6 Game FPS Apik dengan Penjualan Mengecewakan

Resistance 3 tenggelam di tengah hype game besar lainnya pada 2011.
Titanfall 2 kesulitan bersaing dengan Call of Duty: Infinite Warfare dan Battlefield 1.
Bulletstorm terkena kontroversi dan sulit mendapat perhatian di tengah banyaknya game FPS lain.
Dalam beberapa tahun terakhir, genre FPS memang agak meredup, tapi di akhir 2000-an hingga awal 2010-an, game FPS menjadi primadona. Sebagian laku keras, sementara banyak yang lainnya malah jeblok secara penjualan. Kendati demikian, game yang gagal secara komersial bukan berarti jelek atau tidak layak untuk dimainkan. Beberapa diantaranya malah berkualitas tinggi, tapi karena berbagai faktor jadi agak kesulitan mendapat perhatian pemain. Game apa saja itu? Berikut daftarnya.
1. Resistance 3
Resistance 3 bisa dibilang kurang beruntung. Sebagai penutup trilogi Resistance dari Insomniac yang sebagian lahir sebagai jawaban atas pamor Halo di Xbox, game ini sebenarnya punya identitas kuat. Game ini lebih kelam dari Halo, lebih liar dan fantastis dibanding Call of Duty, senjatanya lebih kreatif daripada Battlefield dan musuhnya lebih menarik dari Killzone. Masalahnya ketika rilis pada 2011, pasar game FPS sedang ramai oleh game-game besar seperti Battlefield 3, Crysis 2, Killzone 3, Rage hingga Call of Duty: Modern Warfare 3. Alhasil, Resistance 3 tenggelam di tengah banyaknya hype terhadap para pesaingnya.
2. Titanfall 2
Terlepas dari fakta bahwa ada banyak pemain yang memuji mode campaign-nya, Titanfall 2 tetap kesulitan ketika dirilis karena muncul tepat di tengah gempuran Call of Duty: Infinite Warfare dan Battlefield 1. Game ini seolah butuh keajaiban untuk bisa benar-benar bersinar di antara dua game FPS besar itu. Meski diskon rutin terus mendorong pemain untuk mencoba, penjualannya tetap di bawah pendahulunya, yang menjadi salah satu alasan kenapa Titanfall 3 dibatalkan. Masih ada peluang untuk berubah, tapi karena fokus Respawn saat ini terbagi ke Apex Legends dan seri Star Wars: Jedi, Titanfall tampaknya akan “diparkir” untuk sementara waktu.
3. Bulletstorm
Bulletstorm menjadi salah satu korban padatnya perilisan game FPS di 2011. Dunia game ini sekilas mengingatkan pada Borderlands, tapi sistem combat-nya lebih menekankan aksi jarak dekat yang mana itu cukup unik. Sayangnya, Bulletstorm sempat terseret kontroversi di Fox News ketika seorang reporter tiba-tiba mengaitkan game ini dengan meningkatnya kasus kekerasan seksual. Alhasil, reputasi game ini jadi rusak sebelum dirilis. Selain itu, di tengah banyaknya game FPS lain yang meluncur di tahun yang sama, Bulletstorm praktis sulit mendapat perhatian. Padahal, untuk pemain yang mencari game FPS yang kreatif, game ini salah satunya.
4. Singularity
Singularity merupakan game yang mungkin hanya pernah pemain dengar sekali atau bahkan tidak sama sekali, karena memang tidak banyak pemain yang benar-benar memainkannya. Padahal, konsepnya menarik di mana pemain dibekali kemampuan manipulasi waktu yang bisa digunakan untuk bertarung sekaligus menggerakkan cerita. Banyak kritikus menilai game ini lebih bagus dari perkiraan dan memberi ulasan yang cukup positif namun sayangnya, Activision seakan mengabaikannya begitu saja dengan pemasaran yang seadanya dan jadwal rilis yang tidak tepat. Alhasil, performa penjualannya jadi mengecewakan.
5. Battlefield Hardline
EA membeli studio yang sedang naik daun dan punya rekam jejak apik di genre tertentu, lalu justru menugaskan studio itu untuk menggarap game yang jauh berbeda. Ketika game-nya kurang laku, studionya yang jadi korban. Itulah yang terjadi pada Visceral Games ketika mereka dipercaya EA untuk mengerjakan Battlefield Hardline. Game ini sendiri juga menyimpang dari formula serinya di mana alih-alih perang militer, game ini membawa cerita polisi melawan kriminal dengan latar Miami, sehingga para pemain kurang berminat. Padahal jika tidak membawa nama besar Battlefield, game ini punya cerita yang seru dan stealth yang solid.
6. Prey
Digarap Arkane, Prey merupakan game immersive sim seperti Dishonored dan Deus Ex namun dibalut tema horor dan sci-fi. Banyak pemain yang memainkannya jatuh cinta, kritikus pun memujinya, namun sayangnya, penjualannya tidak maksimal. Salah satu penyebabnya adalah versi review baru dikirim ke media pada malam sebelum perilisannya, sehingga ulasannya terlambat muncul dan kemungkinan membuat sebagian pemain ragu untuk langsung membelinya. Di luar itu, game ini juga serba “nanggung” di mana elemen tembak-tembakannya tidak intens, diklaim open-world padahal dunianya hanya sebuah stasiun luar angkasa raksasa dan aspek horornya tidak semengerikan itu.
Demikian tadi ulasan mengenai beberapa game FPS apik dengan penjualan yang mengecewakan. Pernah memainkan game-game di atas?


















