bendera China (unsplash.com/CARLOS DE SOUZA)
Wacana penahanan ritme pengembangan AI juga berbenturan dengan rivalitas AS dengan China. Di mata pemerintah AS, pelambatan riset domestik hanya masuk akal jika blok barat berhasil menjaga jarak keunggulan komputasi atas Beijing. Apabila jeda waktu tersebut dimanfaatkan pihak rival untuk menyalip, dominasi teknologi dan pertahanan digital negara barat dinilai berada dalam ancaman serius.
Presiden AS Donald Trump sendiri menolak gagasan campur tangan pemerintah untuk membatasi laju riset AI di dalam negeri. Trump menegaskan bahwa pemenang perlombaan AI akan memegang kendali kepemimpinan masa depan, sehingga AS tidak boleh mengendurkan ritme inovasi. Menanggapi kekhawatiran ini, Amodei mengusulkan pengetatan kontrol ekspor cip semikonduktor canggih serta pengawasan ketat terhadap praktik distilasi (distillation) ilegal guna menjaga jarak keunggulan teknologi selama tiga hingga lima tahun mendatang.
Di sisi lain, surat kabar pemerintah China Global Times mengecam esai Amodei dan menyebut proposal tersebut sebagai taktik Perang Dingin yang dibungkus dengan alasan keselamatan publik. Beijing menilai tudingan pencurian model melalui teknik distilasi hanyalah dalih proteksionisme AS untuk memonopoli industri AI. Analis kebijakan internasional Lizzi C. Lee menyoroti bahwa mustahil bagi kedua negara adidaya untuk menjalin kerja sama keselamatan jika akses perangkat keras komputasi terus dibatasi secara sepihak.
"Penyebaran rasa takut, konfrontasi, dan persaingan jahat hanya akan mengganggu proses tata kelola kecerdasan buatan global yang tidak menguntungkan siapa pun," ujar Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Guo Jiakun dalam konferensi pers, dilansir NPR.
Dilema penahanan laju AI ini menunjukkan bahwa isu keselamatan AI tidak bisa dilepaskan dari tarik-menarik kepentingan geopolitik dan ekonomi global. Di tengah bayang-bayang risiko AI yang kian nyata, ambisi negara dan korporasi raksasa untuk memenangkan perlombaan komputasi tetap menjadi dinding penghalang bagi terwujudnya kesepakatan bersama. Melihat benturan kepentingan yang begitu rumit di panggung dunia saat ini, apakah menurutmu seruan untuk mengerem laju riset AI bisa benar-benar terwujud?