Wonderwall yang Meneruskan Kultur Lagu Populer di Timnas Inggris

- Reuni Oasis tahun 2025 memicu nostalgia besar di Inggris, membuat lagu 'Wonderwall' kembali populer dan menjadi simbol identitas lintas generasi selama Piala Dunia 2026.
- Lagu 'Wonderwall' dinyanyikan suporter dan pemain Inggris sejak fase grup, menegaskan perannya sebagai anthem tidak resmi yang menyatukan semangat skuad asuhan Thomas Tuchel.
- Timnas Inggris memilih 'Wonderwall' sebagai lagu kemenangan resmi Piala Dunia 2026, menggantikan tradisi lama seperti 'Three Lions', sekaligus membawa harapan baru bagi publik Inggris.
Ada pemandangan menarik tiap kali Tim Nasional Inggris berlaga di Piala Dunia 2026. Ada sebuah lagu melankolis terus dinyanyikan suporter The Three Lions setelah pertandingan. Liriknya seperti ini: "Because maybe, you're gonna be the one that saves me ... ".
Alih-alih menyanyikan lagu mars sepak bola yang agresif, suporter Inggris kompak menyanyikan lagu milik Oasis, "Wonderwall", sejak awal turnamen. Keputusan ini memperpanjang tradisi unik kultur sepak bola Inggris yang selalu menyelipkan musik pop dan rock ke pertandingan Timnas Inggris. Hal tersebut sudah berlangsung sejak puluhan tahun lalu.
1. Tak lepas dari nostalgia generasi 1990-an setelah Oasis memutuskan reuni pada 2025
Pemilihan "Wonderwall" di Piala Dunia 2026 tidak bisa dilepaskan dari reuni Oasis pada 2025. Pengumuman kembalinya Gallagher bersaudara ke panggung musik setelah belasan tahun berseteru memicu gelombang nostalgia massal di seantero negeri. Generasi 1990-an berduyun-duyun memenuhi konser mereka sekaligus kompak bernyanyi bersama.
Demam Oasis setelah reuni menular secara alami ke dalam ekosistem sepak bola. Dilansir The Guardian, fenomena "Wonderwall" yang dinyanyikan suporter Inggris selama Piala Dunia 2026 mencerminkan bagaimana sebuah lagu Britpop mampu menyatukan kembali identitas kultural publik Inggris lintas generasi. Terlebih lagu tersebut mengingatkan pada optimisme khas dekade 1990-an, sesuatu yang coba dioper kepada Harry Kane dan kawan-kawan.
2. Momen untuk Wonderwall di Piala Dunia 2026 sudah terasa sejak fase penyisihan grup
Sebenarnya, tradisi suporter sepak bola di Inggris menyanyikan lagu populer bukan hal baru. Dilansir BBC, hal tersebut sudah lebih dulu dilakukan pendukung klub Everton pada era 1960-an. "Wonderwall" kembali populer sebagai efek reuni Oasis setelah 15 tahun bubar sekaligus lakoni tur dunia.
Momen lagu dari album What's the Story? (Morning Glory) ini memuncak di Piala Dunia 2026. Harry Kane, Jude Bellingham, John Stones, dan Anthony Gordon tertangkap kamera ikut singalong bersama para suporter sesudah pertandingan fase grup pertama melawan Kroasia. Ini menegaskan lagu legendaris Oasis tersebut telah resmi menjadi soundtrack utama perjuangan skuad Inggris di bawah asuhan Thomas Tuchel.
3. Wonderwall sengaja dipilih Timnas Inggris sebagai lagu yang diputar setelah memenangkan pertandingan
Munculnya lagu legendaris Oasis tersebut bukan tanpa alasan. Dilansir USA Today, FIFA meminta seluruh tim peserta Piala Dunia 2026 untuk mengirim lagu yang akan diputar jika berhasil menang di sebuah pertandingan. Timnas Inggris sebenarnya tak hanya memilih "Wonderwall", tetapi juga "Hey Jude" milik The Beatles. Namun, lagu pertama jadi pilihan suporter.
Di sinilah "Wonderwall" masuk menawarkan romantisme baru. Liriknya memang absurd dan mungkin multitafsir, tapi penuh harapan berbicara tentang sosok "penyelamat" yang dinantikan di tengah situasi sulit. Bagi suporter Inggris, lagu ciptaan Noel Gallagher itu adalah representasi dari penantian panjang mereka akan trofi Piala Dunia yang tak kunjung datang sejak 1966.
4. Sebelumnya, ada lagu Three Lions (Football's Coming Home), World in Motion, serta Sweet Caroline
Sebelum "Wonderwall", publik Inggris selalu mengandalkan lagu '"Three Lions (Football's Coming Home)" gubahan duo komedian David Baddiel & Frank Skinner serta grup musik The Lightning Seeds. Salah satu yang paling diiingat yakni ketika Piala Dunia 2018 di Rusia. Namun, dahsyatnya reuni Oasis membuat orang-orang kembali mendengar karya-karya Liam Gallagher dan kawan-kawan. Dilansir Euronews, platform streaming musik Spotify bahkan mencatat terjadi lonjakan frekuensi pemutaran lagu "Wonderwall" di Britania Raya hingga mencapai 50 persen.
Selain "Three Lions (Football's Coming Home)", masih ada juga lagu "World in Motion" milik New Order untuk Piala Dunia 1990. Grup musik rock pecahan Joy Division tersebut bahkan menggaet striker Inggris saat itu, John Barnes, untuk menampilkan bait rap ikonik. Lalu masuk Piala Eropa 2020, suporter Inggris memilih lagu "Sweet Caroline" dari Neil Diamond.
Tiga lagu lain yang disebutkan tadi memiliki sebuah persamaan: menjadi pengiring kegagalan Inggris. Maka "Wonderwall" menjadi simbol harapan baru untuk prestasi yang lebih baik. Akankah hal itu terwujud? Hanya Harry Kane dan kawan-kawan yang bisa menjawabnya.

















