Xavi dan Tradisi Gelandang yang Bisa Mengangkat Prestasi Barcelona

Jakarta, IDN Times - Tradisi Barcelona memilih mantan gelandangnya untuk pelatih terus berlanjut. Xavi Hernandez yang sudah resmi diperkenalkan sebagai pelatih klub asal Catalan ini memperpanjang catatan tersebut.
Ia datang menggantikan Ronald Koeman yang dipecat lantaran tak bisa mengangkat prestasi klub. Ekspektasi fans kini berada di pundak eks pemain Timnas Spanyol tersebut. Xavi diharapkan bisa mengembalikan gaya bermain cantik tiki-taka ala Barca yang mulai memudar.
Sebelum nama Xavi, beberapa sosok gelandang juga sempat dijadikan pelatih Barcelona usai purnatugas sebagai pemain. Mereka bahkan bisa meraih prestasi dengan mempersembahkan berbagai trofi, baik di kompetisi domestik hingga Eropa.
Ada tiga sosok pelatih yang sebelumnya merupakan seorang pemain dengan posisi gelandang yang sukses menjalankan tugasnya itu. Siapa saja mereka? berikut IDN Times sajikan.
1. Barcelona dan tiki-taka yang lahir di era Johan Cruyff

Barcelona tentu tak bisa lepas dari nama Johan Cruyff. Ia merupakan sosok kunci yang memperkenalkan sepak bola atraktif di Camp Nou. Usai menjadi pemain, ia pun mendapatkan kesempatan untuk menukangi timnya pada tahun 1988, usai memilih gantung sepatu setahun sebelumnya.
Jika bicara filosofi permainan Barcelona yang khas dan dikenal sekarang, tentu hal itu tak lepas dari jasa Cruyff. Bahkan cara itu sekarang jadi landasan dasar dalam membangun Akademi La Masia. Terbukti, banyak pemain berkualitas yang lahir berkat metode tersebut.
Tak hanya soal gaya bermain, ia juga mampu mencatatkan prestasi mentereng bersama Barcelona saat menjadi pelatih. Ia mempersembahkan empat trofi LaLiga, satu Liga Champions, satu Piala Winners, satu Piala Spanyol, dan satu lagi dari Piala Super Spanyol.
Ia pun akhirnya berhenti sebagai pelatih Barcelona usai delapan tahun mengabdi sebagai pelatih, atau tepatnya pada 1996. Namun demikian, namanya tak bisa dilupakan dan dianggap sebagai legenda paling berpengaruh di Barcelona.
2. Guardiola sang penerus kejayaan tiki-taka

Usai melewati catatan manis bersama Cruyff, Barcelona kembali melahirkan seorang pelatih yang sebelumnya sempat bermain sebagai gelandang di Camp Nou. Ia adalah Pep Guardiola. Ia juga merupakan eks anak asuh Cruyff saat masih menjadi pemain dulu.
Jebolan Akademi Barcelona ini tampil menawan bersama Barcelona sebelum memilih hengkang dan berkarier dengan klub lain pada 2021. Setelah enam tahun pergi, Guardiola kembali ke Camp Nou. Bedanya, saat itu ia datang sebagai pelatih Barcelona B.
Tak butuh waktu lama bagi Guardiola untuk mendapat kepercayaan manajemen. Ia naik kelas menggantikan Frank Rijkaard yang membawa tim berprestasi. Walau sempat diragukan, Guardiola ternyata bisa membawa tim tampil sangat baik dan menghibur.
Hasilnya, ia juga bisa mempersembahkan berbagai gelar untuk Barcelona. Total, sebanyak 14 trofi mampu digondolnya selama empat tahun di Catalan, Yang paling istimewa tentu saat mengantarkan Lionel Messi dan kolega meraih treble winner pada musim 2008/09.
3. Luis Enrique memberikan prestasi terbaik Blaugrana

Kepergian Guardiola sempat membuat Barcelona sedikit goyah. Beruntung, ia sudah membangun fondasi tim dengan sangat baik. Sehingga, pelatih-pelatih yang datang berganti, masih bisa memberikan prestasi cukup baik, walau tak secemerlang Guardiola.
Baru setelah memasuki musim 2014, Barcelona kembali memilih eks pemainnya yang biasa beroperasi sebagai gelandang, menjadi seorang pelatih. Pria itu adalah Luis Enrique, seseorang yang semasa bermain sempat membela Barcelona dan Real Madrid.
Menariknya, Enrique mampu melakukan sedikit modifikasi dalam gaya bermain tiki-taka yang sebelumnya diterapkan Johan Cruyff dan Pep Guardiola. Ia mampu menjadikan trio penyerang, Lionel Messi, Neymar, dan Luis Suarez jadi trisula paling mematikan di dunia.
Catatan tersebut membuat Enrique sukses memberikan gelar treble winner pada musim 2014/15. Hal itu membuat Enrique kini dinilai setara dengan Cruyff dan Guardiola di Barcelona.

















