Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
potret stadion Old Trafford, markas Manchester United (unsplash.com/Harry Walsh)
  • Avram Glazer menyatakan kekuatan komersial Manchester United tidak bergantung pada performa lapangan, sejalan dengan komentar Ed Woodward pada 2018, saat klub dikabarkan berada di posisi 17 EPL 2026/2027.

  • Pendapatan komersial MU tumbuh melambat hingga 317 juta pound pada 2025/2026, sementara total utangnya mencapai 779 juta pound dan klub membukukan kerugian selama tujuh musim beruntun.

  • Sejak akuisisi berutang keluarga Glazer pada 2005, MU menanggung beban finansial besar; keluarga itu meraih dividen, biaya manajemen, serta hasil penjualan saham, sedangkan prestasi tim menurun setelah 2013.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Dalam gelaran Deutsche Bank Sports Investment Conference di London, Inggris, Avram Glazer melontarkan pernyataan yang menyulut emosi pendukung Manchester United. Co-Chairman klub itu menegaskan, kekuatan komersial sebuah tim sekelas MU tidak bergantung pada hasil di atas lapangan. Ia menyandingkan klubnya dengan New York Yankees dan Dallas Cowboys yang tetap menjadi merek global meski puasa gelar juara bertahun-tahun. 

Pernyataan itu sudah terjadi pada September 2026 lalu, tetapi baru terungkap kepada publik pada 5 November 2026. Ironisnya, ucapan itu dilontarkan hanya berselang beberapa pekan sebelum MU terperosok ke posisi 17 klasemen English Premier League (EPL) 2026/2027. Benarkah keluarga asal Amerika Serikat itu benar-benar tak peduli dengan nasib tim di lapangan, atau pernyataan tersebut justru menyingkap watak asli kepemilikan mereka selama 2 dekade terakhir?

1. Sebelum Avram Glazer, Ed Woodward pernah sebut performa Manchester United tak berdampak kepada nilai komersial

Forum yang mempertemukan lebih dari 350 investor, pemilik klub, dan pengambil kebijakan itu menghadirkan Avram Glazer dengan tiga identitas sekaligus, sebagai Co-Chairman Manchester United, pemilik Tampa Bay Buccaneers di National Football League (NFL) di AS, dan Chairman Innovate Corp. Kehadirannya di panggung tersebut, menurut sumber yang mengetahui situasi, bukan kebetulan belaka, melainkan sinyal jika ia tengah membuka pintu bagi peluang investasi baru. Narasi bahwa paceklik performa MU tidak berimbas terhadap nilai komersil klub sengaja dibangun untuk menarik minat calon investor.

Sesungguhnya, klaim itu bukan hal baru bagi internal MU. Ed Woodward, mantan wakil ketua eksekutif klub, pernah melontarkan pernyataan senada pada Mei 2018 saat ditanya pemegang saham mengenai korelasi antara performa tim yang membaik di bawah Jose Mourinho dengan pendapatan tahunan klub yang tembus 590 juta pound sterling (Rp14,37 triliun). “Performa di lapangan sesungguhnya tidak memiliki dampak berarti terhadap apa yang bisa kami lakukan di sisi komersial,” ujar Woodward mengutip The Athletic, kalimat yang nyaris identik dengan yang diucapkan Avram 8 tahun kemudian.

Pesan serupa ternyata telah lama disampaikan secara internal kepada staf bagian bisnis, yang kerap diingatkan untuk tidak menjadikan naik-turunnya performa tim sebagai alasan gagal mencapai target pendapatan. Padahal, pelaku industri yang memahami seluk-beluk bisnis olahraga menilai kenyataannya jauh lebih rumit. Sebab, menggaet mitra bisnis bernilai besar jelas lebih sulit dilakukan di tengah masa paceklik prestasi.

Acuan utama keluarga Glazer dalam menilai performa bisnis mereka sendiri adalah daftar klub termahal versi Forbes, dan di sinilah ironi kian kentara. Pada Mei 2026, MU tergeser ke peringkat ketiga klub sepak bola termahal dunia dengan valuasi 7,2 miliar dolar AS atau setara Rp130,5 triliun, tergeser oleh FC Barcelona di peringkat kedua dan Real Madrid yang masih kokoh sebagai klub sepak bola dengan nilai valuasi tertinggi di dunia. Ironisnya, klub NFL yang justru dijadikan Avram sebagai rujukan ketangguhan komersial, Dallas Cowboys, konsisten didapuk sebagai tim olahraga termahal sejagat dengan valuasi 17 miliar dolar AS (Rp308,2 triliun) pada 2026, jauh melampaui MU meski kedua klub sama-sama menjalani musim-musim tanpa trofi kejuaraan.

2. Jika melihat nilai perputaran uang Manchester United, klaim Avram Glazer jelas terbantahkan

Klaim bahwa kekuatan komersial Manchester United kebal dari gejolak performa lapangan nyatanya mudah dipatahkan hanya dengan menengok tren pendapatan klub dalam beberapa musim terakhir. Dilansir Football365, Pendapatan komersial yang melonjak tajam dari 152 juta pound sterling (Rp3,703 triliun) pada 2012/2013 menjadi 276 juta pound sterling (Rp6,724 triliun) pada 2017/2018, kini justru melandai dan hanya mencapai 317 juta pound sterling (Rp7,721 triliun) pada 2025/2026. Perlambatan pertumbuhan yang signifikan ini terjadi justru pada saat rival-rival Eropa dan domestik terus mencatatkan lonjakan pendapatan sponsorship yang jauh lebih agresif.

