Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Van Dijk Kritik Water Break Piala Dunia 2026, Dinilai Ganggu Ritme
Para pemain Belanda merayakan gol Virgil van Dijk ke gawang Jepang (AFP / Aric Becker)
  • Virgil van Dijk mengkritik aturan jeda minum di Piala Dunia 2026 karena dianggap mengganggu ritme permainan dan seharusnya diterapkan fleksibel sesuai kondisi cuaca tiap laga.
  • Juergen Klopp juga menilai jeda minum merusak alur pertandingan serta menyinggung adanya kepentingan komersial yang membuat sepak bola kehilangan intensitas alami.
  • FIFA menerapkan kebijakan hydration break demi menjaga kebugaran pemain di cuaca ekstrem, namun menuai pro-kontra karena dinilai membuka ruang komersialisasi dalam pertandingan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Kapten tim nasional Belanda Virgil van Dijk melontarkan kritik terhadap kebijakan hydration break atau jeda minum yang diterapkan di Piala Dunia 2026. Menurutnya, aturan tersebut tak selalu relevan di semua pertandingan dan berpotensi mengganggu ritme permainan.

Pernyataan itu disampaikan Van Dijk setelah laga Belanda kontra Jepang yang berakhir imbang 2-2 dalam ajang FIFA World Cup 2026 di Arlington, Texas. Dalam pertandingan tersebut, ia juga mencatatkan namanya di papan skor lewat gol sundulan.

Dalam turnamen ini, FIFA menerapkan aturan jeda minum selama tiga menit di setiap babak, tanpa melihat kondisi cuaca. Wasit dijadwalkan menghentikan pertandingan sekitar menit ke-22 setiap babak untuk memberi waktu pemain melakukan rehidrasi.

1. Water break Piala Dunia 2026 jadi perdebatan baru

Kebijakan ini memunculkan pro dan kontra di kalangan pemain dan pelatih. Van Dijk termasuk yang mempertanyakan penerapannya secara seragam di semua laga.

“Ada hal menarik soal hydration break ini. Saya sudah melihat hampir semua pertandingan sebelumnya. Setiap kali ada jeda seperti itu, ditambah momen iklan, ritme pertandingan jadi terganggu,” ujar Van Dijk, dilansir SportBIBLE.

Menurut bek k Liverpool FC itu, jeda itu memang masuk akal jika pertandingan digelar dalam kondisi panas ekstrem. Namun, ia menilai penerapannya seharusnya lebih fleksibel.

“Menurut saya untuk penonton netral di TV juga tidak terlalu bagus. Kalau memang cuaca panas, mungkin masuk akal. Tapi seharusnya dilihat per pertandingan, menurut saya. Saya rasa sudah cukup saya bicara soal ini,” katanya.

2. Kritik serupa dilontarkan Juergen Klopp

Pandangan Van Dijk sejalan dengan kritik yang sebelumnya disampaikan mantan pelatih Liverpool Juergen Klopp. Ia menilai jeda minum justru merusak alur permainan dan mengganggu intensitas pertandingan.

Klopp bahkan menyinggung aspek komersial di balik kebijakan tersebut.

“Saya tidak bisa tidak bertanya, Piala Dunia ini sebenarnya untuk siapa? Fans? Pemain? Atau pengiklan?” ujar beber.

Ia menambahkan bahwa sepak bola seharusnya mengalir tanpa terlalu banyak jeda.

“Pertandingan Piala Dunia seharusnya mengalir seperti sungai. Tapi sekarang seperti dibuat bendungan di tengah-tengah hanya untuk memasukkan iklan,” ujarnya lagi.

3. FIFA Terapkan aturan demi kondisi pemain

Kebijakan hydration break sendiri mulai diterapkan FIFA setelah sejumlah turnamen sebelumnya, termasuk ajang antarklub, diwarnai kondisi cuaca ekstrem. Tujuannya untuk menjaga kebugaran dan keselamatan pemain di lapangan.

Meski begitu, kritik tetap muncul karena sebagian pihak menilai jeda tersebut juga membuka ruang komersialisasi melalui slot iklan saat pertandingan berlangsung.

Di luar pro dan kontra, kebijakan jeda minum kini menjadi salah satu isu yang terus dibahas sepanjang Piala Dunia 2026. Sebagian pelatih bahkan mengakui jeda ini bisa dimanfaatkan untuk mengubah taktik di tengah pertandingan.

Van Dijk sendiri memilih tidak memperpanjang komentarnya, namun pernyataannya sudah cukup memantik diskusi lebih luas soal keseimbangan antara kesehatan pemain, kualitas pertandingan, dan kepentingan komersial di panggung sepak bola dunia.

Editorial Team

Related Article