Forum yang mempertemukan lebih dari 350 investor, pemilik klub, dan pengambil kebijakan itu menghadirkan Avram Glazer dengan tiga identitas sekaligus, sebagai Co-Chairman Manchester United, pemilik Tampa Bay Buccaneers di National Football League (NFL) di AS, dan Chairman Innovate Corp. Kehadirannya di panggung tersebut, menurut sumber yang mengetahui situasi, bukan kebetulan belaka, melainkan sinyal jika ia tengah membuka pintu bagi peluang investasi baru. Narasi bahwa paceklik performa MU tidak berimbas terhadap nilai komersil klub sengaja dibangun untuk menarik minat calon investor.
Sesungguhnya, klaim itu bukan hal baru bagi internal MU. Ed Woodward, mantan wakil ketua eksekutif klub, pernah melontarkan pernyataan senada pada Mei 2018 saat ditanya pemegang saham mengenai korelasi antara performa tim yang membaik di bawah Jose Mourinho dengan pendapatan tahunan klub yang tembus 590 juta pound sterling (Rp14,37 triliun). “Performa di lapangan sesungguhnya tidak memiliki dampak berarti terhadap apa yang bisa kami lakukan di sisi komersial,” ujar Woodward mengutip The Athletic, kalimat yang nyaris identik dengan yang diucapkan Avram 8 tahun kemudian.
Pesan serupa ternyata telah lama disampaikan secara internal kepada staf bagian bisnis, yang kerap diingatkan untuk tidak menjadikan naik-turunnya performa tim sebagai alasan gagal mencapai target pendapatan. Padahal, pelaku industri yang memahami seluk-beluk bisnis olahraga menilai kenyataannya jauh lebih rumit. Sebab, menggaet mitra bisnis bernilai besar jelas lebih sulit dilakukan di tengah masa paceklik prestasi.
Acuan utama keluarga Glazer dalam menilai performa bisnis mereka sendiri adalah daftar klub termahal versi Forbes, dan di sinilah ironi kian kentara. Pada Mei 2026, MU tergeser ke peringkat ketiga klub sepak bola termahal dunia dengan valuasi 7,2 miliar dolar AS atau setara Rp130,5 triliun, tergeser oleh FC Barcelona di peringkat kedua dan Real Madrid yang masih kokoh sebagai klub sepak bola dengan nilai valuasi tertinggi di dunia. Ironisnya, klub NFL yang justru dijadikan Avram sebagai rujukan ketangguhan komersial, Dallas Cowboys, konsisten didapuk sebagai tim olahraga termahal sejagat dengan valuasi 17 miliar dolar AS (Rp308,2 triliun) pada 2026, jauh melampaui MU meski kedua klub sama-sama menjalani musim-musim tanpa trofi kejuaraan.