UEFA dan 55 Asosiasinya Kompak, Siap Boikot Kompetisi FIFA

- UEFA dan 55 asosiasinya menolak rencana FIFA menjual sebagian hak komersial Piala Dunia, karena dinilai mengubah warisan sepak bola menjadi aset investasi swasta.
- UEFA menilai keterlibatan investor eksternal berisiko membuat keputusan soal kalender, format kompetisi, dan masa depan sepak bola lebih berpihak pada pemegang saham.
- Seluruh anggota UEFA mengancam boikot semua kompetisi FIFA, termasuk Piala Dunia dan Piala Dunia Antarklub, hingga proposal dibatalkan serta ada jaminan menolak kepemilikan swasta.
Jakarta, IDN Times - Setelah menggelar rapat virtual, UEFA bersama 55 asosiasi anggotanya satu suara menolak proyek kontroversial yang digagas Presiden FIFA, Gianni Infantino, untuk menjual sebagian hak komersial Piala Dunia. Ancaman boikot pun telah gelorakan.
Menurut UEFA, Piala Dunia merupakan warisan terbesar dalam sepak bola dunia, yang dibangun selama beberapa generasi oleh pemain, tim nasional, dan suporter. Karena itu, turnamen sakral tersebut tidak boleh diperlakukan sebagai aset investasi atau diperjualbelikan kepada pihak swasta.
UEFA bersama 55 asosiasi anggotanya sepakat menolak tegas proyek kontroversial yang digagas Presiden FIFA, Gianni Infantino, terkait penjualan sebagian hak komersial Piala Dunia. Ancaman boikot total pun resmi digelorakan.
UEFA menegaskan, Piala Dunia merupakan warisan terbesar sepak bola yang dibangun generasi pemain, tim nasional, dan suporter. Turnamen sakral tersebut tidak boleh dijadikan aset investasi apalagi diperjualbelikan kepada swasta.
1. FIFA bisa kehilangan daya tawar
Sejak rencana ini mencuat ke publik, UEFA langsung memberikan kecaman. Mereka menilai rencana FIFA akan menjual jiwa dari sepak bola itu sendiri.
Kekhawatiran terbesarnya adalah para investor dapat membuat FIFA semakin kehilangan daya tawar, bahkan memunculkan kontroversi yang lebih besar. Ragam skandal di Piala Dunia 2026 menjadi gambaran jika proyek ini tetap dilanjutkan.
"Begitu investor eksternal memperoleh kepemilikan atas kompetisi FIFA, sepak bola akan berubah untuk selamanya. Keuntungan komersial akan menjadi kewajiban permanen. Harapan para investor akan menjadi tekanan yang muncul setiap hari. Sejak saat itu, setiap keputusan mengenai kalender internasional, format kompetisi, hingga arah masa depan sepak bola tidak lagi didasarkan pada kepentingan terbaik bagi olahraga ini, melainkan pada kepentingan terbaik bagi para pemegang saham," bunyi pernyataan UEFA.
2. Tata kelola FIFA tidak transparan
Selain substansi proposal, UEFA juga mengkritik cara FIFA menyusun rencana tersebut. Mereka menilai proposal penjualan hak komersial disiapkan secara tertutup tanpa konsultasi yang memadai dengan asosiasi-asosiasi anggota FIFA.
UEFA bahkan menyebut seluruh asosiasi anggota dunia dihadapkan pada situasi layaknya ultimatum, yakni menerima proposal tersebut atau menghadapi konsekuensinya. Induk sepak bola Eropa itu menilai proses tersebut tidak mencerminkan tata kelola yang demokratis.
"Ini bukanlah sebuah "keputusan demokratis", melainkan tata kelola yang dibangun melalui intimidasi—sebuah bentuk pemaksaan yang tidak pantas dilakukan oleh institusi yang diberi amanah untuk mengelola sepak bola dunia," bunyi pernyataan FIFA.
3. Ancam boikot seluruh kompetisi FIFA
Sebagai bentuk penolakan, UEFA menyatakan seluruh 55 asosiasi anggotanya tidak akan mengikuti kompetisi FIFA, baik itu Piala Dunia atau Piala Dunia Antarklub, selama proposal tersebut masih dipertahankan. Ini ultimatum besar bagi FIFA, mengingat UEFA merupakan oposisi yang sangat kuat polemik ini.
Sebab, tak bisa dipungkiri kalau negara-negara Eropa merupakan magnet di Piala Dunia. Sama halnya dengan keikutsertaan klub-klub Eropa di Piala Dunia Antarklub. Tanpa mereka, kompetisi bisa kehilangan daya tarik dan nilai jual.
"Sebagai hasil dari pembahasan hari ini, tidak akan ada tim nasional anggota UEFA yang mengikuti kompetisi FIFA mana pun selama proposal ini masih berlaku, kecuali jika proposal tersebut dibatalkan sepenuhnya dan FIFA memberikan jaminan yang mengikat bahwa mereka tidak akan lagi membuka tata kelola maupun kompetisinya kepada kepemilikan swasta. Jangan ada yang meragukan hal ini: UEFA dan seluruh asosiasi anggotanya akan menentang rencana tersebut dengan tekad yang mutlak," bunyi pernyataan UEFA.


















