Kenapa China Menolak Seruan AS untuk Memperlambat Pengembangan AI?

- China menolak perlambatan AI karena menganggapnya kemampuan strategis terkait kedaulatan dan daya saing, sementara ketertinggalan dari model frontier AS masih ingin dikejar.
- Beijing mengakui risiko AI, termasuk agen AI dan keamanan siber, tetapi memilih regulasi yang terus diperbarui agar teknologi tetap berkembang dalam kendali negara.
- AI didorong untuk pertumbuhan ekonomi, terutama manufaktur, serta mudah diadopsi di masyarakat yang telah terdigitalisasi; regulasi aktif diterapkan meski evaluasi sukarela perusahaan masih terbatas.
Perkembangan kecerdasan buatan atau AI kini menjadi salah satu arena persaingan teknologi terbesar antara China dan Amerika Serikat. Di tengah kekhawatiran tentang risiko AI yang makin canggih, sejumlah tokoh teknologi di AS mulai menyerukan agar pengembangan AI frontier (AI tercanggih) diperlambat.
Namun, seruan tersebut gak mendapat respons positif dari Beijing karena China melihat AI sebagai teknologi yang terlalu penting untuk diperlambat begitu saja. Di sisi lain, bukan berarti China mengabaikan risiko keamanan yang muncul dari perkembangan AI. Lantas, kenapa China tetap ingin melaju ketika AS mulai membicarakan perlunya memperlambat pengembangan teknologi tersebut?
1. AI dianggap sebagai kemampuan strategis negara

ilustrasi bendera China (magnific.com/rawpixel.com) Bagi pemerintah China, AI memiliki posisi yang jauh lebih penting daripada sekadar teknologi baru untuk perusahaan. Lian Jye Su dari lembaga riset teknologi Omdia menjelaskan bahwa Beijing melihat AI sebagai kemampuan inti yang berkaitan dengan kedaulatan negara. Karena itu, memperlambat pengembangan AI dikhawatirkan justru membuat China kehilangan momentum untuk mengejar kemampuan teknologi AS.
Kondisi tersebut menjadi semakin penting karena Amerika Serikat masih dianggap memiliki keunggulan dalam pengembangan model AI frontier. Sejumlah analis menilai model AI tercanggih dari perusahaan AS masih berada di depan produk China, meski jaraknya terus dipersempit. Su menilai Beijing dapat melihat seruan perlambatan dari AS sebagai upaya untuk mempertahankan keunggulan tersebut. Jadi, dari sudut pandang China, perlambatan bukan sekadar persoalan keamanan teknologi, tapi juga berkaitan dengan persaingan strategis antarnegara.
2. China gak menganggap risiko AI harus dihadapi dengan memperlambat teknologi

ilustrasi pengguna teknologi AI (unsplash.com/Aerps.com) Penolakan terhadap perlambatan juga bukan berarti China menganggap AI sepenuhnya aman. Pemerintah China justru terus memperbarui kerangka tata kelola AI untuk mengantisipasi berbagai risiko yang muncul seiring perkembangan teknologi. Dalam pembaruan kerangka keselamatan AI terbaru, sejumlah perhatian diarahkan pada risiko AI agent, ancaman keamanan siber dari model frontier, serta kemungkinan recursive self-improvement.
Gabriel Wagner, peneliti dari konsultan keselamatan AI Concordia AI, menilai terdapat lebih banyak kesamaan antara kekhawatiran pemerintah China dan peringatan dari tokoh teknologi AS daripada yang mungkin terlihat. Perbedaannya lebih banyak terletak pada cara menghadapi risiko tersebut. China cenderung memilih pendekatan regulasi yang terus disesuaikan seiring munculnya teknologi dan risiko baru. Dengan kata lain, Beijing tampaknya ingin AI tetap berkembang, tapi berada dalam batas yang bisa dikendalikan negara.
3. AI sudah dianggap penting untuk pertumbuhan ekonomi

