Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

5 Kebiasaan Sepele di Media Sosial yang Dimanfaatkan Penjahat Siber

4 min read
5 Kebiasaan Sepele di Media Sosial yang Dimanfaatkan Penjahat Siber
ilustrasi sedang bermain Instagram (Pexels.com/Brian Ramirez)
  • Membagikan detail pribadi secara berlebihan, termasuk nama hewan peliharaan, tanggal lahir, keluarga, dan sekolah, dapat membantu pelaku menebak kata sandi, jawaban keamanan, atau membuat phishing lebih meyakinkan.
  • Unggahan lokasi real-time dan foto yang menyimpan data lokasi bisa mengungkap keberadaan pengguna. Pengaturan lokasi pada aplikasi serta perangkat perlu diperiksa dan dimatikan saat tidak diperlukan.
  • Kuis, tautan DM dari akun tak dikenal, serta login media sosial ke aplikasi pihak ketiga berisiko membuka akses data. Pengguna perlu memeriksa kredibilitas, izin akses, dan mencabut aplikasi tak terpakai.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Di era serba digital ini, media sosial seakan sudah jadi bagian yang gak bisa dilepaskan dari aktivitas harian. Pengguna media sosial bisa melakukan berbagai aktivitas, dari berbagi momen liburan hingga berkomunikasi dengan teman di dalamnya. Tapi, pernah nggak kamu kepikiran kalau kebiasaan-kebiasaan yang kelihatan sepele itu sebenarnya bisa jadi pintu masuk utama buat peretas mencuri data pribadimu?

Penjahat siber dapat mencuri informasi dari pengguna media sosial dengan meretas akun. Namun, membagikan informasi pribadi juga dapat meningkatkan risiko kebocoran data. Kejahatan siber zaman sekarang makin canggih dan sering kali memanfaatkan celah dari kebiasaan kecil ini untuk melakukan tindak kejahatan. Nah, biar kamu bisa lebih waspada dan akunmu tetap aman, yuk, simak lima kebiasaan sepele yang bisa bikin data pribadimu bocor berikut!

  1. 1. Terlalu banyak membagikan informasi pribadi

    tampilan beberapa media sosial
    tampilan beberapa media sosial (Pexels.com/Castorly Stock)

    Mengisi profil media sosial secara lengkap memang membuat akun terlihat lebih menarik. Nama lengkap, tanggal lahir, tempat kerja, nama pasangan, hingga nama hewan peliharaan sering kali dicantumkan di bio profil. Padahal, semakin banyak informasi yang tersedia secara publik, semakin banyak pula informasi yang bisa dimanfaatkan penjahat siber.

    FBI menyebut informasi yang dibagikan secara publik seperti nama hewan peliharaan, sekolah, anggota keluarga, dan tanggal lahir dapat membantu penipu menebak kata sandi atau jawaban pertanyaan keamanan yang pengguna miliki. Informasi tersebut juga bisa digunakan untuk membuat pesan phishing yang terasa lebih personal dan meyakinkan. Hal yang sama juga menjadi perhatian National Cyber Security Centre (NCSC) Inggris. Mereka menyarankan pengguna memperhatikan detail apa saja yang dibagikan ke publik. Sebab, kita tidak tahu kepada siapa saja informasi tersebut akan tersebar.

  2. 2. Sering membagikan lokasi secara real-time

    ilustrasi sedang main medsos
    ilustrasi sedang main medsos (Pexels.com/RDNE Stock project)

    Kebiasaan sepele lainnya yang sering dilakukan adalah langsung mengunggah lokasi ketika sedang berada di suatu tempat. Misalnya, kamu baru tiba di restoran, hotel, konser, atau tempat wisata lalu mengunggah foto dengan lokasi secara real-time. Terlihat menyenangkan, tetapi kebiasaan ini juga bisa memberikan informasi mengenai keberadaanmu kepada orang yang tidak dikenal.

