Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Mengulik Penyebab Argentina Tak Berkutik di Final Piala Dunia 2026
ilustrasi jersey Timnas Argentina (unsplash.com/dwlly)
  • Argentina gagal mempertahankan gelar Piala Dunia 2026 setelah kalah 0-1 dari Spanyol melalui gol Ferran Torres pada babak tambahan di MetLife Stadium.
  • Selama 120 menit, Argentina tidak mencatatkan tembakan tepat sasaran; xG mereka 0,00 pada waktu normal dan baru menghasilkan dua tembakan melenceng di babak tambahan.
  • Dominasi Spanyol, termasuk 789 operan sukses dan pressing lini tengah, memutus kreativitas Argentina; catatan ini kontras dengan sembilan tembakan tepat sasaran mereka pada final 2022.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Final Piala Dunia 2026 antara Spanyol dan Argentina di MetLife Stadium, New Jersey, menyisakan catatan kelam bagi La Albiceleste. Pertama, mereka gagal mempertahankan gelar juara usai kalah 0-1 lewat gol tunggal Ferran Torres pada babak tambahan. Kedua, Argentina mencatatkan rekor ofensif terburuk sepanjang sejarah final Piala Dunia.

Sepanjang 120 menit laga berjalan, lini serang Argentina yang dihuni nama-nama besar benar-benar dibuat mati kutu oleh barisan pertahanan Spanyol. Anak asuh Lionel Scaloni bahkan gagal mencatatkan satu pun tembakan tepat sasaran. Sangat berbeda dengan Spanyol yang begitu agresif dengan sebelas shots on target.

1. Tim pertama dalam sejarah yang gagal melepas tembakan tepat sasaran di final Piala Dunia

Dilansir OptaAnalyst, belum pernah ada satu pun tim yang mengakhiri laga final tanpa melepaskan tembakan tepat sasaran. Argentina resmi menjadi tim pertama dalam sejarah yang mengukir catatan tersebut di partai puncak. Tak cuma gagal mempertahankan gelar, Lionel Messi dan kawan-kawan juga gagal dari sisi strategi.

Rapatnya barisan belakang La Furia Roja membuat alur serangan Argentina terputus sebelum masuk ke area berbahaya. Ketergantungan pada kreasi serangan dari lini tengah pun berhasil diredam sepenuhnya oleh permainan dominan skuad asuhan Luis de la Fuente. Spanyol mencatatkan 789 operan sukses dari 878 percobaan (89,86 persen), sangat berbeda dengan Argentina dengan 375 operan sukses dari 476 percobaan (78,78 persen).

2. Mencatatkan expected goals 0,00 dan gagal melepas percobaan tembakan pada waktu normal

Performa lini serang Argentina sepanjang waktu normal terbilang amat memprihatinkan. Mereka sama sekali tidak mampu membuat peluang bersih maupun tembakan melenceng. Minimnya aliran bola ke lini depan membuat Lionel Messi dan Julian Alvarez tak berkutik.

Dilansir Diario AS, statistik mencatat nilai expected goals (xG) Argentina berada di angka 0,00 selama 90 menit pertama. Dominasi penguasaan bola Spanyol memaksa Argentina lebih banyak bertahan di area sendiri dan terisolasi di sepertiga akhir lapangan lawan. Argentina baru melepas dua tembakan melenceng pada babak tambahan, termasuk percobaan Lionel Messi pada menit ke-117. Namun, shot on target tetap nol hingga laga usai.

3. Statistik Argentina berbanding terbalik dengan final Piala Dunia 2022 melawan Prancis

Catatan negatif tersebut sangat kontras jika dibandingkan dengan performa beringas Argentina saat membungkam Prancis pada final Piala Dunia 2022. Dilansir situs resmi FIFA, La Albiceleste saat itu tampil begitu agresif dengan melepaskan total 21 percobaan (13 dari dalam kotak penalti) dan membukukan 9 shot on target. Sangat jauh melampaui Prancis yang hanya mencatatkan 10 percobaan dan 5 tembakan tepat sasaran.

Ketajaman luar biasa serta dominasi ancaman di Stadion Lusail 4 tahun lalu itu seolah lenyap tanpa bekas. Penurunan drastis dari sembilan shots on target menjadi nihil menegaskan keberhasilan Spanyol mengisolasi sumber kreativitas sang juara bertahan. Dilansir BBC, dominasi duet Rodri dan Fabian Ruiz di lini tengah sukses memutus alur bola Argentina sebelum menyentuh lini belakang. Kedisiplinan dan pressing ketat barisan pertahanan Spanyol pun berhasil mengunci rapat pergerakan lawan, sehingga tak ada celah sedikit pun bagi Argentina untuk melepas tembakan.

4. Sebelumnya, catatan nol tembakan tepat sasaran hanya tercipta pada fase penyisihan grup

Meski menjadi yang pertama di laga final, kegagalan melepas shot on target dalam waktu normal (90 menit) sejatinya pernah beberapa kali terjadi pada fase grup Piala Dunia. Kasus paling mencolok terjadi kepada Kosta Rika. Mereka bahkan tidak mampu melepaskan satu pun tembakan, baik tepat sasaran maupun melenceng.

Di Piala Dunia 2022 Qatar, Kosta Rika gagal mencatatkan tembakan sama sekali saat dibantai Spanyol dengan skor 0-7 pada laga pembuka Grup E. Di Piala Dunia 1990 Italia, Kosta Rika juga mencatatkan xG nol. Mereka gagal melepas tembakan saat menyerah 0-1 dari Brasil pada fase grup.

Kekalahan ini menjadi tamparan keras sekaligus cermin evaluasi bagi Argentina. Tanpa shot on target tidak hanya berarti gagal mempertahankan gelar juara. Statistik tersebut turut menegaskan bahwa Argentina harus segera berbenah jelang Copa America 2028.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article