Indonesia Masters 2026, saat Gen Z Jadi Harapan Baru Pasukan Garuda
Jakarta, IDN Times - Daihatsu Indonesia Masters 2026 menjadi panggung penting bagi baru bulu tangkis Tanah Air. Turnamen ini bukan hanya menampilkan pertandingan kelas dunia, tetapi juga menjadi momen Pengurus Pusat Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia untuk melakukan regenerasi.
Di tengah ketatnya kompetisi, para pemain muda Indonesia yang berstatus Gen Z, mulai menunjukkan potensi besarnya. Buktinya, dua wakil Indonesia yang mampu mencapai final berstatus pemain muda dengan masa depan menjanjikan.
Alwi Farhan tampil gemilang di sektor tunggal putra, sementara Raymond Indra/Nikolaus Joaquin sukses menembus final ganda putra. Meski hasil akhir berbeda, keduanya mengirim pesan jelas, generasi baru telah siap tampil di panggung besar. Di balik itu semua, regenerasi yang berlangsung bukanlah proses instan. PBSI melalui berbagai program pembinaan, fasilitas, dan sistem seleksi terus berupaya membentuk elite baru bulu tangkis Merah-Putih. Indonesia Masters kali ini seolah menjadi cermin bagaimana proses panjang itu mulai menunjukkan hasil.
Gen Z bersinar di Daihatsu Indonesia Masters 2026
Salah satu kisah paling mencuri perhatian di Daihatsu Indonesia Masters datang dari Alwi Farhan. Pebulu tangkis 20 tahun itu tampil luar biasa di final dan mengalahkan Pinitchaphon Teeraratsakul dari Thailand dengan skor Afrika dalam dua game, 21-5, 21-6. Kemenangan tersebut menguatkan keyakinan, era baru Indonesia sudah tiba.
"Bisa dibilang iya (waktunya atlet muda) dong kalau hasilnya seperti ini. Kalau slogan saya itu 'Gen Z siap unjuk gigi'. Jadi saya pribadi, karena tidak tahu, mungkin bersama teman-teman yang ada di Pelatnas, yang seumuran, ya pastinya ingin berada di level atas cepatnya," kata Alwi dalam konferensi pers usai laga semifinal di Istora Senayan, Jakarta, Sabtu (24/1/2026).
Alwi sadar, masih banyak yang perlu diperbaiki. Dia merasa masih jauh dari kata sempurna dan butuh jam terbang lebih tinggi agar bisa makin matang.
"Memang tidak bisa dipungkiri, butuh pengalaman, jam terbang, merasakan atmosfer yang berbeda-beda, bertemu pemain dari segala ranking, tidak bisa menyepelekan, bertemu dengan kondisi lapangan. Itu semua berjalan dengan adanya waktu," kata Alwi.
Sementara, dari sektor ganda putra, Raymond/Nikolaus juga tampil mengejutkan dengan melangkah hingga final. Meski harus menyerah dari pasangan senior Malaysia, Goh Sze Fei/Nur Izzuddin, dengan skor 19-21, 13-21, performa keduanya tetap mendulang pujian.
Proses panjang pembinaan dan mempertajam talenta bulu tangkis Indonesia
Ketua Umum PP PBSI, M Fadil Imran, menegaskan membina atlet tidak bisa dilakukan dengan mentalitas serba cepat. Menurut Fadil, pembinaan merupakan sesuatu yang kompleks.
"Mengurus olahraga ini nggak bisa kayak membuat mi instan, butuh proses. Dan proses itu variabelnya banyak," kata Fadil kepada IDN Times saat ditemui di Istora Senayan, Jakarta.
Kalimat itu menggambarkan betapa kompleks dan menantangnya membangun atlet dari nol. PBSI kini memperbesar kapasitas gym, melengkapi sport science, dan meningkatkan fasilitas latihan. Tujuannya adalah menampung lebih banyak atlet muda agar proses pembinaan berlangsung lebih efektif.
Jika dulu atlet harus antre panjang untuk mendapat giliran, kini tiga sektor bisa masuk gym secara bersamaan. Investasi pemerintah, dalam hal ini Kemenpora, juga memiliki peran besar dalam peningkatan fasilitas tersebut.
Pembinaan ini tidak hanya fokus pada latihan, tetapi juga pada penyediaan sarana untuk membangun fondasi fisik dan mental atlet. Proses tahunan ini adalah pondasi utama untuk mencetak atlet elite yang tahan banting di level dunia. Fadil menegaskan, tujuan utama PBSI saat ini adalah menciptakan wajah baru bulu tangkis Indonesia lewat para pemain muda.
"Menciptakan wajah baru bulu tangkis Indoneisa lewat pemain muda. Kami menciptakan elite, commited players," ujar Fadil.
Jam terbang atlet terus ditambah

