Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Mengingat Kartu Merah Zidane 2006, Akhir Tragis sang Legenda
ilustrasi kartu merah (pexels.com/BOOM 💥 Photography)
  • Zinedine Zidane memimpin Prancis hingga final Piala Dunia 2006, menunjukkan performa luar biasa sejak fase gugur dengan menyingkirkan Spanyol, Brasil, dan Portugal sebelum menghadapi Italia di Berlin.
  • Laga final berlangsung ketat dan penuh tensi; gol penalti Panenka Zidane disamakan oleh sundulan Materazzi, membuat pertandingan berlanjut hingga perpanjangan waktu tanpa tambahan gol.
  • Adu mulut Zidane dan Materazzi berujung tandukan yang menghasilkan kartu merah menit ke-110, membuat Prancis kehilangan kaptennya sebelum akhirnya kalah adu penalti 5-3 dari Italia.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Final Piala Dunia 2006 di Berlin mempertemukan Prancis dan Italia dalam laga yang berlangsung sangat ketat. Pertandingan itu juga menjadi penampilan terakhir Zinedine Zidane sebelum pensiun dari sepak bola profesional. Namun, malam yang seharusnya menjadi perpisahan sempurna justru berakhir dengan salah satu insiden paling terkenal dalam sejarah Piala Dunia.

Kartu merah yang diterima Zidane pada masa perpanjangan waktu mengubah arah pertandingan dan meninggalkan banyak perdebatan hingga sekarang. Momen tersebut bahkan masih sering dibahas setiap kali publik mengenang final-final terbaik sepanjang sejarah turnamen. Lalu, bagaimana kronologi kartu merah yang mengakhiri perjalanan sang legenda di panggung Piala Dunia?

1. Zidane tampil sebagai pemimpin Prancis

Piala Dunia 2006 sebenarnya menjadi ajang pembuktian bagi Zinedine Zidane. Sebelum turnamen dimulai, banyak pihak menilai generasi emas Prancis sudah melewati masa terbaiknya. Namun sang gelandang justru menunjukkan kualitas yang membuatnya pernah menjadi pemain terbaik dunia. Pengaruhnya terlihat jelas sejak fase gugur ketika Prancis mulai menemukan performa terbaik.

Zidane membawa Prancis menyingkirkan Spanyol pada babak 16 besar. Setelah itu ia tampil dominan saat menghadapi Brasil yang diperkuat banyak bintang. Prancis kemudian mengalahkan Portugal pada semifinal melalui gol penalti sang kapten. Perjalanan tersebut membuat final di Berlin terasa seperti kesempatan terakhir Zidane untuk menutup karier internasional dengan trofi terbesar. Kehadirannya menjadi pusat permainan Les Bleus sepanjang turnamen. Hampir setiap serangan berbahaya selalu berawal dari visi dan kreativitasnya di lini tengah.

2. Final Berlin berlangsung dalam intensitas tinggi

Pertandingan final langsung menghadirkan tensi tinggi sejak menit-menit awal. Prancis memperoleh penalti pada menit ketujuh setelah Florent Malouda dijatuhkan di area terlarang. Zidane maju sebagai eksekutor dan mencetak gol lewat tendangan Panenka yang sempat membentur mistar sebelum melewati garis gawang. Gol tersebut menjadi salah satu penalti paling berani dalam sejarah final Piala Dunia.

Italia merespons dengan cepat dan menyamakan kedudukan melalui sundulan Marco Materazzi dari situasi sepak pojok. Setelah skor berubah menjadi 1-1, pertandingan berkembang menjadi duel taktis yang sangat ketat. Lini tengah dipenuhi perebutan bola dan duel fisik yang keras. Italia mencoba memanfaatkan bola mati sementara Prancis lebih banyak membangun serangan lewat penguasaan bola. Hingga waktu normal berakhir, kedua tim gagal menemukan gol tambahan sehingga pertandingan harus dilanjutkan ke babak perpanjangan waktu.

