ilustrasi menulis skripsi (freepik.com/freepik)
FYI, sangat tidak dianjurkan untuk membuat karya akademik menggunakan ChatGPT atau AI lainnya. Alasannya, teks yang dihasilkan merupakan hasil generate dari banyak sumber. Tindakan tersebut merupakan salah satu unsur plagiarisme, melansir laman UGM.
Sebagaimana aturan Permendiknas No 17 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Penanggulangan Plagiat di Perguruan Tinggi, plagiarisme merupakan kegiatan yang sengaja atau tidak untuk menilai sebuah karya dengan mengutip sebagian atau seluruh karya pihak lain.
Selain itu, sumber AI dalam memberikan informasi pun tidak sepenuhnya bisa divalidasi. Untuk itu, hasil tulisan AI berisiko tinggi mengandung unsur ketidakakuratan.
Lantas, apakah penggunaan kecerdasaan buatan dan cara membuat tulisan AI tidak terdeteksi sepenuhnya dilarang? Sebetulnya, tidak juga, kok. Kamu tetap bisa menggunakan AI untuk membantumu mencari ide, menyusun kalimat, hingga menerjemahkan jurnal. Namun, setelahnya, tuangkan ide tersebut dengan pemikiran dan tulisanmu sendiri, ya.
Apakah mengubah struktur kalimat aktif menjadi pasif saja sudah cukup untuk mengelabui detektor AI? | Biasanya tidak cukup. Detektor AI modern mendeteksi pola tulisan berdasarkan perplexity (keragaman kata) dan burstiness (variasi panjang kalimat). Sekadar membalik kalimat aktif-pasif secara konsisten justru membentuk pola monoton baru yang mudah dibaca oleh sistem detektor sebagai teks buatan bot. |
Mengapa teks hasil translate (terjemahan) dari Google Translate atau DeepL kadang ikut terdeteksi sebagai AI? | Karena mesin penerjemah menggunakan algoritma Machine Learning yang memproses kata berdasarkan probabilitas statistik paling logis. Hasilnya, susunan kalimat menjadi sangat baku, prediktif, dan minim "kesalahan organik" khas manusia, sehingga detektor AI sering salah mengiranya sebagai teks buatan ChatGPT. |
Apakah menambahkan typo (salah ketik) atau kesalahan tata bahasa sengaja bisa meloloskan tulisan dari detektor AI? | Secara teknis bisa menurunkan skor deteksi AI pada beberapa alat model lama, tetapi trik ini sangat tidak direkomendasikan. Detektor AI versi terbaru sudah bisa mengabaikan typo minor, dan manipulasi ini justru merusak kualitas, profesionalisme, serta kredibilitas tulisan Anda di mata pembaca manusia. |
Apakah penggunaan ekstensi pihak ketiga pengubah teks (seperti AI Humanizer) dijamin 100% aman dan permanen? | Tidak ada jaminan 100%. Metode yang digunakan oleh AI Humanizer adalah "kucing-kucingan" dengan sistem detektor. Ketika detektor AI memperbarui algoritmanya (misalnya pembaruan dari GPT-3.5 ke GPT-4 atau model yang lebih baru), teks yang tadinya lolos bisa kembali terdeteksi sebagai AI di kemudian hari. |