamanya dan harapannya menginspirasi lebih banyak perempuan untuk mengejar karier kepelatihan yang selama ini didominasi laki-laki.