Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
4 Alasan untuk Berpikir Dua Kali Sebelum Instal Adblocker di Browser
ilustrasi browser Google Chrome di laptop (pixabay.com/Zulfugar Karimov)
  • Adblocker dapat salah memblokir elemen penting seperti video, tombol, formulir, dan login, sehingga tampilan situs tidak sempurna atau halaman gagal dimuat.
  • Adblocker palsu berisiko memasang cookie, mengganggu performa browser, mengalihkan transaksi afiliasi, hingga membuka akses ke data pribadi dan aktivitas pengguna.
  • Situs dapat mendeteksi adblocker dan meminta pengguna menonaktifkannya, sementara sebagian iklan tetap bisa lolos karena filter, format iklan, atau kebijakan acceptable ads.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Iklan di internet sangatlah mengganggu, terutama ketika muncul sebagai pop-up, memenuhi layar atau memperlambat proses membuka halaman dari situs yang dikunjungi. Maka dari itu, adblocker menjadi solusi terbaik yang banyak digunakan banyak pengguna untuk membuat pengalaman berselancar di internet jadi lebih nyaman karena terbebas dari yang namanya iklan. Namun, adblocker tidak selalu bekerja tanpa risiko. Selain bisa memengaruhi fungsi sejumlah situs, menggunakan adblocker yang tidak tepat juga berpotensi menimbulkan masalah keamanan dan privasi. Berikut beberapa alasan untuk berpikir dua kali sebelum menggunakan adblocker.

1. Adblocker bisa mengganggu fungsi situs-situs tertentu

ilustrasi adblocker (dok. Adblock Plus)

Adblocker bekerja menggunakan filter untuk mengenali alamat, script atau elemen dari halaman sebuah situs yang dianggap sebagai iklan maupun pelacak. Ketika menemukan elemen yang sesuai dengan filter tersebut, adblocker akan mencegahnya ditampilkan atau diunduh. Masalahnya, filter tidak selalu mampu membedakan iklan dari elemen penting lain. Video, tombol, formulir, sistem login atau bagian tertentu dari halaman bisa saja ikut dianggap sebagai iklan atau pelacak. Akibatnya, situs bisa tampil dengan tidak sempurna, beberapa fitur tidak berfungsi, atau halamannya gagal dimuat. Jika sebuah situs bermasalah setelah pemasangan adblocker, pengguna bisa mencoba menonaktifkan adblocker untuk sementara lalu memuat ulang halaman dari situs yang dikunjungi.

2. Pilihan adblocker yang salah bisa membahayakan keamanan

Tidak semua adblocker dibuat oleh pengembang yang bisa dipercaya. Adblocker palsu atau tiruan dari adblocker populer bisa muncul di toko aplikasi atau extension browser. Namanya mungkin terlihat meyakinkan, namun biasanya memiliki tujuan yang berbeda dari sekadar memblokir iklan. Adblocker berbahaya bisa memasukkan cookie tertentu ke browser, memengaruhi performa browser atau mengubah transaksi pengguna menjadi pembelian melalui tautan afiliasi pembuatnya. Dalam skenario yang lebih serius, adblocker semacam itu berpotensi membuka akses terhadap data pribadi dan aktivitas pengguna. Karena itu, reputasi pengembang, jumlah pengguna, ulasan, serta izin yang diminta perlu diperiksa kembali sebelum melakukan instalasi adblocker.

3. Sebagian situs bisa mendeteksi adblocker

ilustrasi adblocker yang terdeteksi (dok. Ad-Shield)

Situs yang bergantung pada iklan biasanya memiliki cara untuk mengetahui apakah pengunjung menggunakan adblocker. Salah satu metodenya adalah menempatkan elemen tertentu yang wajar untuk diblokir, kemudian memeriksa apakah elemen tersebut berhasil dimuat. Jika adblocker terdeteksi, situs akan menampilkan pesan agar pengguna menonaktifkan adblocker jika ingin lanjut mengunjungi situs tersebut. Beberapa pengguna memang mencoba melewati pemberitahuan itu menggunakan script atau pengaturan tambahan, namun tindakan semacam itu bisa membuat situs semakin sulit berfungsi dengan semestinya. Selain itu, cara serupa juga berpotensi mengurangi pendapatan yang dibutuhkan untuk menjaga layanan dari situs terkait untuk tetap berjalan.

4. Tidak semua iklan akan hilang sepenuhnya

Adblocker bukan extension atau layanan praktis yang otomatis menghapus seluruh iklan dari internet. Efektivitasnya bergantung pada filter, aturan pemblokiran dan cara sebuah situs menampilkan iklan. Beberapa situs mungkin menggunakan format iklan yang tidak dikenali oleh filter atau memasukkannya ke dalam struktur halaman secara berbeda. Selain itu, terdapat fitur seperti acceptable ads yang pada layanan tertentu memungkinkan sebagian iklan agar tetap tampil. Iklan yang dianggap tidak terlalu mengganggu bisa dikecualikan dari pemblokiran, tergantung pengaturan dan kebijakan penyedia adblocker. Artinya, masih ada kemungkinan yang cukup besar bahwa pengguna akan tetap melihat iklan meskipun adblocker dalam kondisi aktif.

Demikian tadi ulasan mengenai beberapa alasan untuk berpikir dua kali sebelum menggunakan adblocker. Masih tertarik memasang adblocker setelah membaca ulasan di atas?

Curated For You

Editorial Team

Related Article