Beban utang MU turut menjadi bukti bahwa narasi kebal prestasi hanya menutupi kebobrokan klub. Hingga akhir Juni 2026, total utang finansial MU mencapai 689 juta pound sterling (Rp16,781 triliun), naik 52 juta pound sterling (Rp1,266 triliun) dibanding tahun sebelumnya, yang sebagian besar warisan dari proses pengambilalihan kepemilikan pada 2005. Ditambah dengan pinjaman jangka pendek melalui revolving credit facility sebesar 200 juta pound sterling (Rp4,872 triliun), posisi utang klub kini berada di angka 779 juta pound sterling (Rp18,974 triliun), salah satu yang tertinggi sepanjang sejarah kepemilikan Glazer.

Bunga pinjaman yang harus dibayarkan setiap tahun kini menembus 40 juta pound sterling (Rp974 miliar) lebih, dana yang semestinya bisa dialokasikan untuk kebutuhan tim maupun infrastruktur. Klub bahkan mencatatkan kerugian selama 7 musim beruntun meski pendapatan mencetak rekor tertinggi pada 2025/2026. Pembagian dividen kepada pemegang saham pun dihentikan sejak 2022, bukan karena keluarga Glazer tiba-tiba berbelas kasih, melainkan karena sumber daya klub sudah tak lagi mencukupi untuk menanggungnya.

Perbandingan dengan klub-klub Premier League lain makin menggarisbawahi betapa timpangnya posisi MU. Chelsea disokong Roman Abramovich selama 19 tahun sebelum BlueCo melanjutkan tradisi suntikan dana, sementara Arsenal, Tottenham Hotspur, hingga Liverpool sama-sama menerima aliran dana segar dari pemilik mereka masing-masing dalam beberapa tahun terakhir. Jika biaya penerbitan utang dan pembayaran bunga dikeluarkan dari hitungan, pendanaan bersih keluarga Glazer kepada MU justru tercatat negatif 762 juta pound sterling (- Rp18,599 triliun), fakta yang jauh dari kesan tahan dari krisis yang coba dibangun Avram di hadapan para investor.

3. Sudah 2 dekade lamanya Manchester United harus menanggung utang sejak diambil alih keluarga Glazer

Akar dari seluruh kontroversi ini bermula 21 tahun lalu, tepatnya pada Mei 2005. Keluarga Glazer menuntaskan pengambilalihan Manchester United melalui skema pembelian terutang yang mengubah klub bebas-utang sejak 1931 menjadi terbebani utang hingga 580 juta pound sterling (Rp14,122 triliun) dalam semalam. Skema pinjaman payment-in-kind yang digunakan kala itu bahkan membuat bunga tahunan pertama saja mencapai 63 juta pound sterling (Rp1,509 triliun), angka yang membuat sejumlah bankir dan analis finansial enggan terlibat dalam pendanaan transaksi tersebut. 

Sementara klub bergelut dengan beban utang warisan, keluarga Glazer justru meraup keuntungan pribadi yang signifikan lewat kombinasi dividen, biaya manajemen, dan penjualan saham sejak pertengahan 2022. Penjualan sebagian saham kepada Sir Jim Ratcliffe kemudian memberi mereka tambahan dana segar sekitar 909,2 juta dolar AS (Rp16,485 triliun). Padahal, modal awal yang mereka setorkan saat mengakuisisi klub pada 2005 diperkirakan hanya berkisar 270 juta pound sterling (Rp6,573 triliun), sebagian bahkan diduga turut dibiayai lewat skema leverage dari bisnis mereka di Amerika Serikat.

Andy Walsh, mantan aktivis Independent Manchester United Supporters Association (IMUSA), menyebut keluarga Glazer sebagai “lintah” karena dianggap menyedot pendapatan klub demi kepentingan pribadi sambil mencekik jati diri MU. Sejak Sir Alex Ferguson pensiun pada 2013 setelah membawa klub meraih lima gelar juara Primer League, Setan Merah hanya mampu mengoleksi lima trofi kejuaraan dalam 13 tahun berikutnya. Kontras tajam ini memperlihatkan bahwa era kejayaan di lapangan dahulu justru menjadi tabir yang menutupi persoalan sesungguhnya di ruang rapat manajemen klub.

Pernyataan Avram Glazer di hadapan para investor bukanlah pengakuan baru, melainkan cermin jujur dari filosofi bisnis yang telah dijalankan keluarganya sejak 2 dekade silam. Klub hanya dipandang sebagai mesin pencetak keuntungan, bukan proyek olahraga yang layak diperjuangkan demi kemenangan. Selama pola ini tak berubah, suporter Manchester United tampaknya harus terbiasa menyaksikan jarak yang kian lebar antara ambisi di lapangan dan kepentingan keluarga Glazer.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article