Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
4 Hal yang Perlu Dibenahi Man United untuk Mempersiapkan 2026/2027
potret stadion Old Trafford, markas Manchester United (unsplash.com/Harry Walsh)

Laga melawan AC Milan pada Sabtu (15/8/2026) kemarin menjadi laga uji coba terakhir Manchester United sebelum mengarungi musim kompetisi 2026/2027. Hasil akhir 2-4 untuk keunggulan lawan memaksa The Red Devils menerima kenyataan pahit di lapangan. Kekalahan itu sekaligus menyingkap sejumlah celah krusial yang mesti segera dibenahi oleh Pelatih Michael Carrick.

Rangkaian pertandingan uji coba menghadapi beberapa klub Eropa memetakan secara jelas sejauh mana kesiapan teknis penggawa tim. Di sisi lain, MU akan mengawali kiprah di English Premier League (EPL) 2026/2027 menghadapi Hull City pada 22 Agustus nanti.  Berdasarkan hasil analisis, setidaknya ada empat aspek taktikal utama yang memerlukan pembenahan secara cepat dan tepat.

1. Minimnya dukungan bertahan bagi Luke Shaw di sisi kiri jadi celah besar yang wajib dibenahi MU

Dalam laga melawan AC Milan, sisi kiri pertahanan Manchester United menjadi area yang paling sering dieksploitasi oleh para penyerang lawan. Sektor ini menjadi sasaran empuk serangan akibat koordinasi posisi yang kurang optimal. Pemain I Rossonerri memanfaatkan celah terbuka itu untuk menusuk langsung ke area pertahanan.

Luke Shaw sering terisolasi di garis belakang saat mengawal pergerakan sayap kiri AC Milan yang diisi Samuel Chukwueze dan Alphadjo Cisse. Shaw menerima beban terlalu besar dan kewalahan untuk menutup ruang di area sayap. Tekanan fisik menghinggapi dirinya sewaktu lawan melakukan skema switch of play secara cepat.

Kurangnya dukungan serta perlindungan di area ini memberi kebebasan penuh bagi pemain lawan. Chukwueze secara leluasa melepaskan umpan silang maupun umpan matang ke dalam kotak penalti. Situasi berbahaya tersebut berulang kali mengancam gawang MU sepanjang pertandingan.

Selain itu, Lisandro Martinez yang diplot sebagai bek tengah kiri sempat kalah adu kecepatan saat berhadapan langsung dengan Ruben Loftus-Cheek. Pemain asal Argentina itu belum fit 100 persen mengingat ia baru saja kembali dari tugas membela negaranya di Piala Dunia 2026. Kondisi kebugaran sang pemain turut memengaruhi kesigapan dirinya dalam memotong pergerakan ofensif lawan.

Dalam hal ini, Michael Carrick perlu mengatur ulang mekanisme bertahan di sisi kiri demi menjaga soliditas lini belakang. Tim kepelatihan harus mencegah bek kiri bertarung sendirian dalam menghadapi situasi overload lawan. Bantuan dari gelandang bertahan akan menetralisir potensi ancaman saat lawan menyerang dari lebar lapangan.

2. Bek MU kesulitan mengalirkan bola ke depan saat menghadapi tim dengan high-pressing

Duet bek tengah, Harry Maguire dan Ayden Heaven, terlihat belum begitu klop dalam mengatur build-up dari bawah. Momen canggung itu muncul ketika Manchester United menghadapi Paris Saint-Germain (PSG) pada laga uji coba Sabtu, 8 Agustus 2026. Klub asal Prancis itu langsung menerapkan high-pressing sejak peluit babak pertama dimulai.

Kedua bek tengah MU tersebut kesulitan memindahkan bola dengan cepat ke depan akibat rapatnya tekanan yang diberikan PSG. Mereka kerap gagal melepaskan umpan-umpan progresif yang membelah garis pertahanan lawan dan cenderung melakukan operan horizontal. Akibatnya, alur penguasaan bola menjadi tersendat akibat lambatnya pengisian posisi antarpemain.

Kesulitan alur build-up ini menyebabkan terciptanya kesalahan fatal di area pertahanan sendiri. Tekanan intensitas tinggi PSG memicu blunder yang dilakukan Heaven ketika kehilangan bola di area berbahaya setelah diapit penyerang lawan. Khvicha Kvaratskhelia langsung merebut si kulit bundar untuk menciptakan peluang emas bagi timnya.

