ilustrasi smartphone (unsplash.com/Georgiy Lyamin)
Sederhananya, residential proxy bekerja dengan menggunakan koneksi internet dan alamat IP milik pengguna sebagai perantara untuk mengakses internet. Jika HP kamu diretas dan dijadikan proxy, pelaku bisa mengarahkan aktivitas internetnya melalui koneksi milikmu. Akibatnya, aktivitas tersebut dapat terlihat seolah-olah berasal dari alamat IP dan lokasi kamu, bukan dari pelaku sebenarnya. Menurut FBI, cara ini dapat dimanfaatkan pelaku kejahatan siber untuk menyembunyikan identitas dan lokasi asli mereka.
Pada kasus Midnight Mimosa, malware lebih sulit dihilangkan karena sudah tertanam sebagai bagian dari sistem HP. Menurut Bitdefender, malware ini memiliki akses tingkat sistem sehingga dapat memasang atau menghapus aplikasi tanpa sepengetahuan pengguna, memberikan izin tertentu, hingga menjalankan kode yang dikirim dari jarak jauh. Dengan kata lain, salah satu payload menyamarkan diri sebagai aplikasi pengunci, tetapi sebenarnya dapat mendaftarkan perangkat ke botnet residential proxy. Karena itu, HP terdampak berpotensi menjadi relay node yang meneruskan trafik jaringan.
Bitdefender juga menemukan fungsi penipuan iklan dan klik otomatis pada kampanye yang sama. Kasus semacam ini bukan pertama kali ditemukan. Pada Januari 2026, Google membongkar IPIDEA, jaringan proxy yang memungkinkan pelaku menyalahgunakan koneksi internet rumah dari jutaan perangkat konsumen. Google kemudian memperbarui Play Protect agar dapat memperingatkan pengguna dan memblokir aplikasi yang membawa kode IPIDEA.