Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Siapa Christophe Gleizes yang Disebut di Ballon d’Or 2026?
ilustrasi stadion sepak bola (unsplash.com/Bruce Barrow)
  • Jurnalis Prancis Christophe Gleizes ditahan di Aljazair sejak Mei 2024 saat meliput JS Kabylie, setelah dituduh berkontak dengan anggota MAK yang dikategorikan teroris oleh pemerintah setempat.
  • Dakwaan resmi baru terbit pada Juni 2025 dan Gleizes dijatuhi hukuman tujuh tahun penjara; komunitas jurnalistik, olahraga, serta pemerintah Prancis memberikan dukungan hukum.
  • Setelah banding pertama gagal pada Desember 2025, Gleizes menghentikan jalur hukum dan keluarganya mengajukan permohonan grasi presiden dua kali, namun belum mendapat respons.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Nama Christophe Gleizes disebut pada malam penghargaan Ballon d’Or 2026. Bukan pesepak bola, bukan pula pelatih atau bagian dari sebuah tim olahraga. Gleizes adalah jurnalis Prancis yang saat ini sedang berada di tahanan Aljazair karena tuduhan keterlibatan dalam jaringan terorisme. Sebuah tuduhan yang tidak sepele dan membuatnya terancam hukuman maksimal 7 tahun penjara menurut hukum yang berlaku di Aljazair. Bagaimana Christophe Gleizes bisa sampai di penjara Aljazair dan mengapa pembebasannya sedang diperjuangkan komunitas olahraga dan jurnalistik?

1. Christophe Gleizes ditangkap pada 2024 saat sedang meliput klub sepak bola JS Kabylie

Kronologi penangkapan Christophe Gleizes oleh otoritas Aljazair bermula dari kedatangannya ke negara Afrika Utara itu pada Mei 2024. Tujuannya meliput klub sepak bola, JS Kabylie, yang di Tizi Ouzou. Tak lama dari kedatangannya itu, Gleizes ditangkap otoritas setempat. Bukan klub sepak bola biasa, JS Kabylie dipecaya memiliki afiliasi dengan kelompok separatis bernama Movement for the Self-Determination of Kabylie (MAK) yang pada 2021 dikategorikan grup teroris oleh pemerintah Aljazair. Gleizes, menurut tuduhan Aljazair berkontak dengan salah satu anggota MAK yang aktif di JS Kabylie.

Alasan pengelompokan itu karena tujuan politik MAK adalah memerdekakan diri dari Aljazair dan mendirikan negara Republik Federal Kabylia. Lewat sebagian tokohnya yang berstatus eksil di Prancis, MAK sudah menyatakan kemerdekaannya pada Desember 2025. Dilansir kantor berita Al Estiklal, Aljazair lewat media pro-pemerintah, menuding Prancis sebagai negara hipokrit yang tidak menghargai kedaulatan negara lain dengan melindungi serta memfasilitasi pentolan MAK.

2. Korban dalam pertarungan politik Prancis-MAK-Aljazair

Menurut organisasi nirlaba Reporters Without Border (RSF) yang memantau kasus Christophe Gleizes, dakwaan resmi atas jurnalis itu baru keluar pada Juni 2025, setahun setelah ditangkap pada Mei 2024. Sejauh ini, komunitas jurnalistik dan olahraga dunia sepakat berada di pihak Gleizes. Begitu pula dengan pemerintah Prancis yang melalui laman resminya menyatakan mereka sudah memberi dukungan hukum untuk Gleizes serta memastikan dalam prosesnya bersikap kooperatif. Namun, menurut pemerintah Aljazair, bukti dan keterangan yang diberikan tim Gleizes belum cukup untuk mencabut vonis 7 tahun kurungan yang dijatuhkan kepadanya.

Kasus ini memang tidak mudah untuk diselesaikan. Bila melihat kecenderungannya, Christophe Gleizes bisa disebut korban dalam pertarungan politik tiga pihak sekaligus, yakni Prancis, MAK, dan Aljazair. Aljazair melihat pemidanaan Gleizes sebagai “instrumen” untuk memamerkan kemampuan mereka melakukan retaliasi atas sikap Prancis yang seolah melindungi dan memfasilitasi petinggi-petinggi MAK. Membebaskannya tidak akan mudah. Aljazair tak mau kehilangan muka, kecuali Prancis bersedia menukar Gleizes dengan tokoh MAK yang dapat status suaka.

3. Ampunan presiden jadi harapan terakhir

Kemungkinan dilakukannya pertukaran tahanan sangat kecil seiring gagalnya upaya Christophe Gleizes saat banding pertama pada Desember 2025. Jurnalis tersebut pun memutuskan untuk tidak melanjutkan upaya pembebasannya lewat jalur hukum. Surat kabar Prancis, Le Monde mengabarkan, Gleizes dan keluarganya akan fokus memohon ampunan presiden atau grasi. Masih merujuk sumber sama, keluarga Gleizes sudah melayangkan surat permohonan grasi sebanyak dua kali pada Desember 2025 dan Februari 2026, tetapi semuanya belum direspons.

Kasus Gleizes adalah bukti betapa lekatnya kita dengan kebijakan politik. Otoritas satu negara punya kuasa penuh untuk melakukan penangkapan dan pembungkaman di wilayah mereka. Dari kasus ini juga, kamu bisa melihat betapa cairnya lanskap politik internasional. Kelompok kepentingan yang mungkin terlihat tak mengancam, ternyata bisa dilabeli teroris oleh otoritas tertentu. Semua tergantung pada sudut pandang yang dipakai.

Melihat risiko yang harus dihadapi jurnalis serta aktivis lintas negara, kita pun disadarkan betapa mahalnya transparansi informasi, bahkan pada era yang katanya serbaterbuka ini. Siapa yang menyangka pula kalau olahraga bisa jadi ajang pertarungan kepentingan sengit?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article