Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Menolak Lupa Lumumba Lewat Aksi Ikonis Suporter RD Kongo

Menolak Lupa Lumumba Lewat Aksi Ikonis Suporter RD Kongo
ilustrasi stadion sepak bola (unsplash.com/Martin Aarflot)
Intinya Sih
  • Michel Kuka Mboladinga menarik perhatian dunia lewat aksi berdiri mematung di tribun stadion, meniru sosok pahlawan kemerdekaan RD Kongo, Patrice Lumumba.
  • Patrice Lumumba dikenang sebagai Perdana Menteri pertama RD Kongo yang memperjuangkan kemerdekaan dari Belgia sebelum dikudeta dan dibunuh akibat konspirasi politik global.
  • Aksi Mboladinga memicu diskusi luas tentang kolonialisme dan relevansi perjuangan Lumumba, menjadikan sepak bola ruang baru untuk menjaga ingatan sejarah bangsa.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Tribun stadion kerap menjadi panggung aksi suporter, mulai dari Mexican wave hingga Viking row. Namun, pemandangan unik tersaji di tengah riuhnya pendukung Republik Demokratik (RD) Kongo pada di Piala Afrika (AFCON) hingga kualifikasi Piala Dunia. Saat suporter lain melompat dan bernyanyi, ada seorang pria yang memilih berdiri mematung selama 90 menit penuh tanpa bergeser 1 cm pun.

Pria tersebut adalah Michel Kuka Mboladinga, seorang suporter fanatik yang dandanannya meniru persis pahlawan kemerdekaan legendaris Afrika, Patrice Lumumba. Aksi "patung hidup" ini sontak mencuri perhatian dunia dan viral di dunia maya. Melalui lapangan hijau, Mboladinga berhasil menghidupkan kembali warisan pemikiran sang ikon revolusioner kepada generasi muda.

1. Patrice Lumumba adalah sosok pembebas Republik Demokratik Kongo dari penjajahan Belgia

Bagi masyarakat RD Kongo dan Afrika, Patrice Lumumba adalah simbol perlawanan terhadap kolonialisme. Dilansir Encyclopædia Britannica, ia adalah Perdana Menteri pertama Republik Demokratik Kongo yang memimpin negara tersebut menuju kemerdekaan dari penjajahan Belgia pada Juni 1960. Lumumba dikenal sebagai orator ulung dengan pidato-pidatonya yang membakar nasionalisme sekaligus mengusung visi persatuan pan-Afrikanisme. Sayang, kepemimpinannya berjalan singkat setelah dikudeta dan disingkirkan tidak sampai 3 bulan setelah menjabat.

2. Setelah digulingkan kudeta yang didukung CIA, Patrice Lumumba disiksa dan dibunuh

Garis hidup Patrice Lumumba berakhir dengan tragis akibat konspirasi politik global era Perang Dingin. Dilansir BBC, Lumumba ditangkap kubu Jenderal Joseph Mobutu yang didukung pemerintah Belgia dan dinas intelijen CIA pada Desember 1960. Selama ditahan, Lumumba disiksa secara keji oleh para tentara. Pada 17 Januari 1961, ia ditembak mati di wilayah Katanga dan jasadnya dilarutkan menggunakan asam untuk menghilangkan jejak. Pembunuhan ini menjadikan Lumumba martir dalam sejarah dekolonisasi Afrika dan terus dikenang sebagai simbol pengorbanan demi kedaulatan negara.

3. Aksi suporter Timnas RD Kongo, Michel Kuka Mboladinga, rupanya merawat ingatan atas perjuangan Patrice Lumumba

Pada era modern, ingatan atas perjuangan Patrice Lumumba dirawat secara unik di atas tribun stadion oleh Michel Kuka Mboladinga. Dilansir IndulgExpress, pria berusia 41 tahun ini sengaja berdandan dengan setelan jas necis bermotif bendera negara, kacamata, serta gaya rambut belah pinggir khas Lumumba. Sambil berdiri di atas podium kecil, tangan kanannya diangkat ke udara membentuk pose hormat sepanjang laga. Gerakan ini meniru monumen patung memorial Patrice Lumumba di Kinshasa. Aksi tersebut sudah ia lakukan sejak 2013, tapi baru viral di Piala Afrika 2025 lalu.

4. Isu yang digaungkan Patrice Lumumba saat masih hidup ternyata masih relevan hingga sekarang

Membawa figur Patrice Lumumba ke tribun stadion memiliki dampak yang masif. Aksi Michel Kuka Mboladinga memicu rasa penasaran generasi muda yang awalnya tidak tahu tentang sejarah kelam bangsanya. Sepak bola menjadi ruang ideologi perjuangan Lumumba melawan imperialisme kembali didiskusikan publik berkat sorotan kamera.

Menurut People's Dispatch, isu yang dibawa Lumumba semasa hidup masih relevan hingga sekarang. RD Kongo masih didera konflik bersenjata dan penjarahan mineral oleh perusahaan asing yang menyengsarakan rakyat. Pola ketergantungan utang dan keberpihakan elite politik pada pemilik modal juga marak terjadi di berbagai sudut Afrika. Realitas kelam ini membuktikan visi Lumumba yang sejak awal telah memperingatkan bahwa kemerdekaan tanpa adanya kemandirian ekonomi hanyalah sebuah kebebasan semu.

5. Aksi Michel Kuka Mboladinga ternyata memuat warganet kembali membicarakan isu kolonialisme di media sosial

Aksi Michel Kuka Mboladinga berdampak besar. Analisis dari organisasi nonprofit, Thraets, menyebut, aksi "patung hidup" Mboladinga di Piala Afrika 2025 telah memicu diskusi global yang masif mengenai sejarah kolonialisme, ingatan kepada penindasan, dan pencarian keadilan. Setelah memantau lebih dari 10 ribu unggahan di media sosial, Thraets menemukan, obrolan warganet justru lebih banyak membahas sejarah pembunuhan Patrice Lumumba ketimbang pertandingannya.

Apa yang dilakukan Michel Kuka Mboladinga membuktikan, sepak bola tidak bisa dipisahkan dari realitas sosial dan politik. Tribun stadion menjelma ruang untuk menjaga ingatan. Dunia siap mengenang lagi Patrice Lumumba bersamanya saat RD Kongo mentas di Piala Dunia.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Gagah N. Putra
EditorGagah N. Putra

Related Articles

See More