    Federal Trade Commission (FTC) mengingatkan bahwa pengguna perlu memperhatikan pengaturan lokasi pada aplikasi dan perangkat yang digunakan. Beberapa aplikasi dapat membagikan lokasi pengguna, sementara foto yang diambil dengan kamera juga dapat menyimpan informasi terkait lokasi. FTC menyarankan pengguna mematikan fitur berbagi lokasi ketika memang tidak diperlukan. Sama halnya, lembaga perlindungan hak digital Electronic Frontier Foundation (EFF) menekankan pentingnya menjaga privasi lokasi agar terhindar dari pelacakan data yang dapat merugikan.

  3. 3. Sembarangan mengikuti kuis

    sedang pakai hp
    ilustrasi sedang pakai hp (Pexels.com/iam hogir)

    Kuis sederhana seperti "Siapa nama hewan peliharaanmu?" sering muncul di media sosial. Jawaban dari kuis-kuis tersebut tak jarang merupakan pertanyaan keamanan (security questions) yang biasa digunakan untuk memulihkan kata sandi jika lupa. Tak jarang, pengguna langsung memberikan jawaban ke kuis tersebut tanpa menaruh kecurigaan.

    Mozilla memperingatkan pengguna agar tidak memasukkan informasi yang dapat digunakan untuk mengakses akun atau menjawab pertanyaan keamanan. Informasi seperti nama hewan peliharaan, misalnya, dapat menjadi data yang sensitif jika sebelumnya digunakan sebagai pertanyaan keamanan untuk akun

  4. 4. Asal klik link dari DM akun yang tidak dikenal

    ilustasi sedang menggunakan ponsel
    ilustasi sedang menggunakan ponsel (Pexels.com/Marcus Aurelius)

    Mendapatkan pesan pribadi berisi link memang bukan hal aneh di media sosial. Link tersebut bisa berupa undangan, promo, atau hal lainnya. Karena tampilannya terlihat meyakinkan, pengguna terkadang langsung mengkliknya tanpa memeriksa terlebih dahulu. Namun, berdasarkan laman FBI, phishing dapat menggunakan informasi yang ditemukan di media sosial untuk membuat serangan terasa lebih meyakinkan. Pelaku bisa menyamar sebagai pihak yang dipercaya dan kemudian mengarahkan korban ke situs palsu untuk meminta informasi seperti kata sandi, nomor rekening, atau data sensitif lainnya.

  5. 5. Menggunakan login media sosial untuk masuk ke aplikasi pihak ketiga

    ilustrasi sedang scrolling medsos
    ilustrasi sedang scrolling medsos (Pexels.com/Andrea Piacquadio)

    Fitur "Log in with Facebook" atau "Log in with Google" memang kelihatan praktis banget karena kita nggak perlu repot-repot bikin akun baru atau menghafal kata sandi tambahan. Tapi, kebiasaan menghubungkan akun media sosial utama ke berbagai aplikasi atau situs web pihak ketiga yang nggak jelas kredibilitasnya dapat membahayakan privasi datamu.

    Aplikasi pihak ketiga yang mendapatkan akses ke akun dapat memperoleh informasi tertentu sesuai dengan izin yang diberikan pengguna. Karena itu, penting untuk memeriksa izin yang diminta sebelum menghubungkan akun dan mencabut akses aplikasi yang sudah tidak digunakan. Langkah sederhana ini dapat membantu mengurangi jumlah pihak yang memiliki akses terhadap informasi akunmu.

    Menjaga data pribadi di media sosial sebenarnya bisa dimulai dari kebiasaan sederhana. Kurangi informasi yang dibagikan, lebih selektif menerima orang baru, dan jangan sembarangan mengeklik link atau mengikuti kuis. Dengan lebih berhati-hati, risiko data pribadi jatuh ke tangan yang salah juga bisa dikurangi.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Dari Kebun Nilam ke Pasar Dunia

Related Articles

See More