Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Kelahiran AI Buat Pola Serangan Siber Semakin Canggih

Kelahiran AI Buat Pola Serangan Siber Semakin Canggih
Clara Hsu, Indonesia Country Manager Synology Inc (IDN Times/Misrohatun)
Intinya Sih
  • Perkembangan AI mempercepat transformasi digital namun meningkatkan kompleksitas infrastruktur IT, memperluas permukaan serangan, dan menambah risiko keamanan bagi berbagai sektor industri.
  • Pola serangan siber seperti phishing dan ransomware kini makin canggih serta personal, membuat pergerakan hacker sulit dikenali dan berdampak besar pada operasional organisasi.
  • Synology menghadirkan ActiveProtect sebagai solusi backup terintegrasi dengan fitur isolasi, immutability, dan air-gap untuk memperkuat ketahanan siber serta memastikan pemulihan data cepat dan andal.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Perkembangan akal imitasi (artificial intelligence/AI) kini semakin mempercepat transformasi digital di berbagai sektor industri. Dari peningkatan efisiensi operasional hingga pengambilan keputusan berbasis data, teknologi ini telah menjadi bagian penting dalam strategi bisnis modern.

Namun di balik percepatan tersebut, muncul tantangan baru yang tidak bisa diabaikan. Seiring dengan meningkatnya adopsi AI, organisasi kini harus mengelola lebih banyak sistem, lebih banyak data, serta konektivitas yang semakin luas antar lingkungan IT. Kondisi ini membuat infrastruktur teknologi menjadi semakin kompleks dan pada saat yang sama, memperbesar potensi risiko keamanan.

Pergerakan hacker sulit dikenali

Pola serangan seperti phishing, pencurian kredensial, dan ransomware masih menjadi metode utama. Namun pendekatannya kini jauh lebih canggih.

Serangan phishing, misalnya, kini dapat disusun secara sangat personal. Pesan yang dikirim tidak lagi terlihat generik, melainkan disesuaikan dengan konteks pekerjaan, jabatan, bahkan gaya komunikasi target. Hal ini membuat serangan menjadi jauh lebih meyakinkan dan sulit dikenali.

Setelah kredensial berhasil diperoleh, pelaku dapat masuk ke dalam sistem dan bergerak secara tersembunyi. Dalam banyak kasus, serangan tidak langsung dilakukan. Pelaku justru menunggu momen yang paling kritis seperti akhir kuartal atau periode bisnis sibuk untuk meluncurkan ransomware dan memaksimalkan dampak terhadap operasional.

Ancaman siber kini tidak lagi terbatas pada perusahaan besar. Organisasi dari berbagai skala, termasuk sektor finansial, layanan pemerintah, manufaktur, hingga kesehatan, menjadi target yang sama-sama rentan.

Semakin luasnya adopsi teknologi digital, batasan infrastruktur IT menjadi semakin kompleks dan terdistribusi. Akibatnya, permukaan serangan juga semakin besar dan sulit dikendalikan.

“Kompleksitas IT yang meningkat karena AI selalu datang bersama peningkatan risiko. Semakin banyak sistem dan data, semakin besar pula permukaan serangan yang harus diamankan,” ujar Clara Hsu, Indonesia Country Manager Synology Inc.

Pendekatan terintegrasi

ilustrasi hacker (pexels.com/Tima Miroshnichenko)
ilustrasi hacker (pexels.com/Tima Miroshnichenko)

Menghadapi ancaman yang semakin berkembang membuat organisasi tidak bisa hanya mengandalkan pencegahan. Ketika serangan berhasil menembus sistem, kemampuan untuk memulihkan data menjadi faktor yang sangat menentukan.

Dalam konteks ini, backup berperan sebagai garis pertahanan terakhir. Namun, pendekatan terhadap backup juga perlu berubah.

“Masih banyak yang menganggap backup itu sudah cukup. Padahal, jika backup tidak terlindungi, itu justru bisa menjadi titik lemah yang paling berbahaya,” jelas Clara.

Menjawab kebutuhan tersebut, Synology menghadirkan ActiveProtect sebagai solusi perlindungan data yang dirancang untuk mendukung ketahanan siber di era modern.

Solusi ini memungkinkan organisasi mengelola backup dari berbagai lingkungan, mulai dari cloud, server, hingga mesin virtual dalam satu platform terpusat. Dengan pendekatan ini, kompleksitas dapat dikurangi tanpa mengorbankan visibilitas dan kontrol.

Selain itu, perlindungan data diperkuat melalui isolasi lingkungan backup, memastikan data tetap aman bahkan ketika sistem utama terdampak. Teknologi immutability memastikan data tidak dapat diubah atau dihapus, sementara mekanisme air-gap memberikan perlindungan tambahan dengan membatasi akses jaringan secara ketat.

Bukan cuma sekedar perlindungan

Selain perlindungan, kemampuan pemulihan menjadi aspek krusial dalam strategi keamanan modern. Backup tidak hanya harus tersedia, tetapi juga harus dipastikan dapat dipulihkan dengan cepat dan andal.

Pendekatan ini sejalan dengan strategi 3-2-1-1-0, yang menekankan pentingnya memiliki beberapa salinan data, termasuk salinan yang terisolasi dan tidak dapat diubah, serta memastikan seluruh backup bebas dari error.

“Di era sekarang, keamanan tidak cukup hanya mencegah. Yang lebih penting adalah memastikan bisnis tetap bisa berjalan dan pulih dengan cepat setelah serangan terjadi,” ujar Clara.

Dengan semakin berkembangnya AI, lanskap ancaman siber akan terus berubah. Organisasi yang mampu membangun ketahanan sejak dini akan memiliki kesiapan yang lebih baik dalam menghadapi risiko ke depan.

Di tengah percepatan transformasi digital, perlindungan data kini bukan lagi sekadar kebutuhan teknis, melainkan bagian penting dari strategi bisnis secara keseluruhan.

Ke depan, bukan hanya perusahaan yang paling cepat bertransformasi yang akan unggul, tetapi juga mereka yang paling siap menghadapi risiko yang menyertainya.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Achmad Fatkhur Rozi
EditorAchmad Fatkhur Rozi
Follow Us

Latest in Tech

See More