Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

7 Tanda Smartwatch Bekas yang Bermasalah, Wajib Dicek Sebelum Membeli

7 Tanda Smartwatch Bekas yang Bermasalah, Wajib Dicek Sebelum Membeli
ilustrasi smartwatch (unsplash.com/Simon Daoudi)
Intinya Sih
  • Artikel menyoroti pentingnya memeriksa kondisi smartwatch bekas sebelum membeli, karena perangkat yang sudah dipakai berisiko mengalami penurunan performa dan kerusakan tersembunyi.
  • Dijelaskan tujuh tanda umum smartwatch bermasalah, seperti baterai boros, layar retak atau tidak responsif, sensor tidak akurat, hingga koneksi Bluetooth sering terputus.
  • Penulis menekankan agar calon pembeli melakukan pengecekan menyeluruh terhadap baterai, layar, konektivitas, dan sensor untuk menghindari biaya perbaikan di kemudian hari.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Membeli smartwatch bekas memang bisa menjadi cara cerdas untuk menghemat uang. Dengan harga yang lebih terjangkau, kamu tetap bisa menikmati berbagai fitur, seperti pelacakan kesehatan, notifikasi HP, hingga pemantauan aktivitas olahraga. Namun, perangkat elektronik yang sudah pernah dipakai tentu memiliki risiko tertentu, terutama jika kondisinya tidak dirawat dengan baik oleh pemilik sebelumnya.

Karena itu, penting untuk mengenali tanda-tanda smartwatch bekas yang bermasalah sebelum memutuskan untuk membelinya. Beberapa gejala biasanya terlihat cukup jelas, mulai dari baterai yang cepat habis hingga sensor yang tidak akurat. Berikut beberapa tanda peringatan yang sebaiknya kamu waspadai.

1. Baterai cepat habis atau tidak stabil

Salah satu tanda paling umum dari smartwatch bermasalah adalah baterai yang cepat sekali habis. Jika perangkat harus diisi daya berkali-kali dalam sehari padahal pemakaiannya ringan, kemungkinan besar baterainya sudah mengalami penurunan kualitas.

Selain itu, perhatikan juga jika persentase baterai naik turun secara tidak wajar. Misalnya, tiba-tiba turun drastis atau melonjak setelah beberapa menit digunakan. Kondisi seperti ini bisa menandakan baterai sudah rusak atau sistem pengisian dayanya bermasalah. Jika smartwatch terasa sangat panas saat di-charge, itu juga merupakan tanda bahaya yang tidak boleh diabaikan.

2. Masalah saat pengisian daya

Smartwatch yang hanya bisa mengisi daya dalam posisi tertentu juga patut dicurigai. Misalnya, kabel harus ditekan atau diposisikan dengan cara tertentu agar proses charging berjalan.

Ada juga kasus di mana layar menunjukkan indikator pengisian daya, tetapi persentase baterai tidak bertambah. Hal ini bisa disebabkan oleh baterai yang sudah lemah, konektor charging yang rusak, atau kabel pengisi daya yang bermasalah. Jika terlihat karat atau pin yang bengkok pada bagian charging pad, kemungkinan perangkat pernah terkena air atau mengalami penanganan yang kasar.

3. Layar retak atau tidak responsif

ilustrasi menggunakan smartwatch
ilustrasi smartwatch (unsplash.com/Luke Chesser)

Layar smartwatch yang retak seperti jaring laba-laba biasanya menandakan perangkat pernah terjatuh. Selain retakan, perhatikan juga adanya dead pixel, layar yang terlihat berkabut, atau warna yang tidak normal.

Masalah lain yang sering muncul adalah touchscreen yang tidak responsif. Kadang layar terasa lambat merespons sentuhan, atau malah muncul “ghost touch”, yaitu layar seperti disentuh sendiri tanpa ada input dari pengguna. Kondisi ini biasanya menandakan adanya kerusakan pada layar atau komponen pengendalinya.

4. Sensor dan pelacakan tidak akurat

Salah satu alasan utama orang membeli smartwatch adalah fitur pemantauan kesehatan dan aktivitas. Karena itu, sensor yang tidak akurat bisa menjadi tanda serius bahwa perangkat bermasalah.

Misalnya, detak jantung yang tiba-tiba melonjak atau turun drastis tanpa alasan, jumlah langkah yang tidak tercatat dengan benar, atau data GPS yang sering hilang. Hal ini bisa terjadi karena sensor rusak atau tidak terkalibrasi dengan baik. Pada beberapa perangkat tiruan atau kualitas rendah, masalah seperti ini juga cukup sering ditemukan.

5. Sering kehilangan koneksi dengan HP

Smartwatch seharusnya dapat terhubung dengan HP secara stabil melalui Bluetooth. Jika koneksi sering terputus, notifikasi terlambat muncul, atau data tidak tersinkronisasi dengan benar, kemungkinan ada masalah pada modul komunikasi perangkat.

Memang, terkadang masalah ini bisa diselesaikan dengan melakukan pairing ulang atau me-restart perangkat. Namun, jika gangguan tetap muncul setelah berbagai percobaan, bisa jadi komponen hardware yang mengatur konektivitas sudah mulai rusak.

6. Performa lambat atau sering error

ilustrasi Smartwatch Pria (pexels.com/Anastasiya Badun)
ilustrasi smartwatch (pexels.com/Anastasiya Badun)

Smartwatch yang sering freeze, restart sendiri, atau terasa sangat lambat saat membuka aplikasi biasanya menunjukkan adanya masalah pada sistemnya. Hal ini bisa disebabkan oleh perangkat keras yang sudah menua, bug pada sistem operasi, atau memori internal yang mulai bermasalah.

Jika setelah melakukan factory reset performanya tetap lambat atau sering error, kemungkinan besar komponen internal seperti penyimpanan atau prosesor sudah tidak bekerja secara optimal.

7. Ada tanda kerusakan fisik atau bekas air

Kerusakan fisik sering kali menjadi indikator paling jelas bahwa smartwatch pernah mengalami perlakuan kasar. Perhatikan apakah ada penyok pada bodi, bezel yang tidak sejajar, atau tombol yang terasa longgar.

Selain itu, adanya embun atau uap air di balik layar juga bisa menandakan kerusakan akibat air. Smartwatch yang pernah mengalami water damage biasanya lebih rentan mengalami masalah lain di kemudian hari.

Membeli smartwatch bekas memang bisa menjadi pilihan yang ekonomis, tetapi tetap perlu kehati-hatian. Jika sebuah perangkat menunjukkan dua atau lebih tanda di atas, ada kemungkinan smartwatch tersebut akan mengalami kerusakan yang lebih serius di kemudian hari. Sebelum membeli, sebaiknya lakukan pengujian sederhana, seperti mengecek baterai, layar, konektivitas, serta sensor. Dengan pemeriksaan yang teliti, kamu bisa menghindari pembelian smartwatch bekas yang justru berujung pada biaya perbaikan yang lebih mahal.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Achmad Fatkhur Rozi
EditorAchmad Fatkhur Rozi
Follow Us

Latest in Tech

See More