Minimnya penguasaan bola memaksa MU bergantung pada serangan balik cepat serta kejelian pemain depan dalam memanfaatkan high turnovers di area pertahanan lawan. Namun, keberhasilan serangan balik sekaligus menegaskan tim belum mampu membangun alur serangan secara terstruktur dari garis belakang. Opsi operan pendek butuh diperbanyak lewat pergerakan dinamis para gelandang tengah yang akan menghindarkan tim dari potensi melakukan kesalahan build-up.

3. Tanpa gelandang pemutus serangan, lawan lebih leluasa mengalirkan bola ke pertahanan MU

Koordinasi perlindungan di area antara lini pertahanan dan lini tengah masih belum berjalan berjalan optimal. Dalam laga melawan AC Milan, lemahnya koordinasi di lini tengah membuat proteksi antarlini menjadi longgar, sehingga pemain lawan dengan leluasa menemukan ruang terbuka untuk mendikte alur bola. Andrey Santos belum mampu membaca situasi dan sering terlambat menutup pergerakan gelandang serang lawan yang menciptakan celah yang berujung ancaman.

Kendati demikian, sektor tengah Setan Merah sejatinya menunjukkan potensi ofensif yang cukup menjanjikan berkat kehadiran Youri Tielemans dan Andrey Santos. Saat berkolaborasi dengan Kobbie Mainoo, kombinasi ini berhasil mendongkrak kualitas penguasaan bola sekaligus meningkatkan efisiensi progresi serangan. Aliran operan dari sektor tengah kini mengalir jauh lebih cair dan terstruktur menuju barisan penyerang di lini depan.

Meski progresi bola membaik, skuad asuhan Michael Carrick masih menyimpan lubang besar karena ketiadaan sosok ball-winning midfielder usai kepergian Casemiro. Tanpa gelandang pemotong serangan yang kuat secara fisik dan dominan dalam duel, struktur pertahanan MU rentan terbuka saat tim kehilangan bola. Menjelang laga pembuka Premier League 2026/2027 kontra Hull City, MU perlu merekrut gelandang penyapu baru demi menjaga keseimbangan formasi serta memperkuat kedalaman tim.

4. MU harus benahi respons switch of play dan overload sayap lawan untuk jaga disiplin posisi

Pertahanan Manchester United mudah terekspos saat menghadapi lawan yang mengandalkan skema wing-back serta alur perpindahan arah serangan cepat. Skema 3-4-2-1 yang diterapkan AC Milan sukses mengeksploitasi lebar lapangan dan memancing organisasi pertahanan MU menjadi tidak teratur. Para pemain bertahan Setan Merah sering terlambat merespons perpindahan bola dari satu sisi ke sisi lainnya, sehingga menciptakan celah di area belakang.

Ketiadaan antisipasi terhadap skema overload di sektor sayap berdampak buruk pada paruh kedua pertandingan. Dalam rentang waktu 14 menit, gawang MU harus kebobolan tiga gol cepat akibat serangan bertubi-tubi dari sisi samping lapangan. Konsentrasi para pemain belakang terpecah sewaktu terpancing untuk menutup pergerakan lebar pemain lawan. Rentetan gol singkat tersebut menjadi bukti kuat adanya celah mendasar dalam struktur bertahan tim saat mendapat tekanan intensif dari area sayap.

Pembenahan pada aspek komunikasi dan disiplin posisi menjadi agenda krusial bagi MU. Koordinasi vokal antara barisan bek dan gelandang saat transisi bertahan sangat dibutuhkan agar pembagian tugas mengawal pergerakan lawan berjalan efektif. Selain itu, tim wajib meningkatkan disiplin pergeseran posisi secara kolektif melalui simulasi pertandingan intensif di sesi latihan guna mencegah terbukanya ruang kosong di area berlawanan saat tim digempur serangan cepat.

Manchester United berpotensi tampil lebih solid pada 2026/2027 apabila Michael Carrick sanggup menyelesaikan empat permasalahan taktikal utama ini sebelum laga pembuka digelar. Pembenahan organisasi bertahan serta peningkatan efisiensi build-up akan menjadi kunci sukses Setan Merah dalam mengarungi ketatnya persaingan kompetisi.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article