3. Adu mulut dengan Materazzi menjadi titik balik

Babak tambahan berlangsung dengan tempo yang mulai menurun karena faktor kelelahan. Meski demikian, tensi pertandingan tetap tinggi karena kedua tim mengetahui satu kesalahan kecil bisa menentukan gelar juara dunia. Pada menit-menit akhir perpanjangan waktu, Zidane dan Materazzi terlibat kontak fisik ringan ketika bola sedang berada di area lain lapangan. Situasi seperti itu sebenarnya cukup umum terjadi dalam pertandingan besar.

Keduanya kemudian terlihat saling bertukar kata saat berjalan kembali mengikuti permainan. Materazzi terus berbicara kepada Zidane dan memancing respons dari kapten Prancis tersebut. Beberapa tahun setelah pertandingan, Materazzi mengakui dirinya memang melontarkan komentar yang memicu kemarahan lawannya. Zidane yang sebelumnya terlihat tenang akhirnya kehilangan kesabaran. Keputusan yang diambil beberapa detik kemudian menjadi momen yang mengubah arah final. Insiden tersebut juga langsung menghapus fokus dari jalannya pertandingan yang sebelumnya berjalan seimbang.

4. Tandukan Zidane dan keputusan kartu merah

Zidane tiba-tiba berbalik dan menghantam dada Materazzi menggunakan kepalanya. Bek Italia itu langsung terjatuh di atas rumput Olympiastadion Berlin. Banyak pemain di lapangan terlihat terkejut karena kejadian tersebut berlangsung sangat cepat. Pertandingan pun sempat terhenti ketika para pemain Italia mengerubungi wasit Horacio Elizondo untuk meminta tindakan tegas.

Elizondo tidak melihat langsung insiden tersebut karena posisinya cukup jauh dari lokasi kejadian. Komunikasi dengan asisten wasit dan ofisial pertandingan kemudian dilakukan sebelum keputusan diambil. Setelah menerima informasi yang lengkap, wasit asal Argentina itu memanggil Zidane. Kartu merah langsung pun dikeluarkan pada menit ke-110. Sang kapten berjalan meninggalkan lapangan dengan ekspresi datar. Momen ketika Zidane melewati trofi Piala Dunia dalam perjalanan menuju lorong stadion kemudian menjadi salah satu foto paling ikonis dalam sejarah sepak bola.

5. Italia memanfaatkan situasi dan mengunci gelar dunia

Kehilangan Zidane menjadi pukulan besar bagi Prancis menjelang akhir pertandingan. Les Bleus kehilangan pemain yang selama ini menjadi pusat kreativitas serangan sekaligus salah satu eksekutor penalti terbaik mereka. Meski bermain dengan sepuluh orang, Prancis tetap mampu mempertahankan skor hingga babak tambahan berakhir. Namun situasi itu memberi keuntungan psikologis bagi Italia yang memasuki adu penalti dengan kepercayaan diri lebih tinggi.

Pada babak adu penalti, seluruh eksekutor Italia sukses menjalankan tugasnya dengan sempurna. Prancis sebenarnya mengawali sesi tersebut dengan baik melalui gol Sylvain Wiltord dan David Trezeguet yang masuk sebagai pemain pengganti. Namun tendangan Trezeguet membentur mistar dan memantul keluar lapangan. Kesalahan itu menjadi pembeda dalam duel yang sangat tipis. Italia akhirnya menang 5-3 dalam adu penalti dan meraih gelar dunia keempat mereka. Sementara itu, karier internasional Zidane berakhir bukan dengan mengangkat trofi, melainkan dengan kartu merah di laga terakhirnya.

Final Piala Dunia 2006 tidak hanya dikenang karena keberhasilan Italia menjadi juara dunia. Pertandingan tersebut juga melahirkan salah satu insiden paling terkenal yang pernah terjadi di panggung sepak bola internasional. Hingga kini, kartu merah Zidane tetap menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari sejarah besar Piala Dunia.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

Related Article