Renovasi Lapangan SUGBK Rogoh Kocek Hingga Rp10 Miliar

Penguatan struktur FOP SUGBK membutuhkan biaya sekitar Rp10 miliar dan dikerjakan bertahap mulai 30 Oktober 2026 hingga April 2027.
Pendanaan renovasi berasal dari PNBP yang dikelola PPKGBK, bukan APBN, karena GBK berstatus BLU.
PPKGBK memperkirakan biaya perbaikan dapat kembali melalui dua konser, sekaligus membuka peluang lebih banyak kegiatan olahraga dan hiburan.
Jakarta, IDN Times - Pihak Pusat Pengelolaan Komplek Gelora Bung Karno (PPKGBK) secara blak-blakan mengaku tahapan konstruksi penguatan struktur Lapangan Field of Play (FOP) Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) membutuhkan biaya besar. Angkanya secara total mencapai Rp10 miliar.
Tahapan perbaikan dilakukan mulai sejak Jumat (30/10/2026). Berlangsung dalam beberapa tahapan, perbaikan FOP SUGBK diagendakan akan selesai dilakukan pada April 2027 mendatang.
1. Rogoh kocek hingga Rp10 M

Direktur Pembangunan dan Pengembangan Usaha PPKGBK, Mokhamad Rofik Anwar, dalam konferensi pers kegiatan pengembangan Field of Play (FOP) Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) Jakarta (IDN Times/Margith Damanik) Dana besar tersebut dikeluarkan demi memastikan stadion ikonik Indonesia ini bisa tetap menjadi fasilitas olahraga berstandar dunia yang multifungsi, sekaligus menjawab tantangan perkembangan tren hiburan global yang semakin dinamis.
"Ya, estimasi kurang lebih sekitar Rp10 miliaran lah, gitu ya. Sekitar Rp10 miliar-an seperti itu. Karena ini tujuannya buat jangka panjang. Setelah penguatan ini, nanti konser di tengah lapangan sampai tahun berikut-berikutnya sudah bisa, gitu ya. Karena investasi," Direktur Pembangunan dan Pengembangan Usaha PPKGBK, Mokhamad Rofik Anwar, ditemui di kawasan Senayan, Jakarta, Jumat (30/10/2026).
2. Tidak pakai dana APBN

Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, pada malam hari. Chelsea dijadwalkan menghadapi AC Milan di stadion tersebut pada Sabtu (8/8/2026) pukul 19.00 WIB. (Dok. Pusat Pengelolaan Kompleks Gelora Bung Karno/gbk.id) Rofik menegaskan dana untuk renovasi FOP GBK tidak menggunakan Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN). Pendanaan sepenuhnya menggunakan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) PPKGBK mengingat GBK merupakan Badan Layanan Umum (BLU) di bawah naungan Kementerian Sekretariat Negara (Kemensetneg) Republik Indonesia.
"GBK ini BLU. BLU itu artinya pendapatan yang kita peroleh dari sewa-sewa itu. Ya, dari sewa stadion olahraga, maupun yang lain, itu kita kelola sendiri. Nah, duitnya itu buat apa? Buat proyek-proyek seperti ini, pemeliharaan di GBK. Jadi bukan duit dari APBN. Itu adalah duit dari hasil pengelolaan pendapatan yang diterima oleh GBK, PNBP kita, gitu," kata Rofik.
3. Balik modal dalam dua kali konser

Direktur Utama, Rakhmadi A. Kusumo, dalam konferensi pers kegiatan pengembangan Field of Play (FOP) Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) Jakarta (IDN Times/Margith Damanik) Direktur Utama PPKGBK, Rakhmadi A Kusumo, menyebutkan dana besar yang dipakai untuk perbaikan FOP SUGBK bisa kembali dengan dua konser. Namun, Rakhmadi menegaskan pihaknya berharap perbaikan ini dapat mendatangkan lebih banyak lagi kegiatan di GBK. Baik terkait dengan olahraga, maupun hiburan.
“Angkanya kurang lebih sampai Rp10 miliar. Dengan adanya dua konser saja, insya Allah sudah balik modal sebenarnya. Tetapi kan kita juga perlu memastikan, enggak cuma dua kali dong, kita mau long-lasting dan bahkan time-nya, recovery time-nya lebih cepat lagi, lebih cepat lagi,” kata Rakhmadi.


















