5 Tim Terakhir yang Jadi Juru Kunci EPL pada Paruh Musim sebelum 2026

Sheffield United dua kali finis sebagai juru kunci EPL dalam 5 musim terakhir, meski lebih banyak menang pada paruh kedua EPL 2020/2021.
Norwich City menghuni zona degradasi EPL 2021/2022 sepanjang musim, bahkan saat paruh musim.
Southampton terdegradasi meski meraih beberapa hasil bagus di EPL 2022/2023 dan Southampton dipastikan turun kasta saat EPL 2024/2025 menyisakan 7 pekan.
Wolverhampton Wanderers menutup paruh pertama English Premier League (EPL) 2025/2026 di peringkat terbawah klasemen. Tim berjuluk Wolves itu hanya mengoleksi tiga poin dalam 19 laga. Namun, Wolves mulai menemukan asa bangkit pada pekan 20. Mereka meraih kemenangan pertama musim ini dengan menghajar West Ham United 3-0.
Meski demikian, upaya Wolves bertahan di EPL tentu masih panjang. Hasil melawan West Ham bukan patokan kebangkitan karena The Hammers juga sedang terpuruk. Selain itu, tren terbaru menunjukkan bahwa para juru kunci EPL pada paruh musim akhirnya selalu degradasi. Inilah yang dialami tim-tim tersebut dalam 5 musim terakhir.
1. Sheffield United lebih banyak menang pada paruh kedua EPL 2020/2021 tetapi tetap jadi juru kunci
Sheffield United dua kali finis sebagai juru kunci EPL dalam 5 musim terakhir. Dalam kedua kesempatan, mereka sudah berada di peringkat terbawah sejak paruh musim. Pada 2020/2021, Sheffield United hanya mengoleksi lima poin hasil 1 kali menang dan 2 kali seri dalam 19 laga pertama.
Pada paruh kedua musim, Sheffield United tampil lebih baik. Mereka meraih enam kemenangan, termasuk atas Manchester United di Old Trafford. Namun, The Blades tetap tak beranjak dari dasar klasemen hingga akhir. Mereka bahkan sudah dipastikan degradasi saat musim masih menyisakan enam pekan.
2. Norwich City menghuni zona degradasi EPL 2021/2022 sepanjang musim
Pada 2021/2022, salah satu tim promosi yang bersaing di EPL adalah Norwich City. Mereka naik kasta usai menjuarai EFL Championship musim sebelumnya. Namun, Norwich hanya jadi bulan-bulanan setelah promosi. Mereka masuk zona degradasi sejak pekan pertama dan tak pernah keluar hingga pekan terakhir.
Sepanjang musim tersebut, Norwich hampir selalu menjadi juru kunci, termasuk pada paruh musim. Mereka hanya sekali-sekali naik ke peringkat 19, misalnya pada pekan 24–26 karena tak terkalahkan dalam tiga laga beruntun. Namun, setelah itu Norwich turun lagi dan terus mengendap di peringkat terbawah.
3. Southampton terdegradasi meski meraih beberapa hasil bagus di EPL 2022/2023
Southampton juga dua kali berakhir di dasar klasemen EPL dalam 5 musim terakhir. Yang pertama terjadi pada 2022/2023. Hasil itu cukup mengejutkan karena Southampton selalu bertahan di EPL dalam 10 musim sebelumnya. Mereka bahkan finis di sepuluh besar klasemen empat kali beruntun pada 2014–2017.
Kiprah Southampton di EPL 2022/2023 juga sempat dihiasi beberapa hasil apik. Mereka dua kali mengalahkan Chelsea serta mencuri poin dari Arsenal, Manchester United, dan Liverpool. Namun, The Saints malah melempem melawan tim-tim semenjana. Southampton pun terpuruk di peringkat terbawah baik pada paruh musim maupun akhir kompetisi.
4. Sheffield United kebobolan 104 kali dan finis di peringkat terbawah EPL 2023/2024
Sheffield United kembali ke EPL sebagai tim promosi pada 2023/2024. Namun, kiprah mereka tak membaik dibanding 2020/2021, bahkan lebih buruk. The Blades hanya mengoleksi total 16 poin hasil 3 kali menang dan 7 kali bermain imbang. Mereka juga menghuni peringkat terbawah sejak pekan 15 hingga 38.
Pertahanan rapuh adalah salah satu sebab utama performa amburadul Sheffield United. Gawang mereka kebobolan total 104 gol, rekor terbanyak dalam 1 musim Premier League. Sheffield United juga sempat dihajar 0-8 oleh Newcastle United, rekor kekalahan terbesar mereka di liga domestik.
5. Southampton dipastikan turun kasta saat EPL 2024/2025 menyisakan 7 pekan
Terakhir, ada Southampton, yang kembali menutup musim sebagai juru kunci EPL pada 2024/2025 lalu. Sepanjang musim, Southampton hanya sempat berada di dari zona degradasi selama 2 pekan. Mereka mulai menghuni peringkat terbawah sejak pekan 12 dan tak pernah bisa beranjak hingga kompetisi selesai.
Southampton bahkan sudah dipastikan turun kasta saat musim masih menyisakan 7 pekan. Itu adalah rekor degradasi tercepat dalam sejarah Premier League. Dengan 2 kemenangan dan 6 hasil imbang, The Saints juga hanya meraih 12 poin. Itu adalah catatan poin terendah kedua dalam 1 musim Premier League.
Lima tim terakhir yang berada di dasar klasemen EPL pada paruh musim akhirnya terdegradasi. Bahkan, kelimanya turun kasta dengan status juru kunci klasemen. Apakah nasib serupa juga akan dialami Wolverhampton Wanderers pada akhir EPL 2025/2026?



