Agar para pemain muda semakin matang, PBSI akhirnya meningkatkan jam terbang dengan menyertakannya ke lebih banyak kompetisi. Salah satu yang dilakukan adalah mengirim banyak pemain muda untuk berlaga di Daihatsu Indonesia Masters 2026.
Fadil menuturkan, dana yang dimiliki juga digunakan untuk mengirim pemain ke berbagai negara. Juga, memastikan banyak ajang level Series dan Challenge yang digelar di Indonesia.
"Sekarang uang juga pakai untuk mengirim pemain muda. Ke India, Afrika, Kazakhstan, biar banyak jam terbang. IC kami banyakin di Indonesia. Seperti yang di Yogyakarta sampai dua kali," kata Fadil.
Program ini bertujuan agar para atlet merasakan atmosfer turnamen berbeda, bertemu lawan dengan gaya bermain beragam, dan beradaptasi dengan kondisi lapangan yang tidak selalu ideal. Mental kompetisi hanya bisa tumbuh lewat proses bertanding sesering mungkin. Langkah ini penting karena untuk menjadi atlet elite dunia, dibutuhkan banyak pertandingan tingkat internasional yang membentuk karakter, strategi, dan ketahanan mental.
Butuh konsistensi dan mental juara

Di sisi lain, mantan atlet Indonesia yang kini menjadi Director of Doubles Badminton Association of Malaysia (BAM), Rexy Mainaky, memberikan perspektif penting soal konsistensi pemain muda. Menurut Rexy, 80 persen kesuksesan berasal dari atlet itu sendiri.
"Bisa kami bilang 80 persen itu harus atlet. Dia harus bagaimana, dia harus sudah tahu. Kami sebagai pelatih, kasih program ini, harus ini, harus ini. Nah, 20 persen itu baru pelatihnya. Bagaimana dia, mengedukasi pemainnya, cara berpikirnya. Sekarang kan bisa dibilang, banyak yang buat ini, itu, ada yang benar-benar fans," kata Rexy ditemui di Istora..
Menurut Rexy, menjadi atlet besar tidak bisa ditempuh dengan jalan pintas. Mentalitas dan pemikiran sebagai seorang juara dituntut untuk ada.
"Kadang-kadang pemain itu akan terlena dan merasa sudah hebat. Dan itu bisa menjadi habit, makanya sebenarnya kembali ke para pemain itu. Saya punya future, main badminton untuk apa? Untuk masa depan saya. Jadi kembali lagi ke disiplin, mindset, dan bagaimana membangun mentality champion itu," kata Rexy.
Tak berhenti di Istora

Pelatih Tunggal Putra, Indra Widjaja, melihat Daihatsu Indonesia Masters sebagai pijakan penting menuju target besar Indonesia, Olimpiade Los Angeles 2028. Indra berharap performa para atlet muda seperti Alwi Farhan dapat terus dijaga hingga mencapai puncaknya pada momen empat tahunan itu.
"Kami berharap yang terbaik sampai nanti peak ya, diharapkan di Olimpiade," kata Indra.
Dengan waktu tiga tahun menuju Olimpiade, Indra menekankan perlunya konsistensi performa setiap atlet muda setiap hari. Maka dari itu, perlu dijaga performa dan perkembangan mereka, serta kerja sama yang baik antar pelatih dan atletnya. Apalagi, ada faktor lain yang bisa membuat atlet mengalami kemunduran, seperti cedera. Hal-hal macam itu, ditegaskan Indra, harus diatur lewat berbagai metode agar tak menimpa para atlet.
"Menjalani ini semua masih ada tiga tahun, ya harus dijaga dari hari per hari. Itu tetap harus kami jaga. Kami hanya berharap, berdoa, menjaga, menjalaninya yang menurut kami terbaik, harapannya kan itu," kata Indra.
Kini, Indra punya dua atlet muda yang menjadi harapan baru seperti Alwi Farhan dan Mohammad Zaki Ubaidillah. Meski kali ini Alwi menjadi juara di Daihatsu Indonesia Masters 2026, Indra menegaskan semua pemain punya hak yang sama untuk unjuk gigi dan mengamankan tempat ke Olimpiade nantinya.
"Semua punya hak yang sama untuk maju. Jadi biarkan mereka berpacu secara positif," kata Indra.
Capaian pemain muda yang mulai diperhitungkan
Kabid Binpres PBSI, Eng Hian, menilai pencapaian Indonesia Masters 2026 sebagai langkah positif. Meski begitu, Eng Hian menyadari hasil ini belum sesempurna yang semula direncanakan.
Eng Hian melihat turnamen ini sebagai tolak ukur perkembangan atlet dalam satu tahun terakhir. Jika tahun lalu finalis merupakan senior, maka tahun ini semifinalis mayoritas dari generasi muda.
"Kami melihat dari para pemain yang masuk semifinal tahun ini. Sebagian dari mereka pemain-pemain generasi muda. Tahun lalu belum diperhitungkan sama sekali, tapi perkembangannya kita lihat dan sudah terlihat lebih baik," kata Eng Hian.


















