Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Sheffied Wednesday, Klub Tertua di Inggris yang di Ambang Krisis Besar

potret logo Sheffield Wednesday di Wembley Stadium (commons.wikimedia.org/user:Andrew1829)
potret logo Sheffield Wednesday di Wembley Stadium (commons.wikimedia.org/user:Andrew1829)
Intinya sih...
  • Sheffield Wednesday, klub tertua di Inggris, menghadapi krisis finansial dan manajemen yang bermasalah
  • Kondisi finansial buruk memengaruhi kesejahteraan pemain dan staf, dengan gaji terlambat dibayarkan hingga adanya transfer embargo
  • Kemenangan atas Leeds United memberikan secercah harapan di tengah krisis, meskipun klub masih menghadapi ancaman kehancuran
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Ada pemandangan unik pada laga ronde kedua Carabao Cup 2025/2026 antara Sheffield Wednesday dan Leeds United pada Rabu (27/8/2025) dini hari WIB. Stadion Hillsborough, markas Sheffield Wednesday, dihiasi dengan banyak kursi kosong akibat aksi boikot dari pendukung tuan rumah yang memprotes kepemilikan klub, Dejphon Chansiri. Namun, di balik protes tersebut, skuad muda asuhan Pelatih Henrik Pedersen justru menampilkan permainan penuh keberanian dan akhirnya menyingkirkan tim English Premier League (EPL) itu lewat adu penalti 3-0.

Kemenangan mengejutkan tersebut kontras dengan kondisi internal klub yang terus diguncang masalah serius sejak awal 2025. Sheffield Wednesday, yang pernah menjadi kebanggaan Kota Sheffield dan ikon sepak bola Inggris, kini menghadapi ancaman kehancuran akibat krisis finansial, manajemen yang bermasalah, dan ketidakpastian arah kepemilikan.

1. Sebagai klub tertua Inggris, Sheffield Wednesday jadi ikon kebanggaan kota Sheffield

Sheffield Wednesday berdiri pada 1867 dan menjadi klub tertua di Inggris. Dalam sejarahnya, mereka pernah berjaya pada awal 1990-an dengan tampil di level tertinggi Liga Inggris dan sering berkompetisi di Wembley Stadium pada ajang piala domestik. Era tersebut menjadi kenangan manis bagi pendukung yang kini menyaksikan klub kesayangan mereka berada dalam kondisi yang kontras.

Hillsborough, markas ikonis klub, menjadi simbol kejayaan sekaligus penanda masa-masa sulit. Selain memperlihatkan kondisi bangunan yang memerlukan perbaikan, stadion itu juga berfungsi sebagai lokasi aksi protes, penutupan sebagian tribun, dan ketidakpastian kapasitas. Sejarah yang dulu membanggakan kini hanya jadi poster muram identitas Sheffield yang kian terancam.

Keterikatan emosional antara klub dan masyarakat terlihat dari besarnya dukungan meski di tengah krisis. Fans menggelar spanduk, menerbangkan pesawat dengan pesan protes, hingga menggelar prosesi simbolis “pemakaman klub” sebagai tanda kecintaan sekaligus keputusasaan. Semua tindakan tersebut menjadi bukti sejarah panjang klub yang masih hidup di hati pendukungnya.

2. Kondisi finansial buruk Sheffield Wednesday memengaruhi kesejahteraan pemain dan staf

Sejak musim panas 2025, Sheffield Wednesday dilanda krisis finansial parah. Laporan Sky Sports menunjukkan, gaji pemain dan staf terlambat dibayarkan sebanyak empat kali dalam 5 bulan terakhir. FIFA bahkan mengizinkan pemain untuk mengakhiri kontrak jika klub gagal membayar upah tepat waktu dalam 2 bulan berturut-turut, sehingga banyak pemain senior memilih hengkang.

Masalah ini semakin berat dengan adanya transfer embargo hingga 2027 yang membuat klub tak bisa merekrut pemain baru dengan biaya transfer. Skuad yang tersisa sebagian besar terdiri dari pemain muda jebolan akademi dengan rata-rata usia 21 tahun saat menghadapi Leeds United. Dari sisi manajemen, hengkangnya Pelatih Danny Rohl pada Juli 2025 menandai puncak ketegangan internal, sebelum digantikan Henrik Pedersen.

Gelombang protes dari pendukung berlangsung sepanjang pramusim 2025 hingga laga kompetitif pertama. Salah satu kelompok suporter klub, Sheffield Wednesday Supporters' Trust, menyerukan boikot pembelian tiket dan merchandise resmi, dengan sebagian hasil boikot disumbangkan kepada badan amal anak-anak. Aksi puncak terjadi saat pertandingan melawan Leeds United, ketika ribuan kursi kosong yang menjadi pesan nyata kesabaran fans yang telah habis.

3. Kemenangan atas Leeds United memberikan secercah harapan di tengah krisis

Dilansir The Athletic, meskipun ada tawaran senilai 40 juta pound sterling (Rp879,9 miliar) dari konsorsium Amerika Serikat untuk membeli klub, Dejphon Chansiri menolaknya karena merasa jumlah tersebut tidak sepadan dengan nilai aktual klub. Keputusan ini memicu kekecewaan luas di kalangan fans yang menganggapnya sebagai peluang untuk menyelamatkan klub dari kehancuran. Banyak pihak percaya pebisnis asal Thailand ini enggan melepas kendali meski situasi keuangan semakin kritis.

English Football League (EFL) telah memperingatkan, klub harus segera menemukan solusi finansial atau menghadapi sanksi tambahan, termasuk potongan poin. Potensi degradasi ke League One, kasta ketiga liga Inggris, atau bahkan risiko kebangkrutan menjadi ancaman nyata. Kondisi ini membuat masa depan Sheffield Wednesday semakin tak menentu.

Namun di tengah semua gejolak itu, semangat tim muda di lapangan memberikan secercah harapan. Kemenangan atas Leeds United menjadi kejutan di Carabao Cup 2025/2026 sekaligus bukti klub ini masih memiliki nyawa yang berdenyut lewat dedikasi para pemain dan dukungan emosional para penggemarnya. Pertanyaannya kini adalah apakah semangat itu cukup untuk menyelamatkan klub dari jurang krisis.

Sheffield Wednesday sedang berada di tengah drama, ketika satu sisi sebagai salah satu ikon sepak bola Inggris, dan sisi lain memperlihatkan lubang besar menuju kehancuran. Semua tergantung kepada pemilik, apakah ia ingin menyelamatkan klub atau justru menuliskan bab terakhirnya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Kidung Swara Mardika
EditorKidung Swara Mardika
Follow Us