Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
4 Alasan untuk Tidak Menggunakan Lampu Pintar, Sesuaikan Kebutuhan
ilustrasi lampu pintar (Unsplash/Michal Turkiewicz)
  • Lampu pintar lebih mahal daripada lampu biasa, sementara daya tahan keduanya sama-sama panjang; mengganti hanya sebagian lampu juga membuat pengendalian pencahayaan tidak menyeluruh.

  • Berbeda dari lampu biasa, lampu pintar bergantung pada Wi-Fi atau Bluetooth sehingga fitur jarak jauh dan otomatisasi dapat terganggu, bahkan perlu konfigurasi ulang setelah listrik padam.

  • Koneksi internet pada lampu pintar membuka risiko keamanan, pengumpulan data, dan beban bandwidth Wi-Fi; teknologi ini dinilai bisa membuat kebutuhan sederhana menjadi lebih rumit.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Lampu pintar terutama yang berbentuk bohlam memang menarik karena bisa bisa dikendalikan dari HP, bisa dijadwalkan untuk mati atau menyala secara otomatis atau bahkan berubah warna sesuai aktivitas yang sedang kamu lakukan. Namun, sebelum mengganti seluruh lampu rumah ke lampu pintar, ada beberapa kekurangan yang perlu diketahui. Lampu pintar memang tetap berguna untuk kebutuhan tertentu, namun bukan berarti setiap ruangan di rumah wajib memakainya. Berikut beberapa alasan untuk tidak menggunakan lampu pintar.

1. Harganya lebih mahal dari lampu biasa

ilustrasi lampu pintar (Unsplash/Marcus Urbenz)

Harga lampu pintar beragam namun buatan brand ternama bisa mencapai Rp100 ribu untuk watt paling kecil. Jika ingin watt yang lebih besar sekaligus lebih terang, kamu harus merogoh kocek lebih banyak lagi. Jika dibandingkan dengan lampu biasa yang bisa dibeli di harga kurang Rp50 ribu, lampu pintar jelas lebih mahal terlepas dari kecanggihan yang dimilikinya. Apalagi, mengganti hanya sebagian lampu dalam satu rumah kurang efektif karena tidak seluruh pencahayaan bisa dikendalikan dari aplikasi atau smart hub. Lampu pintar sendiri memang bisa bertahan bertahun-tahun atau bahkan lebih dari sepuluh tahun, namun lampu biasa juga sama-sama memiliki daya tahan yang panjang.

2. Lebih rentan bermasalah dibanding lampu biasa

Lampu biasa hanya membutuhkan listrik dan saklar untuk bekerja. Sementara itu, lampu pintar juga bergantung pada koneksi Wi-Fi atau Bluetooth. Artinya, jika koneksi Wi-Fi di rumah sedang terputus atau mengalami gangguan, fitur mengendalikan dari jarak jauh dan otomatisasi akan langsung tidak berfungsi. Masalah serupa juga akan muncul ketika listrik padam, di mana terkadang kamu harus melakukan konfigurasi ulang dari awal karena lampu pintar gagal terhubung dengan jaringan Wi-Fi di rumah. Hal semacam ini tentu merepotkan mengingat lampu pintar dibuat untuk memberi kemudahan. Lampu biasa mungkin sederhana, namun justru karena kesederhanaan itu lampu biasa jadi lebih jarang bermasalah.

3. Ada risiko privasi dan keamanan

ilustrasi lampu pintar (Unsplash/Jakub Zerdzicki)

Perangkat pintar yang terhubung ke internet pada dasarnya menjadi bagian dari jaringan di dalam rumah. Nah, perangkat seperti lampu pintar memiliki celah keamanan yang bisa dimanfaatkan hacker untuk menyusup ke jaringan, menyebarkan malware atau mengakses data pribadimu. Selain risiko peretasan, lampu pintar juga bisa mengumpulkan data penggunaan, pola aktivitas dan data-data lainnya, yang bisa disalahgunakan. Intinya, semakin banyak perangkat pintar di rumah, semakin banyak pula titik yang berpotensi dikumpulkan oleh perusahaan teknologi atau dijebol oleh hacker. Untuk hal sepele seperti sekadar menyalakan lampu, risiko privasi tambahan dari lampu pintar benar-benar tidak sepadan dengan manfaatnya.

4. Tidak semua benda di rumah harus pintar

Salah satu keuntungan utama lampu pintar adalah bisa dikendalikan dari jarak jauh. Namun, setiap lampu pintar juga menambah perangkat yang menggunakan bandwidth Wi-Fi. Pada rumah dengan koneksi Wi-Fi yang tidak stabil, hal ini malah bisa memperberat jaringan dan rencana untuk merealisasikan rumah pintar pun tidak berjalan dengan mulus. Intinya, tidak semua benda di rumah harus pintar. Ada beberapa benda yang ada baiknya dibiarkan sederhana seperti lampu, kunci pintu dan kulkas, karena kecanggihan dari versi pintar benda-benda tersebut tidak sebanding dengan berbagai masalah yang bisa timbul. Selain itu, lampu pintar juga menunjukkan bahwa teknologi terkadang membuat hal sederhana menjadi lebih rumit dan merepotkan.

Demikian tadi ulasan mengenai beberapa alasan untuk tidak menggunakan lampu pintar. Selain karena beberapa alasan di atas, apa alasan lain untuk tidak menggunakan lampu pintar versimu?

Curated For You

Editorial Team

Related Article