Yassine Bono, Tembok Maroko yang Jadi Momok Belanda

- Yassine Bono tampil gemilang saat Maroko menyingkirkan Belanda di babak 32 besar Piala Dunia 2026 lewat penyelamatan krusial pada adu penalti di Estadio Monterrey.
- Bono dikenal sebagai kiper tangguh dengan rekor 32 clean sheets pada 2021 dan menjadi kiper Arab-Afrika pertama yang meraih Zamora Award berkat performa luar biasanya.
- Perjalanan karier Bono sempat naik turun dari Atletico Madrid hingga Sevilla, sebelum akhirnya bergabung dengan Al-Hilal, sementara Maroko terus mencuri perhatian di Piala Dunia 2026.
Jakarta, IDN Times - Tak bisa dimungkiri, Yassine "Bono" Bounou menjadi salah satu aktor utama Maroko saat menyingkirkan Belanda di babak 32 besar Piala Dunia 2026. Berlaga di Estadio Monterrey, Selasa (30/6/2026), Bono kembali bertindak sebagai pahlawan Maroko, usai performa gemilangnya di edisi 2022 lalu saat menyingkirkan sejumlah raksasa.
Ketika babak tos-tosan digelar, Bono memang dijagokan untuk bisa menepis sejumlah tendangan dari para pemain Belanda. Benar saja, tembakan dari Crysencio Summerville bisa ditepis dengan sempurna oleh Bono. Sementara itu, dua penendang Belanda yang gagal, Justin Kluivert dan Quinten Timber, mengeksekusi ke arah yang salah dengan bola membentur hingga melebar.
Table of Content
1. Kiper dengan karakter keras
Sebagai kiper, Bono memiliki karakter yang keras. Dia mau bertarung dalam situasi apa pun. Ketangkasan Bono juga terbilang di atas rata-rata. Catatan terbaiknya ada pada 2021 ketika mampu menciptakan 32 clean sheets dari 59 pertandingan. Catatan itu menjadi yang terbaik ketimbang kiper Eropa lainnya.
Bahkan, Thibaut Courtois yang mengantarkan Real Madrid juara Liga Champions di musim 2021/22, tak punya statistik luar biasa macam Bono. Hasilnya, Bono dihadiahi Zamora Award pada akhir musim 2021/22. Torehan itu menjadikan Bono sebagai kiper berdarah Arab dan Afrika pertama yang meraihnya.
2. Pasang surut karier Bono
Karier Bono sebenarnya tak terlalu gemilang di awal. Dia sempat berada di bawah bayang-bayang Courtois, ketika main bersama Atletico Madrid.
Hingga akhirnya, Bono harus dipinjamkan ke Real Zaragoza. Pada 2016, Bono akhirnya pindah ke Girona. Kemudian, pada musim 2019/20, Bono dipinjamkan ke Sevilla, lantaran Girona degradasi.
Kontribusi Bono bersama Sevilla ternyata begitu luar biasa. Meski awalnya jadi pelapis Tomas Vaclik, Bono mampu memainkan peran vital dalam beberapa momen. Hingga akhirnya, Bono dipermanenkan di Sevilla pada musim panas 2020 lalu. Bono kemudian pindah ke Al-Hilal pada 2023, mengikuti eksodus para pemain yang berkompetisi di Eropa.
3. Maroko lagi-lagi curi perhatian
Maroko kembali mencuri perhatian di Piala Dunia 2026. Performa impresif pada 2022 lalu, diteruskan ke edisi tahun ini dengan sejumlah pemain baru, termasuk wonderkid Ayyoub Bouaddi.
Meski tak lagi dilatih Walid Regragui, Mohamed Ouahdi bisa meneruskan tongkat estafet dan mempertahankan gaya main atraktif serta bertenaga Maroko.















