Osasuna dan Romantisme Paling Nyata di Estadio El Sadar

- Osasuna vs Villarreal: Pertandingan Laliga 2025/26 berakhir imbang 2-2
- Atmosfer El Sadar: Suporter Osasuna menciptakan energi dan kebersamaan yang luar biasa
- Fanatisme sepak bola Spanyol: El Sadar bukan hanya tempat untuk menyaksikan pertandingan, tapi juga bagian dari identitas kota Pamplona
Navarra, IDN Times - Hujan tipis turun sejak sore, menyelimuti Pamplona yang suhunya mencapai tujuh derajat. Tapi ribuan penggemar Osasuna berbungkus jaket dan syal melingkar di leher, tak ragu menembus udara dingin melangkah menuju Estadio El Sadar. Mata mereka berbinar menantikan jaogannya tampil di lapangan hijau.
Kondisi macam itu merupakan hal lumrah di Navarra. Di kota kecil ini, sepak bola bukan sekadar hiburan akhir pekan. Osasuna merupakan identitas yang sudah mengakar sejak dulu.
Energi tribune dan antusiasme penggemar Osasuna, membuat setiap momen El Sadar terasa hidup dan penuh gairah. Hal itu yang dirasakan penggawa IDN Times saat menyaksikan langsung pertadingan Laliga 2025/26 antara Osasuna kontra Villarreal, Sabtu (31/1/2026).
Sejak siang hari, stadion sudah mulai dipenuhi pendukung Osasuna punya hubungan emosional dengan El Sadar. Tak berlebihan jika El tempat itu kerap disebut sebagai salah satu stadion paling berisik di Spanyol, bahkan pernah disandingkan dengan suara mesin jet.
1. IDN Times merasakan atmosfer El Sadar dari tribuna media

Kami masuk stadion setengah jam sebelum sepak mula dimulai. Hal itu dilakukan demi merasakan langsung pengalaman perdana penggawa IDN Times menjadi saksi laga besar, yang sebelumnya hanya bisa disaksikan pertandingannya saja melalui layar kaca.
Begitu melewati pemeriksaan, sensasinya langsung terasa. Bau rumput basah, lampu sorot yang menyala satu per satu, hingga getaran derap langkah ribuan kaki bergerak bersamaan, seolah menyabut kedatangan kami.
Dilihat di tepi lapangan, para pemain tengah memanaskan tubuhnya. Raut mukanya antusias, seolah menunggu waktu berperang.
Warna merah mendominasi pandangan mata di setiap sudut stadion. Terllihat mayoritas pendukung Osasuna telah memenuhi bangku-bangku tribune.
Menoleh ke kanan, area tribun khusus atau safe standing tampak dipadati segerombolan orang mengenakan pakaian hitam, penggemar yang siap bernyanyi 90 menit.
Sementara di sisi seberang lapangan, bagian tribun pojok atas, penggemar Villarreal juga mulai juga hadir mendukung tim kebanggannya.
IDN Times sendiri merasakan atmosfer itu dari tribuna media. Posisinya paling atas. Tempat terbaik melihat satu hal penting: membuktikan bagaiaman berisiknya El Sadar.
2. Di El Sadar, hasil akhir bukan segalanya bagi pendukung Osasuna

Belum usai rasa kagum dengan atmosfer stadion, pertandingan dimulai. IDN Times pun mencoba fokus mengamati duel panas ini.
Babak pertama berlangsung intens. Osasuna tampil agresif, menekan Villarreal, dan menguasai bola. Tekanan itu membuat laga terasa hidup.
Menit ke-17, stadion mendadak senyap. Penalti didapatkan Villarreal dalam duel tersebut. Gerard Moreno yang jadi algojo, berhasil menuntaskannya dengan dingin, sehingga tim tamu unggul satu gol.
Keheningan hanya berlangsung singkat. Tiga menit kemudian, Victor Munoz menyamakan kedudukan. El Sadar meledak. Sorakan mengalir seperti ombak hingga gemurunya membuat kami terkesima.
Osasuna tak berhenti. Menit 45+2, Ante Budimir mencetak gol. Nama Budimir diteriakkan ribuan orang. Babak pertama milik tuan rumah.
Babak kedua berlangsung lebih panas. Villarreal meningkatkan intensitas. Menit ke-70, Gerard Moreno kembali mencetak gol untuk menyamakan skor.
Singkat cerita, duel Osasuna kontra Villarreal berakhir tanpa pemenang. Duel berakhir dengan skor 2-2.
Namun di El Sadar, hasil akhir bukan segalanya. Atmosfer stadion begitu hidup. Pekik ribuan suporter Osasuna membaur menjadi energi yang terasa di seluruh stadion, menegaskan di Pamplona, sepak bola bukan sekadar hiburan, tetapi bagian dari identitas kota.
3. kecintaan fans terhadap Osasuna adalah warisan dari generasi ke generasi

Menonton Osasuna di kandang sendiri memberi definisi baru tentang fanatisme sepak bola Spanyol. Tak butuh waktu lama memahami reputasi El Sadar sebagai salah satu stadion paling berisik.
Bukan stadion megah dengan kapasitas raksasa, tapi di sinilah sepak bola terasa paling manusiawi. Suara, emosi, dan kebersamaan menyatu tanpa jarak.
Suporter tak cuma datang untuk sekadar menyaksikan laga, lebih dari itu hadir dan bertarung bersama tim. Setiap kali pemain Osasuna menyentuh bola, sorakan dukungan langsung pecah.
Dari tribun selatan hingga utara, pekik tak pernah putus. Chant “Ole, Ole, Ole, Ole” mengalir bergelombang.
Ketika chant “Osasuna! Osasuna!” menggema seantero stadion, rasanya seperti bergetar, menembus jas tebal yang saya kenakan.
Mereka juga terus menebar teror agar nyali lawan ciut. Begitu pemain Villarreal menyentuh bola, siulan langsung memotong udara dingin. Tekanan ini bukan hasil speaker stadion. Ini murni lahir dari suara suporter yang hidup dan tumbuh bersama Osasuna.
Wasit De Burgos Bengoetxea pun beberapa kali jadi sasaran siulan akibat keputusan yang dianggap merugikan tuan rumah. Bahkan saat tim pengadil meninggalkan lapangan, suara itu tetap mengiringi.
Namun, El Sadar bukan tentang loyalitas tanpa batas. Di sana ada kehangatan. Semua orang, dari anak kecil hingga kakek-nenek, ikut menyanyikan chant yang sama.
El Sadar menunjukkan kecintaan fans terhadap klubnya adalah warisan dari generasi ke generasi. Terlihat manisnya ayah membawa buah hatinya, atau beberapa pemuda menemani orang tua yang sudah renta, menikmati jalannya laga.
Buat siapa pun yang mengaku pecinta sepak bola, terutama fans LaLiga, ada satu saran saja: datanglah sekali saja ke El Sadar. Dengarkan, rasakan, dan biarkan atmosfernya menjelaskan sendiri mengapa stadion ini disebut salah satu yang paling berisik.

