ilustrasi bendera China (freepik.com/DC Studio) Alasan lainnya berkaitan dengan ambisi ekonomi China. Pemerintah secara aktif mendorong penggunaan AI di berbagai sektor, termasuk industri manufaktur yang menjadi salah satu kekuatan utama ekonomi negara tersebut. Pemerintah daerah bahkan menawarkan pendanaan dan biaya sewa yang lebih rendah untuk menarik perusahaan teknologi agar mengembangkan bisnisnya.
Dorongan tersebut membuat AI gak hanya berkembang di laboratorium perusahaan teknologi, tapi mulai masuk ke aktivitas bisnis sehari-hari. Pabrik-pabrik juga didorong untuk mengubah proses produksi agar dapat memanfaatkan teknologi AI. Perwakilan Black Lake Technologies menjelaskan bahwa pelaku industri memang memperhatikan aspek keamanan dan kendali AI, tapi perhatian mereka lebih banyak diarahkan pada persoalan operasional. Bagi perusahaan manufaktur, pertanyaan pentingnya adalah apakah AI bisa bekerja secara konsisten dan dapat diandalkan.
4. Masyarakat China sudah terbiasa menggunakan teknologi digital

ilustrasi pelajar sekolah di China (pexels.com/kimmi jun) Perbedaan cara pandang terhadap AI juga bisa dilihat dari kehidupan sehari-hari masyarakat China. Negara tersebut sudah memiliki tingkat digitalisasi yang tinggi, sementara pembahasan mengenai privasi data secara tradisional gak sekuat di sejumlah negara Barat. Situasi ini membuat adopsi teknologi digital, termasuk AI, berlangsung cukup luas dalam berbagai aktivitas masyarakat.
Ni Tao, pendiri sekaligus editor teknologi Yangtzeer, menjelaskan bahwa banyak masyarakat China melihat AI sebagai alat yang sudah berguna dalam kehidupan sehari-hari, bukan sekadar ancaman abstrak di masa depan. Kekhawatiran terhadap hilangnya pekerjaan dan penyebaran misinformasi tetap ada, tapi berjalan bersamaan dengan keyakinan bahwa China harus menguasai AI. Karena itu, pendekatan yang muncul bukan menghentikan perkembangannya, melainkan belajar hidup dengan teknologi tersebut sambil mengelola risikonya.
5. China punya pendekatan regulasi yang terus berubah

ilustrasi China atau Tiongkok (pexels.com/Abderrahmane Habibi) China sebenarnya sudah membangun sejumlah aturan untuk mengawasi perkembangan AI. Negara tersebut telah memiliki sistem pendaftaran algoritma sejak 2022 dan mulai mengarahkan perhatian pada bagaimana AI bertindak, bukan hanya pada apa yang dikatakannya. Tahun ini, Beijing juga mengeluarkan aturan nasional yang berkaitan dengan upaya membatasi ketergantungan emosional terhadap AI pendamping.
Leia Wang dari Carnegie Endowment for International Peace menilai regulasi China memiliki sifat iteratif karena pemerintah dapat dengan cepat menyesuaikan aturan ketika teknologi baru muncul. Namun, ia juga mencatat bahwa perusahaan China melakukan pemantauan dan evaluasi sukarela lebih sedikit dibandingkan perusahaan AS. Artinya, China memiliki mekanisme regulasi yang aktif, tapi pendekatan tersebut tetap memiliki tantangan ketika berhadapan dengan risiko AI yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Pada akhirnya, penolakan China terhadap seruan untuk memperlambat pengembangan AI gak bisa dipahami sebagai sikap bahwa semua risiko AI dianggap sepele. Beijing justru terlihat berusaha mencari keseimbangan antara keselamatan, kendali negara, dan kebutuhan untuk tetap mengembangkan teknologi. AI sudah diposisikan sebagai bagian penting dari strategi ekonomi dan kemampuan strategis China, sehingga memperlambatnya dapat dianggap berisiko bagi posisi negara tersebut dalam persaingan teknologi global.
Bagi kamu yang mengikuti perkembangan AI, perbedaan pendekatan China dan AS ini menunjukkan bahwa perdebatan soal masa depan AI bukan hanya tentang seberapa cepat teknologinya berkembang, tapi juga tentang siapa yang menentukan batas dan aturan perkembangannya.
![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)





















